Mengurai Benang Kusut Radikalisme di Cirebon
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Mengurai Benang Kusut Radikalisme di Cirebon

Duta Islam #02
Selasa, 30 Juli 2019
Loading...

Ilustrasi: istimewa
Oleh Mamang M Haerudin

DutaIslam.Com - Pada Minggu awal bulan Agustus ini, saya insya Allah akan hadir memenuhi sebuah undangan acara terbatas yang akan membahas berkaitan dengan peta radikalisme di Cirebon. Disadari atau tidak, Cirebon telah menjadi salah satu daerah sasaran empuk penyebaran ideologi radikal. Para pelaku yang berhasil ditangkap aparat keamanan adalah mereka yang berdomisli di Cirebon. Mereka yang terdoktrin ideologi keislaman radikal. Doktrin yang sengaja menggunakan ayat-ayat suci dan hadis Nabi untuk "mencuci otak" mereka sampai menjadi militan dan berani melakukan jihad bom bunuh diri.

Menyeramkan memang. Saya ingin mengurai jejak mereka yang kemudian terperosok pada jurang radikalisme. Yang jelas mereka hampir dapat dipastikan bukan santri Pesantren. Terutama Pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Penyebaran ideologi radikal bisa menyasar siapapun, hanya saja sasaran paling empuk adalah kepada mereka para pelajar, mahasiswa, pengangguran, dan kelompok menengah ke atas yang awam. Cara pencucian otak yang paling jitu adalah dengan doktrinasi ayat dan hadis tentang jihad, perang dan memusuhi non Muslim. Doktrinasi ayat dan hadis bernuansa "panas" itu dipahami secara saklek dan mentah. Seolah-olah zaman sekarang sama persis dengan zaman di mana dulu penuh dengan perang dan berlakunya hukum rimba.

Selain kesalahan atas memahami ayat dan hadis, orang yang tertarik ke dalam ideologi keislaman yang radikal pada umumnya adalah mereka yang mengalami kejenuhan hidup. Ingin menjadi orang yang lebih baik lagi hanya saja mereka tidak sabar. Maunya serba instan. Ingin cepat masuk surga secepat kilat. Seiring dengan hasrat yang menggebu-gebu, gerak-gerik hidupnya mulai aneh. Mulai mengisolir diri dari kehidupan sosial, jauh dari pergaulan tetangga dan bahkan dengan saudara-saudaranya sendiri. Sambil terus mengkonsumi buku-buku bacaan radikal, dari segi berpakaian pun mulai berubah drastis. Mereka meyakini bahwa seiring dengan seruan jihad, maka jihadnya akan semakin sempurna apabila pakaiannya pun disesuaikan dengan pakaian ala Nabi dan masyarakat Arab. Berjubah dan segala aksesoris pendukung lainnya.

Sejurus dengan itu, pekerjaannya kini adalah menghakimi orang. Diri mereka dan kelompoknya sajalah yang benar, sementara yang berlainan dengan keyakinan mereka semuanya salah dan wajib diperangi. Kemudian membenci dan mencaci-maki Pemerintah, tidak mau lagi hormat pada bendera Merah Putih, emoh menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan akan mengganti Pancasila dengan formalisasi syariat (Islam yang dipolitisir untuk kepentingan radikalisme). Berikut memperjuangkan penegakan syariat Islam ke dalam sistem Pemerintahan atau penegakan khilafah Islamiyah.

Berikut beberapa usul saya dalam upaya mengurai benang kusut radikalisme di Cirebon:

Pertama, melakukan sinergi dan upaya bersama antara Pemerintah Kabupaten dan Kota Cirebon, berikut pihak-pihak terkait lainnya, termasuk peran aktif Nahdlatul Ulama di Cirebon. Setelah dipetakan, berlanjut pada strateginya yang berkelanjutan bukan hanya sekadar formalitas dan tambal-sulam. Dari dulu deradikalisasi ini digalakkan akan tetapi hasilnya tidak optimal, itu karena upaya yang dilakukan tidak menyeluruh dan tidak serius. Kedua, setelah berkumpul, bisa dibentuk tim pemberantasan radikalisme yang berasal dari banyak pihak yang terlibat itu. Tim ini akan diberi tugas untuk membuat langkah-langkah konkrit dalam memberantas radikalisme.

Ketiga, tim kemudian menyisir jantung-jantung penyebaran ideologi radikal di Cirebon. Mulai dari lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, ormas-ormas dan lain sebagainya untuk kemudian melakukan ikrar bersama untuk setia pada Pancasila dan NKRI. Keempat, mengadakan pertemuan atau silaturahim yang berkelanjutan dengan semua pihak, berikut juga pengawasan rutin terhadap kantong-kantong penyebaran ideologi radikal.

Kelima, mengenalkan budaya-budaya khas Cirebon di berbagai sektor: lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan dan tempat-tempat lainnya. Keenam, penguatan pada budaya literasi, terutama membaca buku-buku keislaman moderat. Lalu ketujuh, menindak secara tegas siapapun individu dan lembaga yang tidak mengindahkan kesepakatan bersama ini. Bahkan kita--melalui tim tersebut--harus tegas untuk mencabut hak kewarganegaraannya di Indonesia dan mempersilakannya hengkang ke manapuan mereka mau.

Saya meyakini hanya dengan langkah-langkah di atas, penyebaran ideologi keislaman radikal akan semakin berkurang secara signifikan. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya kalau kita benar-benar serius cinta pada Tanah Air Indonesia. Hanya memang itu tadi, karena Cirebon itu luas, maka diperlukan proses dan waktu yang lumayan panjang. Maka kita memerlukan tim pemberantasan radikalisme di tingkat daerah dengan komposisi tim yang juga militan dan serius. Maka nantinya perlu diadakan seleksi ketat berkaitan dengan tim yang akan bertugas. Sebab radikalisme itu virus paling membahayakan yang setara bahkan lebih mengerikan ketimbang korupsi dan penyalahgunaan narkoba.

Mari kita berupaya bersama agar Cirebon terhindar dari bahaya radikalisme. Sebab radikalisme adalah pintu dari terorisme. Dan parahnya lagi, penyebaran ideologi radikal dan kekerasan ini dibalut dengan narasi keislaman. Baik melalui pengajian, pengkaderan, motivasi, dan lain sebagainya. Penyebaran idelogi keislaman zaman kiwari semakin lembut dan pandai memutar-balikkan fakta. Kita yang hendak melawan radikalisme, malah kita yang justru dituding balik pelaku radikal. Jangan aneh, penyebaran idelogi radikal keislaman kini semakin gencar dilakukan di Masjid-masjid dan majelis pengajian. [dutaislam.com/gg]

Loading...