Apa Pentingnya Bahas Habib Rizieq di Pertemuan Jokowi-Prabowo?
Cari Berita

Advertisement

Apa Pentingnya Bahas Habib Rizieq di Pertemuan Jokowi-Prabowo?

Duta Islam #03
Minggu, 14 Juli 2019

Habib Rizieq. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Beragam respon bermunculan saat Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/07/2019). Sebagian menganggap bahwa Prabowo telah khianat. Sebagian lainnya menilai positif untuk meredam tensi politik yang masih panas pasca Pilpres 2019. Di tengah-tengah itu, sosok Habib Rizieq yang kini masih di Mekah pun menjadi bahasan setelah pertemuan dua tokoh politik tersebut.

Habib Rizieq sempat digadang-gadang menjadi syarat rekonsiliasi antara Prabowo dan Jokowi. Hal ini setidaknya diusulkan oleh Juru Bicara BPN Dahnil Azhar Simanjuntak. Dahnil menganggap bahwa Habib Rizieq telah dicekal yang dalangnya dituduhkan kepada pihak pemerintah. Para pendukung Habib Rizieq pun meminta presiden bertanggung jawab atas kepulangan Habib Rizieq.

Usulan Dahnil barangkali bagian dari upaya tindak lanjut Janji Prabowo yang ingin menjemput Habib Rizieq jika terpilih jadi presiden. Karena Prabowo tidak terpilih, muncul usulan Habib Rizieq jadi syarat rekonsiliasi. Sampai di sini, Habib Rizieq oleh para pendukungnya seolah diperlakukan sebagai tokoh sentral untuk meredam situasi politik di tanah air.

Anggapan ini segera terbantah ketika tak ada perbincangan Habib Rizieq dalam pertemuan Jokowi dan Prabowo. Sehingga menjadikan Habib Rizieq sebagai sosok yang dianggap berpengaruh dalam konteks politik nasional adalah anggapan yang sangat keliru.

Orasi politik Prabowo yang ingin menjemput Habib Rizieq saat masih pencalonan Presiden adalah orasi politik yang semata untuk mendapat dukungan dari FPI dan Habib Rizieq sendiri. Habib Rizieq dan FPI pun termakan kepentingan politik Prabowo.

Jika Prabowo menganggap penting Habib Rizieq di luar kepentingan politik mestinya dia menyinggung kepulangan Habib Rizieq dalam pertemuannya dengan Jokowi. Ini sebagai respon terhadap usulan yang mencuat bahwa Habib Rizieq harus menjadi syarat rekonsiliasi. Nyatanya tidak, hingga PA 212 dengan nada tersinggung menyatakan: "kepulangan Habib Rizieq tidak ada kaitan dengan pemerintah."

Benar jika ada ungkapan bahwa Habib Rizieq hanya kerikil kecil di tanah air yang dengan kekuatan secuil FPI-nya gemar membuat keributan dan berpotensi memecah persatuan. Tidak banyak yang simpatik dengan FPI kecuali untuk kepentingan politik rutinan dalam rangka mendulang suara.

Meskipun demikian, orang-orang FPI sangat mengharapkan kepulangan sang imam besar. Tapi apa boleh buat, perbuatannya yang tidak bertanggung jawab sampai sekarang telah membuat dirinya 'tersekap'. [dutaislam.com/pin



close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah