Menunggu Tuduhan Musyrik untuk Jemaah karena Potong Tumpeng Sepulang Haji
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Menunggu Tuduhan Musyrik untuk Jemaah karena Potong Tumpeng Sepulang Haji

Duta Islam #03
Rabu, 10 Juli 2019
Loading...

Pengasuh Pesantren Tebuireng Kiai Salahuddin Wahid didampingi Ibu Nyai Hj. Farida Salahuddin dan Kepala Pondok Putra Ustadz Iskandar memotong tumpeng dalam syukuran haji dan ulang tahun beliau ke-75, Ahad (24/09/2017). Foto: Tebuireng.oline.
DutaIslam.Com - Salah satu pembaca merasa terhibur dengan editorial dutaislam.com berjudul 'Pecah Kendi Rusak Aqidah, Sebegitu Cemenkah Imanmu?" yang tayang 09 Juli 2019. Editorial tersebut menyoroti anggapan sekelompok orang bahwa acara pecah kendi sebelum pelepasan jemaah haji telah merusak aqidah.

Melalui kolom komentar Fanpage Facebook Komunitas Islam Nusantara, pembaca bernama Dariyah Salim hanya tertawa dengan tuduhan tersebut. Dengan menyampaikan doa agar jemaah haji menjadi yang mabrur, Dariyah meminta tenang dan menunggu tuduhan lain terutama setelah kepulangan jemaah haji dari Mekkah.

"Tenang, masih ada kejutan yang di anggap merusak akidah, nanti kalau sudah pulang haji disambut dengan sesaji tumpeng dan ingkung kang Admin," tulis Dariyah ditujukan kepada Admin Fanpage Komunitas Islam Nusantara.

Penelusuran Dutaislam.com, kepulangan jemaah haji di Indonesia memang disambut keluarga dengan beragam cara. Salah satunya dengan acara potong tumpeng atau selamatan ingkung. Misalnya, saat Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) kembali dari tanah suci Mekkah Tahun 2017 silam. Gus Sholah yang datang bersama Ibu Nyai Farida Salahuddin mendapat kejutan dari santri dan pengurus pondok.

Dikuitip dari Tebuireng.online, santri berjajar di depan Dalem Kasepuhan, menyambut Gus Sholah dengan melantunkan shalawat yang dilanjutkan dengan potong tumpeng sebagai simbol syukuran usai menunaikan ibadah haji. Pemotongan tumpeng menjadi simbol dalam penyambutan tersebut.

Di Indonesia, tradisi potong tumpeng, pecah kendi, dan tradisi lain yang serupa bukan perkara baru. Sejak zaman dahulu kala, kebudayaan tersebut menghiasi keberagamaan umat Islam di Indoensia. Mayoritas ulama di Indoensia tidak mempermasalahkan tradisi tersebut. Apalagi jika dianggap dapat merusak aqidah.

Sebaliknya, potong tumpeng dan sejenis tradisi lain memang kerap mendapat serangan dari sekelompok umat Islam.  Siapa? ya orang-orang itu juga yang memahami agama secara literlek dan apa adanya.

Ritual pecah kendi yang berlangsung di Bandara Solo dianggap merusak aqidah oleh mereka. Dan bukan tidak mungkin jika tradisi potong tumpeng dan ingkung selepas jemaah haji pulang dari Mekkah juga akan dituduh merusak akidah.

Maka, kepada para jemaah haji yang akan potong tumpeng pasca kepulangan dari tanah suci, berhati-hatilah. Jangan sampai ketahuan mereka di kelompok sebelah. Karena aqidahmu bakal langsung dianggap rusak walaupun masih pakai jubah karena baru pulang dari Mekkah. [dutaislam.com/pin]


close
Banner iklan disini