Kisah Mbah Kholil Bangkalan Usir Santri yang Ingin Ngaji karena Petunjuk dari Mimpi
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Kisah Mbah Kholil Bangkalan Usir Santri yang Ingin Ngaji karena Petunjuk dari Mimpi

Duta Islam #03
Jumat, 19 Juli 2019
Loading...

KIai Kholil Bangkalan. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Moh Rowi Mancengan Modung Bangkalan merupakan salah satu santri Syaikhona Kholil al-Bangkalani atau Kiai Kholil (1820-1923 M) yang beruntung. Dari seorang ulama kharismatik dari Pulau Madura, Jawa Timur, Moh Rowi mendapatkan Kitab Alfiyah yang dikarang sendiri oleh Sang Guru.

Moh. Rowi muda awalnya mondok di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Kesehariannya beliau sibukkan dengan mengaji berbagai macam kitab. Selain itu, beliau juga sering bertapa di waktu malam. Tempat pertapaannya agak aneh karena beliau selalu berendam di sungai yang ada di samping pondok, sambil berdzikir secara terus-menerus sampai Subuh menjelang.

Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Berguru Kepada Sayid Abu Dzarrin yang Sudah Wafat

Suatu ketika di malam yang gelap dan dingin, beliau turun ke sungai seperti biasanya, berendam sambil berdzikir tiada henti. Dalam kekhusyu’annya, tiba-tiba beliau tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu, beliau bertemu dengan seseorang berpakaian putih serta berwibawa, di atas sebuah bukit orang itu berkata, “Kalau kamu ingin alim ilmu Nahwu, datanglah ke pondok Demangan, belajarlah kepadaku!”.

Moh. Rowi terbangun dari tidurnya, sekujur tubuhnya yang dingin kemudian terasa hangat dan gemetar. Segeralah beliau naik ke darat dan kembali ke kamarnya di pondok, sampai menjelang Subuh, Moh. Rowi sama sekali tidak bisa memejamkan matanya karena mimpi yang baru dialaminya terus membuatnya berpikir apa yang harus dilakukannya.

Setelah berpikir lama, beliau akhirnya memutuskan untuk memenuhi perintah orang berwibawa itu yang dilihatnya dalam mimpi.

Baca juga: Kisah Kiai Hasyim Menguras WC Demi Cincin Nyai Kholil

Keesokan harinya, Moh. Rowi segera sowan kepada KH. Ya’qub (Pegasuh Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo saat itu) dan menceritakan mimpi yang dialaminya. Mendengar penuturan santri yang disayanginya itu, KH. Ya’qub langsung memerintahkan untuk segera melaksanakan petunjuk dalam mimpi itu.

Setelah mendapatkan izin dari gurunya, Moh. Rowi segera menuju ke Demangan Bangkalan, tanpa pulang dulu ke rumahnya di Mancengan Modung. Sebelum ke pondok Demangan, dia mampir dulu ke rumah familinya yang ada di Bangkalan untuk sekadar membersihkan tubuhnya dan melakukan persiapan untuk berangkat menuju Pondok Demangan.

Setelah sampai di pondok Demangan, Moh. Rowi segera sowan kepada Syaikhona Kholil. Namun belum sempat menyampaikan tujuannya untuk mondok, tiba-tiba Syaikhona Kholil langsung mengusirnya. Moh. Rowi langsung keluar karena ketakutan yang luar biasa.

Tetapi dia sadar, bahwa ini adalah cara Syaikhona Kholil untuk menguji kesungguhannya untuk mengaji dalam menuntut ilmu. Keesokan harinya dia kembali sowan lagi, namun Syaikhona Kholil kembali mengusirnya, begitu seterusnya sampai beberapa hari.

Moh. Rowi dengan sabar menerima ujian ini, sehingga dia tidak berani lagi untuk sowan. Moh. Rowi bingung dan hanya bisa menunggu dan menunggu di luar komplek pesantren Demangan.

Tibalah di hari keempat, Syaikhona Kholil memerintahkan salah satu santri untuk mencari Moh. Rowi dan membawanya ke rumah beliau. Bukan main gembiranya Moh. Rowi, segera saja dia langsung sowan kepada Syaikhona Kholil. Sesampainya di rumah, Syaikhona menanyakan maksud kedatangannya ke pondok Demangan dan dengan penuh ta’dzhim Moh. Rowi menyampaikan keinginannya untuk mengaji kepada beliau.

Syaikhona Kholil kemudian berkata, “Saya menulis Kitab Alfiyah dan akan saya jual sama kamu, ayo tawar harganya.”

Tentu saja Moh. Rowi gembira luar biasa, tapi dia bingung mau menawar berapa karena Syaikhona Kholil tidak menyebutkan berapa harganya.

Namun karena diperintah oleh beliau, Moh. Rowi akhirnya berani mengajukan tawaran 100 duit sen. “Itu terlalu mahal, turunkan lagi,” minta Syaikhona Kholil. Kemudian diturunkan 20, namun ditolak, diturunkan lagi 20-20, sampai akhirnya tinggal 20 duit sen dan disetujui oleh Syaikhona Kholil.

Baca juga: Yang Terjadi Saat Mbah Khalil Bangkalan Berguru Hadits Kepada Kiai Hasyim Asy'ari

Setelah mendapatkan Kitab Alfiyah tulisan tangan sang guru, Moh. Rowi gembira tiada tara. Tiap waktu kitab itu selalu dibaca dan dipelajarinya, sampai menghafal seluruh isinya. Mengetahui hal tersebut, teman-teman santrinya berebutan untuk meminjamnya, sehingga kitab itu kemudian berpindah dari satu tangan santri ke tangan santri lainnya.

Hal ini ternyata diketahui oleh Syaichona Moh. Cholil hingga suatu ketika beliau mendatangi kamar Moh. Rowi dan menanyakan tantang Kitab Alfiyah-nya. Dengan badan gemetar Moh. Rowi menyampaikan bahwa kitab itu dipinjam oleh teman-teman santri yang lain.

Syaikhona Kholil marah dan menyuruh Moh. Rowi untuk segera mengambil kembali kitabnya. Setelah kitab itu diambil dari temannya, segera kitab Alfiyah itu dihaturkan oleh Moh. Rowi kepada Sang Guru dan kemudian Syaikhona Kholil menulis di bagian sampul Kitab Alfiyah itu:

الا يا مستعير الكتب دعني فان اعارتي للكتب عار


فمحبوبي من الدنيا كتابي فهل ابصرت محبوبا يعار

Ketika dikitab itu terdapat tulisan tangan oleh Syaikhona Kholil, para santri tidak ada lagi yang berani meminjamnya.

Setelah mengaji kepada Syaikhona Kholil dengan Kitab Alfiyah-nya, Moh. Rowi menjadi seorang yang alim ilmu nahwu, hafal seluruh isinya dari awal sampai akhir, bahkan konon beliau juga bisa menghafal sekalipun di balik dari bagian belakang ke bagian depan, persis seperti mimpi yang dialaminya waktu bertapa berendam di sungai Panji.

Setelah KH. Moh. Rowi wafat, kitab Alfiyah tersebut diwariskan kepada putra tertuanya KH. Tolhah Rowi yang juga merupakan santri Syaikhona Kholil. KH. Tholhah inilah yang mendampingi Syaikhona Kholil ketika menjelang detik-detik wafatnya beliau.

Dari KH. Tholhah, kitab tersebut diwariskan kepada putranya KH. A. Shidiq Muslim dan kini diwariskan kepada Lora Ahmad Rowi Shidiq Muslim.

Kitab tersebut sudah berusia 122 tahun lebih yang (terhitung dari tahun yang ditulis dibagian belakang kitab) dan kondisinya masih utuh dan tersimpan rapi di pondok Pesantren At-Tholhawiyyah Sumur Nangka Modung Bangkalan. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Disadur dari Okezone.com dengan judul asli "Kisah Moh Rowi yang Ditolak Nyantri oleh Syaikhona Kholil Berkali-kali".

Loading...