Ini Pendapat Ulama yang Memperbolehkan Wanita Haid Membaca al-Quran
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Ini Pendapat Ulama yang Memperbolehkan Wanita Haid Membaca al-Quran

Duta Islam #04
Senin, 15 Juli 2019
Loading...

Penjelasan ulama madzhab maliki yang memperbolehkan wanita haid membaca al-Quran (sumber: istimewa)
Jumhur ulama menilai wanita yang sedang haid diharamkan membaca al-Quran. Keharaman itu berlaku bagi wanita haid yang membacanya biqoshdi al-Quran.

DutaIslam.Com - Namun, ada beberapa ulama yang memperbolehkan wanita haid untuk membaca al-Quran secara mutlak. Artinya, meskipun ia membacanya diniatkan qosdhu al-Quran atau tidak, ada kekhawatiran lupa dengan hafalannya ataupun tidak.

Di antara ulama yang mengatakan diperbolehkan membaca al-Quran saat haid adalah ulama Madzhab Maliki. Ulama madzhab ini membatasi kebolehan tersebut sampai masa haidnya selesai. Jadi, jika seorang wanita haidnya telah selesai, maka ia haram membaca al-Quran hingga dirinya telah suci dari hadasnya tersebut dengan mandi jinabat.

Baca: Hukum Wanita Haid Membaca Al-Quran Menurut Madzhab Hanbali

Di kalangan Madzhab Maliki, pendapat yang memperbolehkan membaca al-Quran bagi wanita yang haid secara mutlak adalah pendapat yang mu'tamad. Sedangkan pendapat yang memperbolehkan dengan syarat sebagaimana ulama madzhab lain merupakan pendapat yang lemah di kalangan madzhab ini.

Dalam kitab Hasyiyah ad-Dasuki, Imam Dasuki mengatakan bahwa pendapat yang mengharamkan wanita haid membaca al-Quran merupakan pendapat yang lemah. Pendapat yang mu'tamad adalah diperbolehkan wanita dalam masa haid membaca al-Quran secara umum.

وَكَذَا لا تُمْنَعُ الْقِرَاءَةَ بَعْدَ انْقِطَاعِهِ ( قَوْلُهُ : إلا أَنْ تَكُونَ مُتَلَبِّسَةً بِجَنَابَةٍ قَبْلَهُ فَلا يَجُوزُ ) حَاصِلُ كَلامِهِ أَنَّ الْمَرْأَةَ إذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْلَ الْحَيْضِ فَإِنْ كَانَتْ جُنُبًا قَبْلَهُ فَلا يَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ وَقَدْ تَبِعَ الشَّارِحُ فِي ذَلِكَ عبق وَجَعَلَهُ الْمَذْهَبَ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَالْمُعْتَمَدُ مَا قَالَهُ عَبْدُ الْحَقِّ وَهُوَ أَنَّ الْحَائِضَ إذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا لا تَقْرَأُ حَتَّى تَغْتَسِلَ جُنُبًا كَانَتْ أَوْ لا إلا أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ كَمَا أَنَّ الْمُعْتَمَدَ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَالَ اسْتِرْسَالِ الدَّمِ عَلَيْهَا كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لا خَافَتْ النِّسْيَانَ أَمْ لا كَمَا صَدَّرَ بِهِ ابْنُ رُشْدٍ فِي الْمُقَدِّمَاتِ وَصَوَّبَهُ

"Ketika darah haid telah berhenti maka diperbolehkan baginya membaca al-Quran dengan syarat tidak dalam keadaan junub sebelum datangnya haid. Jika dalam keadaan junub, maka tidak diperbolehkan. Pendapat inilah yang diikuti pensyarah (kitab asy-Syarhu al-Kabir) dan dijadikan pendapat dalam mazhab namun sayangnya pendapat ini lemah.

Sedangkan pendapat yang mu'tamad sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abdul Haq. Yakni, wanita yang haidnya telah usai, tidak diperkenankan membaca al-Quran hingga ia telah mandi jinabat. Pendapat ini sebagaimana pendapat mu'atamad bahwa boleh membaca al-Quran di saat keluarnya darah, baik dalam keadaan junub atau tidak, takut lupa hafalan atau tidak. Hal tersebut seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Rusy dalam kitab al-Muqoddimat.

Baca: Hukum Wanita Haid Menurut Madzhab Syafi'i

Kebolehan membaca al-Quran bagi wanita haid dalam Madzhab Maliki berlandaskan pada hadis yang diriwayatkan Siti Aisyah. Dalam kitab adz-Dzakirah, Imam al-Qarafi menyebutkan bahwa kebolehan tersebut berdasarkan riwayat Sayyidah Aisyah.

وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض

"Adapun yang membolehkan wanita haid membaca al-Qur’an adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah ra. Beliau pernah membaca al-Quran dalam keadaan haid. Tentunya secara dhahir, apa yang dilakukan Sayyidah Aisyah terlihat oleh Rasulullah. Adapun larangan membaca al-Quran bagi wanit haid itu diqiyaskan dengan orang junub. Padahal keduanya mempunyai dua perbedaan, yakni junub terjadi karena kehendak yang melakukan dan hal iniberbeda dengan wanita haid, masa junub tidaklah selama masa haid.

Selanjutnya madzhab yang memperbolehkan wanita haid adalah madzhab dzohiri. Pendapat madzhab ini mempunyai kesamaan dengan ulama Madzhab Maliki.

Dalam hal ini diwakili Imam Ibnu Hazm. Beliau berpendapat bahwa tidak ada larangan wanita haid membaca al-Quran. Sebab, menurut Imam Ibnu Hazm, membaca al-Quran merupakan perbuatan yang baik dan siapapun yang membacanya akan memperoleh pahala.

Baca: Batas Masa Haid Menurut Ulama 4 Madzhab

Adapun Surat al-Waqi'ah ayat 79 yang biasa dijadikan dalil ulama terkait larangan wanita haid membaca al-Quran, menurut Imam Ibnu Hazm tidaklah bersifat larangan, akan tetapi bersifat khabar atau berita. Sehingga, tidak bisa dijadikan dalil keharaman membaca al-Quran bagi wanita haid.

Dalam kitab al-Muhalla bil Atsar, Imam Ibnu Hazm menyebutkan bahwa membaca al-Quran, sujud, menyentuh mushaf dan lain sebagainya diperbolehkan bagi setiap umat Islam, meskipun dalam keadaan haid.

وقراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى جائز، كلّ ذلك بوضوء وبغير وضوء وللجنب والحائض. برهان ذلك أنّ قراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى أفعال خير مندوب إليها مأجور فاعلها، فمن ادّعى المنع فيها في بعض الأحوال كلّف أن يأتي بالبرهان.

"Membaca al-Qur’an, sujud, menyentuh mushaf, dzikir merupakan perbuatan yang diperbolehkan. Hal itu baik dilakukan dengan wudhu atau tanpa wudhu, keadaan junud atau sedang haid. Beliau berargumen bahwa semua perbuatan tersebut adalah hal yang bernilai baik serta dianjurkan dan mendapat pahala bagi yang melakukan. Siapapun yang menyatakan wanita haid dilarang membaca al-Quran di sebagian kedaan, maka harus disertai alasan".

Demikian penjelasan ulama yang memperbolehkan membaca al-Quran bagi wanita yang sedang haid. Semoga dapat bermanfaaat bagi umat Islam secara umum. [dutaislam.com/in]
Loading...