Tradisi Relativisme Budaya Syawal yang Tidak Bisa Ditinggalkan
Cari Berita

Advertisement

Tradisi Relativisme Budaya Syawal yang Tidak Bisa Ditinggalkan

Duta Islam #07
Senin, 10 Juni 2019

Tradisi lebaran unik di indonesia
Tradisi lebaran unik di indonesia. Foto: istimewa
Dimanapun berada, apapun agama mu, apapun mazhab mu, apapun bahasa daerah mu, apapun etnis dan suku-bangsa mu, dari lubuk hati yang paling dalam, segenap Redaksi Duta Islam mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.

DutaIslam.Com - Menggugah masyarakat akan pentingnya makna toleransi dan pluralisme dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara. Menyadarkan akan bahaya "etnosentrisme" dan pentingnya "relativisme budaya" dalam menyikapi kemajemukan umat manusia seperti halnya. Menghargai tradisi sendiri, budaya sendiri, bahasa sendiri, bangsa sendiri, dan negara sendiri diatas tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain tanpa harus merendahkan tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain itu.

Lebaran berarti "lebar" atau "selesai". Bisa juga berarti "lebur" yang berarti "hangus" atau "lenyap". Tentu saja lenyap segala kesalahan dengan jalan saling memaafkan satu sama lain.

Konon tradisi ini pertama kali digagas oleh Sunan Bonang yang bertujuan untuk "menyempurnakan" bulan suci Ramadhan. Jika dengan puasa, Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dengan-Nya, maka dengan saling meminta maaf kepada sesama, lenyaplah dosa-dosa dan kesalahan kita dengan sesama umat manusia. Dengan demikian, dosa dengan Tuhan lebur, dosa dengan sesama manusia juga lebur.

Baca: Idul Fitri, Halal Bi Halal dan Pemersatu Bangsa

Lambang dari pengampunan kesalahan dan permintaan maaf itu disimbolkan dengan ketupat atau kupat dalam Bahasa Jawa yang berarti "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan atau kekhilafan. Tradisi makan kupat ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo, satu-satunya anggota Walisongo yang "njawani" dan gemar nguri-uri atau merawat tradisi dan kebudayaan lokal.

Selain makan ketupat. Lebaran juga diiringi dengan tradisi "sungkeman", sebuah tradisi Jawa yang konon dimulai dari Pangeran Samber Nyowo atau KGPA Arya Mangkunegara I dari Keraton Kartasura. Sungkem adalah sebuah tradisi permintaan maaf dan sekaligus permintaan berkah dari orang tua atau orang yang dituakan.

Tradisi Lebaran Unik di Indonesia


Terakhir adalah halal bi halal. Nah ini sejarahnya agak rumit dan banyak versi. Tetapi diantara sekian versi, saya menganut versi yang mengatakan bahwa nama "halal bi halal" itu diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU.

Konon dulu, Presiden Soekarno minta nasehat Mbah Wahab untuk mengatasi perselisihan, ketegangan, dan konflik para elit poltik di awal-awal kemerdekaan RI. Mbah Wahab kemudian mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengundang semua elit politik dari berbagai etnis dan agama dalam sebuah acara silaturahmi akbar di "istana" yang dinamakan "Halal Bi Halal" tujuannya supaya saling "menghalalkan" dan "memaafkan" kesalahan, tidak ribut melulu dan saling "mengharamkan" dan "menyalahkan".

Baca: Sejarah dan Muasal Tradisi Halal bi Halal

Maka untuk itu, sudah sepantasnya di dalam suasana Idul Fitri dibuat sebagai momentum untuk saling bersilaturahim dan memaafkan dengan mengadakan halal bi halal bersama sanak famili, kerabat, dan tetangga. Semoga berlangsungnya tradisi sungkeman, halal bi halal dan lebaran ketupat senantiasa mendapatkan ridha ilahi, karena tradisi atau kegiatan yang baik pasti akan dinilai baik pula.

Demikian sekilas "santapan rohani" tentang tradisi lebaran di bulan Syawal, semoga kita senantiasa tetap diberikan kesehatan untuk tetap nguri-nguri budaya yang ada dan tradisi yang baik.[dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini