Petuah Gus Nadir yang Nampol Banget: "Perintah Allah itu Iqro' Bukan Membacot Seenaknya"
Cari Berita

Advertisement

Petuah Gus Nadir yang Nampol Banget: "Perintah Allah itu Iqro' Bukan Membacot Seenaknya"

Duta Islam #03
Kamis, 13 Juni 2019

Rois Syuriah PCI NU Autralia Nadirsyah Hosen. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Fenomena asal bicara tanpa dasar banyak dijumpai di media sosial. Yang memprihatinkan, mereka yang melakukannya seperti merasa paling pintar dan cenderung menolak pendapat orang lain.

Baca juga: Riset Setara Institute: Masjid Hurriyah IPB Jadi Markas Besar Kaderisasi Kelompok Radikal

Rois Syuriah PCI NU Australia-New Zealand Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) memberikan sejumlah tanggapan terhadap orang-orang semacam itu dalam postingannya di Twitter, Selasa (11/06/2019). Berikut ini tanggapan Gus Nadir sebagaimana dirangkum dari chirpstory.com.
 
1. Pada setiap disiplin ilmu ada rujukan standar yang harus dibaca, dikutip dan dijadikan basis untuk studi/riset selanjutnya. Kalau tidak familiar dengan referensi tersebut, pemahaman anda dianggap  di bawah standar. Dalam dunia akademik Islam ini disebut sebagai al-kutub al-mu’tabarah.

2. Itulah gunanya sekolah formal, agar cara berpikir kita dan buku referensi sesuai standar ilmiah yang berlaku. Tertib dalam membaca literatur secara berjenjang. Tidak asal comot kutipan untuk ditaruh di footnote. Semua ada standar akademiknya.

3. Al-Kutub al-Mu’tabarah atau kitab yang layak dijadikan sandaran itu dipelajari denga mendalam di pesantren atau kampus perguruan tinggi Islam. Ibaratnya ada buku wajib, ada buku yang direkomendasikan, dan ada yang tidak dipakai sebaga rujukan.

3. Kalangan NU sangat ketat urusan referensi ini. Saking ketatnya bahkan terkesan tradisionalis, tidak mau merujuk di luar buku wajib. Atau hanya santri senior yang boleh membaca referensi tambahan. Begitulah tradisi keilmuan dijaga dengan ketat.

4. Dalam tulisan-tulisan saya, sedapat mungkin al-kutub al-mu’tabarah ini yang saya jadikan standar rujukan. Para Kiai dan Gus dari pesantren yang akrab dengan tradisi bahtsul masail paham benar soal ini, makanya mereka tidak masalah dengan tulisan-tulisan saya. Semua rujukan saya bisa diperiksa ulang
 
5. Bidang fiqh, misalnya karya Imam Nawawi syarh muhazzab. Dalam bidang tafsir, saya merujuk ke tafsir thabari dan ar-Razi. Dalam ushul al-fiqh, saya kutip jam’ul jawami’ dan nihayatus sul. Dan rujukan standar lainnya dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
 
6. Di medsos juga banyak Kiai yang memantau tulisan dan komentar saya. Ada kiai sepuh sepertt @gusmusgusmu ada juga kiai @Ubaidullah_Sdq Rais Syuriah Jawa Tengah, dan para Gus yang alim @fatihsyuhud @syukronamin ataupun akademisi hebat sepert kiai @ai_mawardi @Ayang_Utriza

7. Mereka tentu akan menegur saya kalau saya keliru dlm mengutip kitab rujukan, atau keliru memahaminya. Tradisi saling mengingatkan itu juga terus berlangsung. Ini bagian dari tradisi akademik kita.

8. Makanya akan aneh kalau kemudian ada yang membantah tanpa argumen dan data. Atau membantah dengan kitab yang bukan standar utama, atau malah menuduh para ulama yang saya kutip kitabnya itu sebagai yahudi, syi’ah atau liberal. Menggelikan.

9. Yang baru saja kejadian misalnya. Menyodorkan Fikih Islam karya Sulaiman Rasyid. Denga segala hormat kepada penulisnya, buku beliau itu untuk kelas pemula yang gak bisa bahasa Arab. Bukan rujukan standar. Al fatihah untuk beliau.
 
10. Atau yang baru saja: saya kutip Tarikh Thabari. Ini kitab babon 10 jilid untuk sejarah Islam. Bukannya kasih kitab lain sebagai pembanding, eh malah menuduh Imam Thabari sebagai syi’ah. Dia gak paham ada dua nama Thabari yang mirip tapi orangnya berbeda. Kiai pesantren bakal ketawa baca tuduhan dia.

11. Atau sebelumnya ada yang menuduh kitab tafsir modern yang saya kutip itu nyeleneh. Padahal itu ditulis oleh para ulama yang pernah menjadi Grand Syekh al-Azhar Mesir. Kok seenaknya bilang nyeleneh tanpa data sama sekali. Berbeda pandangan boleh saja, sodorkan kitab lain sebagai pembanding.

12. Literasi keislaman klasik kalangan ini ternyata rendah sekali. Asal tuduh, asal mencaci. Saya sering 'skrinsut' langsung halaman kitabnya agar bisa dicek sama-sama. Eh dituduh pamer atau malah dianggap gak penting rujukan tersebut. Mereka kalang-kabut melihat kutipan kitab yang gak bisa mereka baca.

13. Kenapa saya selalu sertakan rujukan dari kitab-kitab standar? Ini bagian dari mencerdaskan umat. Selama ini mereka suka sekali tanya dalilnya mana. Sekarang bukan lagi dalil, tapi teks asli kitabnya kita sodorkan. Harapan saya umat jadi tahu mana ustad yang abal-abal dan mana yang memang belajar serius.

14. Terakhir, perintah pertama Allah itu Iqra’ artinya disuruh membaca, bukan membacot seenaknya. Semakin luas bacaan kita, semakin paham bahwa masih banyak yang harus kita pelajari; semakin toleran kita dengan keragaman pendapat; semakin tahu kita nikmatnya nyisir (ehh kok jadi nyisir hahahha). [dutaislam.com/pin]

 

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah