Para Mantan yang Menyesatkan Kiai dan Menuduh Menuhankan Kiai
Cari Berita

Advertisement

Para Mantan yang Menyesatkan Kiai dan Menuduh Menuhankan Kiai

Duta Islam #02
Selasa, 16 Juli 2019

Buku sesat menyesatkan.
Oleh Ainur Rofiq Al Amin

DutaIslam.Com - Kapan hari saya menulis di medsos bahwa para pengikut mantan alias eks-HTI "menyerang" Ansor, ternyata ada buku terbitan 2019 yang judulnya langsung memakai diksi kiai, yakni, "KETIKA KIAI DIPERTUHANKAN". Beberapa tahun sebelumnya seseorang bernama Mahrus Ali yang mengaku mantan kiai NU dan beralih ke kelompok tukang stempel syirik dan bid'ah menulis buku "MEMBONGKAR KESESESATAN KIAI-KIAI PEMBELA BID'AH HASANAH".

Klop sudah upaya "obok-obok" dan menyerang amalan NU dan tokoh NU.

Baru saja saya membaca buku Robin Bush yang berjudul "Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia" (2009). Di antara isinya menjelaskan latar belakang kelahiran NU karena para ulama tradisionalis merasa terancam oleh gelombang modernisme dan reformisme yang melanda dunia Muslim. Mereka bersatu menjadi sebuah organisasi untuk melindungi ritual dan praktik tradisional yang mereka ikuti.

Sebetulnya tidak hanya Robin Bush saja yang menyatakan seperti itu, Anda kalau menggeluti studi tentang NU akan menemukan paparan yang mirip dengan statemen Robin Bush (kalau di buku "Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah" dijelaskan adanya dua tujuan berdirinya NU, yakni upaya mencapai kemerdekaan (kebebasan) beribadah dan beramaliah, juga upaya meraih kemerdekaan Indonesia).

Rasa-rasanya saat ini ada kemiripan sejarah walau tidak benar-benar sama. Adanya beberapa kelompok yang disebut radikal dan puritan over (baca FB lawas saya) sedang melakukan hal di atas.

Saya belum baca buku pengikut eks-HTI, Irkham Fahmi al Anjatani ini, saya baca sinopsisnya saja. Bisa jadi isinya datar atau malah gak berbobot, tapi judul yang dipilih dengan diksi "kiai" pasti sudah bisa dirasa nuansa dan arahnya. Saat ini, kalau disebut kiai ya mengacu ke ulama NU.

Berbeda kalau judulnya "MENUHANKAN ULAMA", ini "aromanya" pasti beda. Atau malah asyik kalau judulnya "MENUHANKAN MUSYRIF" atau "MENUHANKAN TOKOH KHILAFAH". Hal ini akan menjadi otokritik bagi para pecinta setengah mati thd HTI. Tapi karena memang punya tujuan lain, maka si penulis memakai diksi "kiai", dan memang itu haknya, sebagaimana hak saya untuk ganti menjawabnya.

Asal tahu saja, hampir banyak gagasan para tokoh penting Hizbut Tahrir yang menjadi panduan wajib diikuti bagi pengikutnya dan berdosa bila melanggarnya. Tidak hanya itu, bagi anggota HTI, keluar dari organisasi politik Hizbut Tahrir adalah berdosa. Bahkan bila ada muslim tidak bergabung dengan HTI untuk menegakkan khilafah, maka si muslim telah bermaksiat terbesar.

Kok segitunya ya? Ya iyalah kan kadung cinta buta! Makanya gagasan seperti itu harus dijawab. Perlu cara jitu utk mematahkan argumennya agar mereka tidak MENUHANKAN GAGASAN KHILAFAH HTI. Buku saya adalah salah satunya yang menjawab dan ini sedang cetak lagi.. Kok promosi? Amfun dech hehehe... [dutaislam.com/gg]

Source: Ainur Rofiq Al Amin, Penulis buku Mematahkan Argumen Hizbut Tahrir.

close
Banner iklan disini