Beda Tren Hijrah Ala NU dan Salafi, NU Sudah Gerak Lebih Dulu
Cari Berita

Advertisement

Beda Tren Hijrah Ala NU dan Salafi, NU Sudah Gerak Lebih Dulu

Duta Islam #03
Kamis, 11 Juli 2019

Hijrah Ala NU dan Ala Salafi. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Fenomena hijrah di kalangan generasi muda Indonesia menjadi sorotan Nahdlatul Ulama (NU). Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) menyadari geliat berhijrah yang kini menjangkiti kalangan muda di wilayah perkotaan. PBNU juga mengamati bahwa kebanyakan generasi milenial yang hijrah karena pengaruh dakwah salafi.

Baca juga: Dikuasai Salafi, Kajian Tasawuf di Masjid Nurul Iman Dibredel Karena Dianggap Menyimpang

Ketua PBNU Kiai Marsudi Suhud mengatakan bahwa tren hijrah anak muda di Indonesia sudah dimulai lebih dulu oleh NU. Wadah NU bagi anak muda untuk berhijrah melalui pondok pesantren. Menurut Kiai Marsudi, pesantren telah menjadi episentrum bagi anak muda Indonesia yang ingin mendalami agama sejak lama. Bahkan, tradisi itu sudah dimulai sebelum Indonesia merdeka.

"NU itu pesantren sebagai titik hijrahnya. Artinya sudah ada dari dulu sebelum ada Republik Indonesia," kata Marsudi dilansir CNNIndonesia.com, Senin (08/07/2019).

Sampai sekarang, lebih dari 23 ribu pondok pesantren milik NU yang tersebar di seluruh Indonesia. Pesantren itu menurut Kiai Marsudi sudah menjadi sarana berhijrah bagi anak muda. Pesantren sudah teruji dan punya kapasitas sebagai wadah yang tepat untuk mendalami Islam ketimbang aliran atau metode lain.

Pesantren diisi oleh ustaz atau kiai yang jelas silsilah keilmuan maupun dalil-dalilnya. Materi dan berbagai kitab yang digunakan pun dapat dipertanggungjawabkan, komplit dari sisi agama maupun keilmuan.

Berbeda dengan yang lain. "Kalau yang di pinggir jalan atau media sosial ukurannya dari mana kan tidak jelas. Kebenarannya yang dimiliki pesantren diukur dari materi-materinya yang jelas dan dari guru-guru yang mutakhir," ujar Kiai Marsudi.

PBNU sendiri memiliki beragam badan otonom yang memiliki tugas untuk menyiarkan syiar dan dakwah bagi kalangan anak muda. Di antaranya Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Pelajar Perempuan NU untuk menjangkau kalangan pelajar. Ada juga Perihimpunan Mahasiswa Islam Indonsia (PMII) untuk menjangkau kalangan mahasiswa. Di samping itu, NU punya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Fatayat NU yang tujuannya juga menyiarkan syiar dan wadah sebagai tempat anak muda berhijrah.

Kiai Marsudi tidak mempersoalkan bila berbagai pemikiran Islam transnasional kini berkembang di Indonesia, tak terkecuali pemikiran Islam salafi. NU mafhum Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar yang sulit untuk membendung ajaran apapun untuk masuk ke dalamnya. NU menilai gaya dakwah ala salafi bisa diterima anak muda karena para ustaznya pintar menangkap pangsa pasar yaitu lewat jalur media sosial.

"Para ustaz-ustaz [salafi] itu cerdas menangkap pasar dengan medsos," ujar Kiai Marsudi.

Menurut Kiai Marsudi, kiai-kiai NU dan berbagai badan otonom di bawah PBNU sudah mulai gencar memanfaatkan medsos sebagai arena dakwah. Beberapa kiai senior NU yang sudah menggunakan media sosial untuk dakwah, di antaranya Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus, Kiai Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq. Termasuk Kiai Marsudi sendiri yang sengaja membuat kanal Youtube sebagai sarana dakwah agar sampai pada akar level akar rumput.

"Kiai Gus Mus dan kiai NU lain sudah pakai bahasa sesuai standar pemikirannya," katanya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Data diolah dari CNNIndonesia.com dari berita berjudul 'Anak Muda Hijrah di Mata NU dan Muhammadiyah'.




close
Banner iklan disini