Santri dan Budaya Mengantre
Cari Berita

Advertisement

Santri dan Budaya Mengantre

Duta Islam #02
Kamis, 11 Juli 2019

Salah satu sudut bangunan Ponpes Al-Fadlu, Kaliwungu, Kendal. (Foto: saif569.wordpress.com)
Oleh Zaim Ahya'

DutaIslam.Com - Tadi pagi, penulis buku Manusia Rohani dan pengampu ngaji Ihya online Mas Ulil Abshor Abdalla bercerita lewat akun Facebooknya tentang budaya antre di era Faraj al-Hajjam yang terekam dalam Kitab al-Hayawan karya al-Jahidz (w. 868). Dari rekaman itu, Mas Ulil mengatakan, peradaban Islam klasik sudah mengenal budaya antre, sementara budaya antre merupakan hal yang langka di sebagian negara-negara Muslim saat ini.

Baca: Membaca Syarah Hikam Kiai Ulil Abshar Abdalla

Membaca status Facebook Mas Ulil, mengingatkan penulis pada budaya antre yang masih lestari di sebuah pesantren di salah satu sudut kota santri Kaliwungu Kendal.

Di kompleks lama, terdapat kamar mandi + WC berjumlah empat, di tambah empat tempat khusus buang air kecil, dan kolam besar untuk mencuci.

Tak ada tulisan budayakan mengantre atau ancaman hukuman bagi yang tak antre di dinding luarnya. Namun, santri yang datang belakangan, dengan sendirinya mengantre, tak mendahului santri yang datang lebih dulu, apalagi menyerobot.

Cara antre santri-santri Alfadllu mungkin juga berbeda dengan cara mengantre pada umumnya. Dari empat kamar mandi itu, yang terjadi tidak mengantre per kamar. Empat kamar mandi itu menjadi satu kesatuan.

Misalnya, santri yang datang lebih dulu, walaupun ia mengantrenya di depan kamar mandi nomor empat, namun jika kamar mandi nomor satu terbuka lebih dulu, maka santri tersebut berhak memasukinya.

Kelebihan budaya semacam ini  terasa lebih adil. Karena jika mengantre per kamar, bisa jadi santri yang mengantre lebih dulu akan menjadi paling akhir, karena kamar mandi yang di depannya tak kunjung terbuka.

Tapi, ada momen darurat di mana santri "melanggar" antre, namun bukan dengan mendesak dan menyerobot, tapi dengan komunikasi. Momen ini terjadi saat santri yang datang terakhir ini sudah tak tahan dalam hajatnya, atau menderita sakit.

Budaya antre ini juga "dilanggar" bahkan oleh santri yang paling dulu datang, yakni saat ada tamu yang punya hajat. Ada sebuah "ajaran" turun temurun untuk mendahulukan tamu, sebagai bentuk memuliakannya.

Di Alfadllu, kamar mandi santri dan ustaz itu satu tempat, jadi kadang saat ada ustaz yang mengantre, santri mempersilahkannya lebih dahulu. “Monggo pak, rien (silakan, dahulu pak)” kata santri sebagai bentuk takzimnya. Namun, walaupun sudah dipersilahkan, ustaz tak selalu mau, dan kadang memilih mengantre, kecuali mendesak.

Tampaknya budaya antre di Alfadllu sudah menjadi semacam nalar yang terbentuk – dengan meminjam istilah al-Jabiri, semoga tidak memaksakan istilah ini – yang nalar pembentuknya adalah santri-santri pendahulu yang nyambung dengan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Alfadllu: Kiai Haji Dimyati Rois. [dutaislam.com/gg]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah