Tradisi Syawalan, Potret Relasi Masyarakat dengan Kiai Pesantren
Cari Berita

Advertisement

Tradisi Syawalan, Potret Relasi Masyarakat dengan Kiai Pesantren

Duta Islam #04
Jumat, 28 Juni 2019

KH. Niamillah Aqil saat menerima tamu di kediamannya (sumber:khaskempek.com)
Oleh: Iin Sholihin

Dutaislam.Com - Sudah menjadi tradisi setiap hari raya kupatan atau biasa disebut bada syawalan, masyarakat Cirebon dan sekitarnya bersilaturahim ke kiai-kiai pondok pesantren. Mereka bersua dengan para kiai secara langsung untuk ngalap berkah.

Tradisi syawalan ini menunjukkan adanya relasi yang kuat antara masyarakat dengan kiai-kiai pondok pesantren. Dalam hal ini, kehadirian kiai pesantren sangat berperan aktif dalam mengawal kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.

Kiai pesantren bukan hanya berperan sebagai seorang guru dari santri-santri yang ada di pondok pesantrennya. Akan tetapi, kiai pesantren juga telah melebur dengan kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas.

Masih mengakarnya tradisi syawalan di wilayah Cirebon dan sekitarnya merupakan pertanda bahwa kiai pesantren memiliki peran penting di tengah-tengah masyarakat. Beliau tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, melainkan juga sebagai pusat pergerakan spiritual.

Di pesantren Kempek misalnya, setiap bada syawalan akan dipadati rombongan dari berbagai daerah dari wilayah Cirebon dan sekitarnya. Mereka sowan ke kiai agar dapat ngalap berkah, wejangan dan harapan doa masyayikh Kempek.

Pada saat bertamu ke rumah kiai, terlihat jelas keakraban antara kiai dan para tamu. Seakan-akan mereka adalah satu keluarga besar yang sedang bersua ria. Kemudian di akhir perjumpaan setelah berdoa bersama, para tamu tak lupa dipersilahkan untuk menikmati hidangan utama bada syawalan, yakni lontong atau ketupat sayur.

Peran kiai pesantren

Tradisi syawalan menggambarkan adanya ikatan emosional dan spiritual antara kiai pesantren dengan masyarakat terasa sangat kuat sekali. Kiai pesantren begitu terbuka dalam melayani para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Pada saat bada syawalan ini, tamu yang bersilaturahim atau sowan ke rumah kiai bisa sampai malam hari. Tamu dari pagi hari silih berganti hingga larut malam. Ada yang bertujuan sekedar ingin mengharapkan doa dari kiai dan beragam tujuan lainnya.

Di saat bersilaturahim, para tamu tidak jarang yang bercerita problematika kehidupannya sekaligus meminta solusi atas masalah yang dihadapinya. Meskipun terlihat letih, sang kiai tetap melayani para tamu dengan wajah sumringah dan telaten.

Fenomena ini menguatkan apa yang dikatakan Hirohiko dalam bukunya Mastuhu, bahwa kiai sebagai pusat pergerakan spiritual dan perubahan sosial masyarakat di sekitar pesantren. Semakin besar kharismanya seorang kiai, semakin besar pula pengaruhnya di masyarakat.

Pengaruh utama kiai terhadap kehidupan masyarakat karena karakter kiai yang mampu menghilangkan perbedaan strata di tengah-tengan masyarakat. Upaya perubahan yang dilakukan oleh kiai biasanya tidak terbatas hanya dengan mengadakan pendidikan dalam sebuah masyarakat.

Pada kenyataannya, pondok pesantren lebih merupakan pusat peradaban sebuah masyarakat tertentu dengan perkembangan teknologi dan fasilitas-fasilitasnya. Hal itu terbukti dari perubahan kondisi masyarakat yang berada di sekitar pondok pesantren (Mastuhu, 1994: 64).

Sejarah pondok pesantren Kempek misalnya. Pada mulanya daerah sekitar pondok pesantren jauh dari keramaian dan pusat perekonomian. Sepanjang jalan yang menghubungkan antar komplek pondok pesantren masih rimbun pepohonan jati, kini berderatan pedagang yang menjajakan beragam kuliner.

Dalam hal ini, kiai dan pesantren yang diasuhnya mampu mengisi kekosongan peran negara dengan menyediakan segala hal yang dibutuhkan masyarakat sekitar. Maka, tidak berlebihan kalau kiai pesantren merupakan pusat peradaban dan perubahan sosial. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini