Gagal Face To Face, NU Mulai Dicatut untuk Kampanye Tegaknya Khilafah
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Gagal Face To Face, NU Mulai Dicatut untuk Kampanye Tegaknya Khilafah

Duta Islam #03
Selasa, 23 Juli 2019
Loading...

(Kiri) Majalah NU 1938 yang dituding berisi artikel mirip HTI. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Segala macam cara ditempuh para pengasong khilafah demi tegaknya khilafah di Indonesia. Satu cara gagal, cara lain dilakukan. Mereka tak lagi mengenal cara halal atau haram, cara licik atau jujur. Asal khilafah bisa tegak, cara picik pun akan dianggap nyaman.

Baca juga: Agus Jember yang Tuduh NU Mirip HTI Ternyata Masif 'Kampanye' Khilafah di Facebook

Pilpres 2019 telah usai. Pasangan Jokowi-Ma'ruf yang banyak didukung kalangan NU menang. Kemenangan Jokowi-Ma'ruf adalah bagian dari kemenangan warga NU. Sebaliknya, kekalahan Prabowo-Sandi bagian kekalahan para pengasong khilafah yang bersembunyi dan menjadi penumpang gelap di balik Prabowo-Sandi.

Dukungan para pengasong kgilafah kepada Prabowo ini sulit ditampik setidaknya dengan dua alasan sederhana. Pertama, pembubaran HTI 2017 lalu adalah 'ulah' Jokowi. Sehingga sulit ditampik mereka para pengasong khilafah mendukung Prabowo di Pilpres 2019. Kedua, serangkaian kampanye Prabowo diwarnai bendera tauhid khas HTI. Tidak heran jika Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj beberapa waktu lalu menyebut ada kelompok radikal di belakang Prabowo. Mereka tak lain adalah Eks HTI yang ingin mengakkan khilafah tegak di Indonesia.

Kemenangan Jokowi membuat mereka semakin gusar. Secara politik mereka tidak punya kesempatan untuk memperoleh kekuasaan. Mereka yang ngebetnyanya minta ampun ingin menegakkan khilafah akhirnya harus mencari cara lain. Masuk ke NU tentu bukan pilihan karena NU sejak awal sudah tegas menolak ide khilafah. Di sisi lain,  serangan langsung ke NU dengan tuduhan "NU Anti Arab", "NU liberal", dan "Islam Nusantara Sesat" yang terus gencar pun ternyata tidak mempan.

Salah satu cara yang masih dan paling mungkin dilakukan adalah merusak pola pikir masyarakat dari dalam. Terutama warga NU yang masih awam mengenai konsep bernegara namun memiliki semangat tinggi dalam beragama. Para pengasong khilafah ini akhirnya mulai masuk dengan embel-embel dan mencatut nama NU.

Cara-cara semacam ini kembali menggeliat sejak beberapa pekan terakhir. Dibuktikan dengan terbitnya 'Fiqih Khilafah dalam Madzhab Syafi'i' oleh Penerbit Quwwah. Bedasarkan penelusuran, buku propaganda khilafah ala HTI tersebut baru diposting pertama oleh penerbitnya pada 13 Juli 2019. Dengan embel-embel syafi'i, kelompok HTI berusaha mempengaruhi pikiran warga Nahdliyin yang mayoritas memang berpedoman kepada Imam Syafi'i.

Bukan hanya itu, ada upaya penggiringan opini publik bahwa NU jaman dulu mirip HTI yang didasarkan pada majalah NU tahun 1938. NU disebut-sebut mirip HTI karena dalam tulisan berjudul 'Aliran Anti Arab', NU membela Arab. Padahal, konteks pembelaan NU terhadap Arab saat itu karena penggiringan isu kebencian terhadap Arab lantaran prilaku orang Arab yang dinilai merugikan bangsa Indonesia.

Sikap NU lantas ditarik secara serampangan oleh Ahmad Agus Jember, lelaki yang diduga kuat simpatisan HTI. Kesimpulan Agus yang tanpa kontek tersebut ditulis di Facebook, kemudian disebarluaskan oleh situs radikal Portal-Islam.Id pada 19 Juli 2019. Dengan membawa-bawa NU jaman dulu, seolah mereka ingin menegaskan bahwa NU sekarang telah keluar dari garis perjuangan pendahulunya.

Benar kata Mantan Ketua HTI Babel Ayik Heriansyah bahwa HTI tidak akan mati kecuali ideologinya sudah ganti atau aktivis-aktivisnya sudah mati. Maka cara tercepat untuk menghentikan penyebaran paham khilafah ialah menjebloskan mereka ke penjara. [dutaislam.com/pin]

Loading...