Lipsus CNN: Geliat Penyebaran Hijrah ala Kelompok Salafi di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Lipsus CNN: Geliat Penyebaran Hijrah ala Kelompok Salafi di Indonesia

Duta Islam #03
Selasa, 09 Juli 2019

Ilustrasi Hijrah: Gejala hijrah yang menyebar di generasi muda Islam tak terlepas dari ekspansi gerakan Islamisme transnasional dan post islamisme usai orde baru tumbang. (Foto: REUTERS/Amr Alfiky).
DutaIslam.com - Fenomena hijrah tercatat mulai menjamah masyarakat perkotaan Indonesia sejak 1980-an. Gejala sosial 'untuk menjadi lebih religius' kala itu tak lepas dari ekspansi ragam gerakan Islamisme transnasional yang berasal dari negara lain, di antaranya Salafi, Wahabi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir.

Baca juga: 7 Deretan Ustadz di Balik Geliat Hijrah Anak Muda, Hati-Hati!

Penyebaran pandangan untuk menjadi lebih religius atau hijrah terjadi secara alami di Indonesia. Fenomena itu terbentuk seiring kepulangan para mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi yang umumnya beraliran Salafi.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Rahmat Hidayatullah mengatakan fenomena hijrah di Indonesia baru belakangan riuh di permukaan karena cukup lama tertekan oleh rezim Orde Baru yang tergolong represif terhadap gerakan Islam.


"Gerakan atau harokah keislaman saat itu tidak bisa mengartikulasikan gagasan dan perlawanannya ke publik," ujar Rahmat kepada CNNIndonesia.com di kampus UIN Jakarta, beberapa waktu lalu.

Rahmat mengatakan begitu banyak mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Saudi pada medio 1980-an. Mereka menyerap pandangan dan budaya setempat lalu mendakwahkan kembali sepulang ke Indonesia. Itu dilakukan atas keinginan sendiri atau merasa sebagai kewajiban seorang muslim.

Baca juga: Jangan Salah Sangka! Bukan GP Ansor yang Batalkan Ceramah Hanan Attaki di Tegal, Ini Duduk Perkaranya

Di luar itu ada pula yang berdakwah untuk menjalankan misi dan dibiayai. Rahmat memberi contoh pemerintah Arab Saudi yang mengorganisir penyebaran paham Salafi ke Indonesia.

"Saudi juga secara intensif membiayai kader mereka yang ada di Indonesia. Di Indonesia misalnya dia melalui LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Mampang, Pejaten," kata Rahmat.

Menjamah Masyarakat Perkotaan
Penyebaran paham untuk menjadi lebih religius cenderung berkutat di wilayah perkotaan. Mereka belakangan berani muncul untuk berdakwah di ruang publik.

Setelah Indonesia memasuki reformasi, para penyebar hijrah mulai masuk ke wilayah strategis, seperti sekolah dan yayasan, tempat tahfidz dan tahsin quran, percetakan buku, membentuk ajang Islamic Book Fair, hingga membuat TV dan Radio di Indonesia.

Rahmat mengatakan gaya tersebut berbeda dengan pemuka agama dari organisasi konvensional semacam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

"Mereka kalau tidak didatangi sama jemaah, ya jarang bersuara. Ini juga jadi evaluasi bagi NU dan Muhammadiyah," kata Rahmat.

Baca juga: Daftar Ulama Wahabi, Dalam Maupun Luar Negeri yang Wajib Dijauhi

Para penyebar salafi terdukung oleh generasi yang sangat memahami teori komunikasi, terutama dalam hal mengajak orang ikut bergabung dengan kelompoknya.

Ajakan-ajakan di media sosial, misalnya, dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian kalangan milenial dengan gaya pendekatan anak muda.

"Kelompok Islamis ini urban genius. Sejak awal mereka paham pasar dan cara treatment-nya. Mereka tahu betul packaging is everything," kata Rahmat.

Dosen UIN Jakarta dan pengajar hadits di Pesantren Darus-Sunnah Ciputat, Dr Arrazy Hasyim mengatakan ajaran untuk lebih taat beragama, terutama Salafi, bisa tumbuh subur karena Indonesia sejak memasuki reformasi telah menjelma negara demokrasi yang lebih bebas dari Saudi Arabia.

"Mereka juga tidak pernah melakukan provokasi seperti negara atau polisi toghut, ataupun melawan pemerintah, jadi makin dapat tempat dan bisa ceramah dan dakwah apa aja," ujar Arrazy.

Dalam kamus bahasa Arab Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur, Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan.

Sementara istilah Salafiyah dikaitkan dengan metode beragama atau manhaj yang puritan, tapi bukan menciptakan sebuah mazhab baru dalam Islam.

Salafi biasanya dihubungkan dengan al-salaf al-shalih; orang-orang terdahulu yang menjadikan Alquran dan hadits sebagai sumber hukum islam. Rujukannya adalah pada umat Islam generasi awal yang disebut oleh Nabi Muhammad sebagai umat terbaik.

Salaf al-shalih adalah generasi yang cinta damai bahkan cenderung menjauh dari pertikaian politik, serta fokus pada gerakan mengajak seluruh umat Islam kembali kepada dasar hukum Islam yang murni, yaitu Alquran dan Sunnah.

Pada zaman modern, salafi dikaitkan dengan aliran pemikiran yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang dibawa Rasulullah dan perintah Alquran secara literal dari berbagai hal yang bid'ah (tidak dilakukan Rasul), khurafat, dan syirik dalam Islam. Salah satu rujukan utama kaum salafi adalah mazhab Ahmad bin Hambali atau Hambali.

Salafi menurut  Arrazy terbagi dua, yakni salafi murni yang fokus pada ajaran akidah dan fikih serta salafi yang jihadi (bergerak seperti Ikhwanul Muslimim).

Belakangan Salafi murni semakin banyak diterima masyarakat Indonesia, khususnya anak muda yang hijrah. Karena salafi bagi mereka mengajarkan Islam secara hitam-putih, bukan ambigu dan tidak berputar-putar. Jumlah pengikut dalam komunitas Salafi pun terus berkembang seiring perjalanan.

"Jumlahnya saat ini masih terbilang belum besar, tapi penyebaran Salafi yang bisa dibilang minoritas itu suaranya lebih nyaring, mereka akan terus show up lewat media sosial dan akhirnya dilirik. Mereka sekarang gunakan medsos karena beberapa kajian di masjid pernah dibubarkan," ujar Arrazy.

Komoditas Produk Syariah
Peneliti Middle Class Institute Yuswohady mengatakan bahwa pandangan untuk berhijrah sudah lama didakwahkan di Indonesia dengan mengedepankan aspek tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Belakangan strategi penyebaran dakwah melalui media sosial dimanfaatkan untuk menyasar generasi muda yang hidup di era digital. Strategi komunikasi ala milenial itu terbukti mujarab. Kini begitu banyak anak muda yang memutuskan untuk berhijrah mengubah gaya hidup, baik dari segi aspek keimanan maupun penampilan.

Yuswohady mencermati bagaimana penyebaran dakwah lewat media sosial meningkat seiring dengan menjamurnya iklan produk atau jasa yang bernuansa Islami kurun 10 tahun terakhir.

Produk kosmetik halal dan hotel syariah, misalnya, kerap diiklankan dengan menyertakan figur berbusana Islami, seperti perempuan mengenakan hijab dan berpakaian tertutup.

"Dulu kalau sinetron, pakai hijab takutnya wah ini radikal. Sekarang justru dianggap keren. Value-nya naik," ucap Yuswohady.

Gaya berkomunikasi lewat iklan itu turut mendorong para kelompok yang selama ini menyebarkan pandangan untuk berhijrah menjadi semakin berani tampil ke permukaan.

Ajakan dikemas semenarik mungkin karena memang kalangan muda yang diincar. Ceramah-ceramah juga turut ditayangkan di media sosial. Penetrasi ke benak anak-anak muda dimulai dari sana.

"Kalau zaman dulu kaya Zainudin MZ harus di lapangan. Sejuta umat yang hadir. Tetapi sekarang ustaz yang menggunakan Instagram itu punya nilai lebih ketimbang ustaz yang kumpulnya di lapangan," ucap Yuswohady.

Penyebaran ajakan hijrah di media sosial semakin ampuh atas kehadiran influencer --yang punya peranan penting terutama ketika artis atau figur publik yang dijadikan ikon.

Masyarakat khususnya di daerah perkotaan yang lekat dengan media sosial dengan cepat bisa mengetahui perkembangan informasi ketika ada publik figur yang mengubah gaya hidup dan penampilannya.

Setelah itu mereka tergugah untuk mencari tahu alasan orang lain berhijrah. Terlebih jika publik figur yang menjadi Islami masih tergolong muda, menarik, dan punya banyak fans. Yuswohady mengatakan penyebaran info secara instan itu adalah konsekuensi mutlak dari era media sosial yang mengandalkan jaringan pertemanan.

"Teman-temannya yang melihat merasa temannya lebih cantik, jadi kepengen juga. Terus terus begitu. Itulah yang membuat lifestyle itu kemudian cepat mewabah," kata Yuswohady.

Post Islamisme Usai Orde Baru
Sosiolog Monash University, Australia, Ariel Heryanto mengatakan bahwa pandangan untuk berhijrah sebetulnya tidak sebatas disebarkan di perkotaan. Pedesaan juga menjadi wilayah yang menjadi target namun dengan siasat berbeda.

"Di daerah pedesaan tidak pakai slogan, atau istilah sama seperti yang di perkotaan. Di pusat-pusat perkotaan itu ada unsur 'modal besar' yang ikut bermain dalam gejolak dan penampilan atau ungkapannya," ucap Ariel kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Lewat buku Identitas dan Kenikmatan Ariel mencatat banyak pengamat yang menilai kebangkitan Islamisasi dalam budaya populer semata kasus komersialisasi kehidupan kaum muslim dan komodifikasi simbol agama.

Dalam pandangan mereka ini terkandung kesan bahwa Islam berhasil dijinakkan oleh kapitalisme global dan dijadikan objek memanjakan diri para konsumen. Sementara pandangan yang bertolak belakang melihat fenomena yang sama sebagai kejayaan Islamisasi dalam menaklukkan Islam atau industri yang sekuler.

Lepas dari perdebatan itu, Ariel lebih sepakat dengan wacana bahwa ketaatan beragama menemukan perwujudan dalam menanggapi pasar yang sedang tumbuh bagi revitalisasi dan gaya hidup Islami ketimbang perdebatan Islamisasi versus komersialisasi.

Pada 1970 hingga 1980-an, Ariel mengenang cara Soeharto melakukan penindasan segala bentuk aktivisme Islam seperti menghukum perempuan yang menggunakan jilbab di sekolah negeri.

Namun proses Islamisasi semakin terbuka setelah dua dekade kemudian, sejumlah provinsi di Indonesia memperkenalkan hukum syariah yang justru bisa menerapkan hukuman pada siswi yang tak berjilbab.

Pencabutan batas-batas politik terhadap Islam yang dipaksakan di Orde Baru itu memunculkan era baru dalam kehidupan publik di Indonesia, terutama kaum mudanya. Ketaatan beragama dan modernitas sama menariknya dan tak selalu bertentangan.

Muslim generasi baru berhasil menemukan cara untuk mendamaikan hal-hal yang secara tradisional dipandang bertolak belakang, yang membuat mereka mampu terlibat dengan agama dan budaya populer secara bermakna dan sungguh-sungguh. Kaum muslim muda berusaha untuk lebih proaktif di dunia modern tanpa melepaskan keimanan dan unsur syar'i.

Ariel melihat fenomena hijrah yang didominasi muslim generasi muda sebagai perwujudan Post Islamisme bisa menjadi gejala sosial yang potensial membentuk perubahan yang lebih besar.

"Tapi itu baru potensi. Apakah nantinya benar-benar bisa menjelma menjadi lebih besar, ia bergantung pada banyak faktor lain di luar dirinya," kata Ariel.

Faktor-faktor lain itu yang membuat Ariel juga belum bisa memastikan fenomena hijrah ini akan berlangsung langgeng. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Berita sepenuhnya disadur dari CNNIndonesia.com dengan judul 'Geliat Penyebaran Hijrah ala Salafi di Indonesia'.


close
Banner iklan disini