Penjelasan Tentang Tasyabbuh di Nusantara
Cari Berita

Advertisement

Penjelasan Tentang Tasyabbuh di Nusantara

Duta Islam #07
Selasa, 09 Juli 2019

Pengertian tasyabbuh dalam islam
Penjelasan tentang tasyabbuh. Foto: istimewa
Sebagain orang yang baru belajar agama di Indonesia, banyak sekali orang menyalahkan umat Islam yang menjalankan beberapa tradisi Islam Nusantara.

DutaIslam.Com - Sebelum kita memahami tasyabbuh lebih panjang dan lebar, seharusnya kita harus tahu apa itu tasyabuh terlebih dahulu. Beberapa istilah definisi tasyabbuh di bawah ini sudah dijelaskan, diantaranya:

a) Definisi Imam Muhammad Al Ghozi Asy Syafi'i "tasyabbuh adalah ungkapan yang menunjukkan upaya manusia untuk menyerupakan dirinya dengan sesuatu yang diinginkan dirinya serupa dengannya dalam hal tingkah laku, pakaian, atau sifat-sifatnya. Jadi tasyabbuh adalah ungkapan tentang tingkah yang dibuat-buat yang diinginkan dan dilakukanya.

b) Al Manawi ketika menjelaskan hadits, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka, yakni tekstualnya adalah berdandan sebagaimana dandanan mereka, berusaha bertingkah laku sesuai perbuatan mereka, berakhlak dengan akhlak mereka, berjalan pada jalan mereka, mengikuti mereka berkenaan dengan pakaian dan sebagian perbuatan, yakni tasyabbuh yang sesungguhnya adalah dengan yang diinginkan berkenaan dengan aspek lahir maupun batin.

Baca: Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir?

Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang nyata antara definisi tasyabbuh secara bahasa dengan definisi secara istilah. Sehingga yang dimaksud dengan tasyabbuh  adalah penyerupaan terhadap orang-orang kafir dengan seluruh jenisnya dalam hal aqidah atau ibadah atau adat atau cara hidup yang merupakan kekhususan mereka (orang-orang kafir).

Tasyabbuh yang diharamkan dalam agama itu syaratnya ada dua:

1. Perbuatan tasyabbuh harus perbuatan tercela dalam kacamata agama. Maksudnya, melakukan sesuatu yang menyerupai orang kafir atau kaum musyrikin.

2. Orang yang melakukan memang hanya bertujuan tasyabbuh.

Ada dua macam menyerupai orang kafir: Haram dan Halal

Serupa yang haram yaitu melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan dari agama tertentu atau terkait dengan agama tersebut. Misalnya, masalah ritual suatu agama seperti misa di gereja atau sembahyang di Budha, dan lain sebagainya.

Menyerupai orang kafir yang halal adalah melakukan sesuatu yang bersifat perkara duniawi yang dilakukan oleh orang kafir tapi ia melakukannya bukan karena ajaran agamanya tapi karena hal itu sudah menjadi tradisi suku atau bangsanya. Kebolehannya ada tiga syarat: (a) Perkara duniawi ini tidak menjadi kekhususan orang kafir; (b) Tidak berlawanan dengan syariah; (c) Mengandung unsur manfaat; dan tidak ada faktor negatif di dalamnya.

Pengertian Tasyabbuh dalam Islam


Abdul Majid Sulaim, mufti Mesir, dalam kumpulan fatwa Darul Ifta Al-Mishriyah menyatakan:

ومن أجل ذلك قال صاحب البحر ما نصه ثم أعلم أن التشبه بأهل الكتاب لا يكره فى كل شىء فإننا نأكل ونشرب كما يفعلون إنما الحرام هو التشبه فيما كان مذموما وفيما يقصد به التشبه كذا ذكره قاضي خان فى شرح الجامع الصغير.

Artinya:
Ibnu Abidin dalam Al-Bahr Al-Roiq Syarah Kanz Al-Daqaiq, hlm. 2/28, menyatakan: Menyerupai Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) itu tidak makruh alias boleh dalam segala hal. Faktanya, kita makan dan minum seperti mereka. Yang haram itu menyerupai dalam hal yang tercela dan dalam hal yang dimaksudkan untuk menyerupai. Begitu pendapat yang disebut Qadhi Khan dalam Syarah Al-Jamik Al-Shaghir.ja untuk meniru.

Baca: Apakah Berdzikir Menggunakan Tasbih Menyerupai Hindu?

Orang yang tahlilan, tidak ada yang bertujuan tasyabbuh dengan Hindu. Lagi pula, orang Hindu dijamin tidak ada yang tahlilan. Demikian pula tradisi-tradisi yang lain di Nusantara. dengan alasan tradisi tersebut menyerupai atau tasyabbuh dengan orang-orang Hindu itu tidak berdasar.

Demikian sebagian kecil dari bentuk-bentuk tasyabbuh dalam masalah ibadah. Tentunya masih banyak lagi yang belum disebutkan satu persatu disini. Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang teguh dengan ajaran Islam rahmatan lil 'alamin, bangga dengan Islam dan diselamatkan dari segala bentuk-bentuk tasyabbuh dengan orang kafir baik dalam masalah ibadah, pakaian, sifat, tingkah laku, dan lain sebagainya. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini