Hukum Wanita Haid Menurut Madzhab Syafi'i
Cari Berita

Advertisement

Hukum Wanita Haid Menurut Madzhab Syafi'i

Duta Islam #04
Minggu, 14 Juli 2019

Penjelasan wanita haid membaca al-Quran menurut Imam Syafii (sumber: istimewa)
Ulama Madzhab Syafi'i dengan tegas mengatakan bahwa wanita yang sedang haid diharamkan membaca al-Quran. Hal itu jika diniatkan membaca al-Quran atau membaca dzikir sekaligus al-Quran.

DutaIslam.Com - Keharaman membaca al-Quran bagi wanita haid karene berlandaskan pada hadis nabi. Di samping itu, larangan tersebut merupakan bentuk penghormatan manusia terhadap kesucian kalam ilahi.

Oleh karena itu, ulama Madzhab Syafi'i berpendapat kalau wanita haid haram membaca al-Quran dengan qosdhu qiroah quran.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayahtuz Zain menyebutkan, keharaman membaca al-Quran ketika diniati membaca al-Quran dan atau disertai niat dzikir atau niat membaca salah satunya tanpa ada kejelasan yang dituju spesifiknya yang mana.

وللحرمة شروط ان يكون بقصد القران او مع الذكر او بقصد واحد لابعينه

"Keharaman membaca al-Quran bagi wanita haid ada beberapa syarat, yakni membacanya dengan diniati quran, atau besertaan dengan dzikir atau bertujuan membaca salah satunya tapi tidak ditentukan spesifikasinya".

Berbeda jika membaca ayat-ayat al-Quran yang bernuansa dzikir, hukumnya diperbolehkan dengan syarat tidak diniati membaca al-Quran.

Kebolehan membaca al-Quran bagi wanita haid juga berlaku ketika membacanya di dalam hati, tanpa menggerakkan bibir, sehingga tidak terdengar oleh dirinya bacaan al-Quran. Begitu juga diperbolehkan membaca ayat al-Quran yang telah dinaskh secara tulisan.

Adapun kekhawatiran lupanya hafalan al-Quran sangat jarang terjadi. Karena, masa haid tidak sampai berbulan-bulan. Sehingga, hafalan al-Quran masih bisa tetap terjaga baik dengan muraja'ah di dalam hati. Hal itu sebagaimana dikatan Imam Nawawi dalam kitan Syarah Muhadzab.

وأما خوف النسيان فنادر , فإن مدة الحيض غالبا ستة أيام أو سبعة , ولا ينسى غالبا في هذا القدر ; ولأن خوف النسيان ينتفي بإمرار القرآن على القلب , والله أعلم

Adapun kekhawatiran (seorang wanita haid) akan lupanya hapalan al-Quran maka hal itu sangat jarang terjadi dikarenakan waktu haid biasanya 6 atau 7 hari dan dalam rentang waktu ini biasanya seorang tidak akan lupa hapalannya. Kekhawatiran akan lupanya hapalan bisa ditanggulangi dengan membacanya dalam hati".

Membaca al-Quran di dalam hati, menurut Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain, tidak dilarang. Sebab, membaca al-Quran di dalam hati merupakan pengecualian dari hal-hal yang diharamkan bagi wanita haid.

Namun, berbeda jika membaca al-Quran dalam bentuk isyaroh yang memahamkan bagi orang bisu. Sebab, isyaroh bagi orang seperti melafadzkan dengan lisan bagi orang normal. Sehingga, melafadzkan dengan siyaroh tersebut haram.

واشارة الاخرس المفهمة مثل التلفظ وان يسمع نفسه حيث كان صحيح السمع ولامانع من لغط ونحوه

"Isyaroh yang memahamkan bagi orang bisu laiknya melafadzkan dengan lisan bagi dan sekiranya dia dapat mendengar ketika normal".

Pendapat ini diperkuat oleh Imam al-Khatib Asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj.

 فإنها منزلة منزلة النطق هنا

" Isyarat bagi seorang yang bisu sebagaimana melafadzkan". [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini