Al Maqamat Suyuti Perspektif Tasawuf
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Al Maqamat Suyuti Perspektif Tasawuf

Duta Islam #07
Rabu, 24 Juli 2019
Loading...

Konsep al maqamat
Konsep al maqamat. Foto: istimewa
Melalui tahapan-tahapan untuk mencapai makrifatullah, ada cara dan jalan tersendiri yang perlu kita lalui dan lakaukan dengan niat yang tulus.

DutaIslam.Com - Untuk berada dekat, sedekat mungkin dengan Allah SWT maka dalam konsep tasawuf, seorang harus menempuh jalan panjang dan berliku, melalui terminal atau stasiun-stasiun yang disebut Al-Maqamat, jamak dari kata maqam (tempat berdiri, tempat persinggahan), yang dalam terminologi sufi merupakan posisi hamba dihadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya.

Maqam disini bukan berarti kuburan sebagai mana yang banyak dipahami orang. Namun ulama tasawuf seperti Al-Qusyairi mendefinisikan maqam sebagai:

مدارج أرباب السلوك 

Artinya:
"Tingkatan-tingkatan pintu khusus yang harus dilalui untuk sampai kepada Allah".

Dengan kata lain, maqam adalah titian perjalanan spiritual yang dilalui para Sufi untuk memperoleh tujuan hakikat dengan melewati berbagai macam terminal, stasiun dan tingkatan.

Baca: Puang Makka: Jangan Salahkan Jika Non Muslim Terpilih Jadi Pejabat

Tokoh-tokoh Sufi sejak zaman Hasan Al-Bashriy hingga Imam Al- Qusyayriy dan diteruskan Sufi lain setelanya sampai kepada Syaikh Yusuf Al-Makassari, telah merumuskan konsep Al-Maqamat sebaik mungkin.

Konsep yang dikemukakan para Sufi berbeda-beda berdasarkan urutannya.

Al-Kalabazi misalnya, memberikan susunan Al-Maqamat yang dimulai dari maqam tobat, zuhud, sabar, fakir, kerendahan hati (zuhud), takwa, tawakkal, kerelaan, cinta, makrifat.

Al-Gazali memulainya dari tobat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakkal, cinta, makrifat, ridha atau kerelaan.

Ibnu Ataillah sebagai mana yang ditulis Basyuni menyusunnya dari tobat, zuhud, sabar, syukur, khauf dan raja’, ridha dan tawakkal, mahabbah.

Al-Thusi memulai dari maqam tobat, wara, zuhud, faqir, sabar, redha, tawakal, ma'rifat.

Karena urutan masing-masing Sufi dalam menentukan urutan seperti yang telah disebutkan tidak seragam, maka biasanya Syaikh (guru) tasawuf memberikan petunjuknya dan menjelaskan perbedaan tentang Al-Maqamat tersebut.

Guru kami, Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma sebagaimana dalam catatan ini yang terekam dari Mursyid pasca Puang Ramma, Syekh Sayyid A. Rahim Assegaf Puang Makka, merumuskan bahwa Al-Maqamat adalah stasiun-stasiun rohaniah yang hakikatnya merupakan sir (rahasia) dan hanya diketahui oleh dirinya (seorang salik) di maqam mana dia berada, dengan keadaan (hal) berusaha melawan hawa nafsunya & egonya, sehingga memperlancar jalannya untuk sampai kepada Allah.

Konsep Al-Maqamat menurut Puang Ramma berdasarkan urutannya dimulai dari maqam tobat, zuhud, tawadhu, ridha’, tawakkal, dan sabar. Disini Puang Ramma berbeda dengan Sufi lain karena dalam konsepnya, menempatkan sabar sebagai maqam terakhir, kenapa demikian? Pertanyaan ini akan dijawab setelah menguraikan rangkaian maqam-maqam berikut:

Konsep Al Maqamat


Taubat
Definisi tuabat atau saya disini menulis taubat untuk hemat huruf dikalangan Sufi dibedakan atas tiga ketegori.

1. Taubat dalam pengertian meninggalkan segala hal kemaksiatan dan melakukan kebajikan secara terus menerus

2. Taubat dalam pengertian keluar dari kejahatan dan memasuki kebaikan karena takut pada murka Allah

3. Taubat dalam pengertian terus menerus bertaubat walaupun sudah tidak pernah lagi berbuat dosa (taubat abadi).

Taubat adalah menghindarkan diri dari dosa-dosa, kemudian menghindarkan diri dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Taubat ini disebut taubah nasuha, yaitu taubat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak akan berbuat dosa lagi walau sekecil apapun.

Fungsi taubat bukan hanya menghapus dosa, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai syarat mutlak agar dapat dekat dengan Tuhan berdasarkan firman Allah SWT, QS. Al-Baqarah/2: 222, yakni

 إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين  .

Artinya:
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Dengan disebutnya term Al-Tawwabin dengan Al-Mutathahhirin secara bersamaan pada ayat tadi mengindikasikan bahwa apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada-Nya, maka ia harus membersihkan dirinya dari noda dan dosa, karena Allah Maha Suci dan menyukai yang suci.

Salah satu amalan yg harus dilakukan dalam maqam pertaubatan adalah beristigfar dengan lafadz (أستغفرالله العظيم وأتوب إليه) sebanyak mungkin.

Baca: (Biografi) Habib Abd Rahim Puang Makka, Mursyid Khalwatiyah Murid Habib Luthfi

Firman Allah dalam Q.S. Ali Imran/3: 135:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [dutaislam/ka]

Loading...