Ganjar Akan Pecat ASN yang Terpapar Radikalisme
Cari Berita

Advertisement

Ganjar Akan Pecat ASN yang Terpapar Radikalisme

Duta Islam #03
Rabu, 24 Juli 2019

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo meminta Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) untuk memecat ASN yang terpapar paham intoleransi dan radikalisme lebih cepat.

Menurut Ganjar, mereka yang terpapar paham itu akan terus melakukan perlawanan. Baik melalui ideologi dan membangun wacana melalui media sosial (medsos). Jika sudah terpecah, identitas mereka pun muncul dan sangat sulit untuk kembali ke pangkuan NKRI.

Baca juga: I'tikad Ahlussunah Wal Jama’ah di Indonesia Adalah NU Bukan HTI

“Menjadi ASN itu berat. Harus menjadi contoh di tengah masyarakat, jadi manusia yang mendekati sempurna sebagai konsekuensi logis maupun ketegasannya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, ASN itu ibarat lokomotif sempurna,” kata Ganjar, Senin (22/07/2019) dikutip dari Jawapos.com.

Ganjar mengatakan, dari pengamatan maupun pengalamannya, pihaknya pernah menemukan di medsos yang bicara asal-asalan. Dalam kasus peledakan bom, doktrin yang diberikan kepada pelaku kurang dari satu jam saja. Yakni dengan menyebut non muslim itu kafir dan TNI-Polri golongan thaghut. Maka, ia diperintahkan untuk membunuh atau mengebom.

“Saya pernah baca puisinya Gus Mus, dibilang penistaan agama. Yang paling berbahaya itu justru sekarang ini orang yang tidak masuk ke jaringan,” papar Ganjar.

Terkait seleksi jabatan pimpinan tertinggi (JPT) dan lelang jabatan, menurut Ganjar, untuk lingkungan pemprov sudah dimodifikasi berbagai cara agar menjadi lebih baik. Kehadiran KASN pun untuk meng-upgrade cara dengan keprofesionalan dan ideologinya. Termasuk memdeteksi, apakah ada yang terpapar gerakan radikalisme atau tidak.

“Pansel ini juga dilatih peduli dengan bangsa. Karena kalau di awal sudah terpapar, tentu tidak akan diloloskan. Kalau menurut saya, selain profesionalitas dan ideologi, ditambah soal integritas. Sebab, orang tidak pernah tahu. Bisa jadi teman sebelah atau teman akrab, ternyata masuk ke jaringan yang terpapar radikalisme," papar Ganjar.

Jika PNS yang notabene dibayar negara tiba-tiba melakukan itu, tentu harus mendapat perhatian.

“Secara detil sudah. Dan, yang ada ini menjadi alert, mesti perhatian dan proses yang di workshop ini akan dibahas, metode mencarinya harus melalui metode yang benar,” ujar Ganjar dikutip dari Jawapos.com. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini