Peran Santri Sarungan Dalam Era Digital
Cari Berita

Advertisement

Peran Santri Sarungan Dalam Era Digital

Duta Islam #01
Rabu, 12 Juni 2019

Peran santri di era digital
Peran santri di era digital. Foto: istimewa
Saya menyadari bahwa era digital atau zaman teknologi informasi sekarang ini tidak akan lagi bisa dibendung maupun dihindari oleh siapapun.

DutaIslam.Com - Sebuah keniscayaan di era sekarang era digital, kita harus bisa beradaptasi dan mempelajari sebuah arus teknologi yang semakin maju perkembangannya.  Jika kita tidak mampu mengimbangi peradaban dan mau dibilang ketinggalan zaman, pastinya kita akan bisa tenggelam sendiri dan tidak akan bisa menjadi apa- apa dan tidak bermanfaat, tentunya.

Sekarang istilah digital lebih bekennya dengan istilah IoT (Internet of Thing). Sebuah jaringan internet dengan perlahan-lahan menguasai setiap lini dalam kehidupan kita. Memang derap kencangnya arus informasi selalu membawa banyak kemajuan di berbagai bidang, namun jika tidak hati-hati, sebaliknya, bisa menjadi bomerang bagi diri kita sendiri.

Di dalam jagad dunia maya, orang bebas mengekspresikan sekehendaknya tanpa batas-batas apapun. Mau jualan bisa, mau curhat bisa, mau pamer apalagi info-info yang mengandung fitnah dan hoaks. Seringkali info apapun yang tersebar di internet mudah diakses, dibaca oleh siapapun dan menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Apa yang kita share sekarang ini, bisa dibaca dan sampai ke belahan dunia manapun. Jikalau kita tidak berhati-hati menginformasikan apapun yang telah kita sebar bisa saja disalah-gunakan atau dijadikan fitnah oleh orang lain.

Baca: Lakon Santri Menyelami Samudera Informasi di Era Siber

Dari sini, maka sudah seharusnya kita cerdas menggunakan internet. Apalagi bagi kalangan santri di pesantren. Santri mempunyai image tersendiri, sebagai seorang santri itu kadang mindset yang masih ada oleh orang awam adalah anti teknologi, gagap-informasi dan ketinggalan zaman. Ini semua harus segera diubah. Santri zaman sekarang haruslah tegap, gagah dan berani, mengikuti dan kalau bisa mengungguli berbagai kecanggihan teknologi informasi. namun tetap dengan koridor seorang santri.

Sebetulnya internet bukanlah sebuah ancaman atau mendapatkan asumsi, dan persepsi negatif bagi kalangan pesantren, apabila dapat disikapi secara baik dan positif. Memang tidak bisa kita pungkiri, bahwa dalam arus besar teknologi saat ini, tidak bisa tidak banyak memuat info-info maupun konten negatif, yang berisi ancaman, kebencian, radikalisme, intoleransi, fitnah dan hoax yang merajalela.

Peran Santri di Era Digital


Saya kira disitulah letak strategis sebagai seorang santri yang cerdas dalam berinternet, pandai memilah dan memilih informasi, sekaligus menangkal dan menangkis konten-konten negatif serta memberi informasi yang berguna di masyarakat. Santri zaman sekarang haruslah aktif membela dan memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara dari konten-konten negatif tersebut, secara masif dan menyeluruh.

Kita haruslah bisa menggunakan internet sesuai kebutuhan, dan kalau perlu malahan haruslah bisa menambahkan nilai ekonomi maupun produktivitas kerja. Internet jangan hanya digunakan untuk berhura-hura dan berbagai hal yang tidak ada manfaatnya. Hal ini bisa didapat apabila sikap optimis dan positif terus bisa dijaga.

Baca: Di Balik Santri Gudiken, Santri Harus Tahu Sejarah

Derap kemajuan zaman, bukanlah hal yang harus kita hindari. Sebaliknya, kita harus bersiap menyongsong dan menyesuaikan diri, serta mengambil sisi positif dan keuntungan yang mungkin bisa kita raih.

Masih ada harpan yang perlu di dambakan para santri  agar bisa lebih aktif, mandiri, cakap, tidak ragu dalam setiap mengambil langkah-langkah dan bersiap menatap cerahnya masa depan.  
Jadi, santri tidaklah cukup mengaji, tapi masih perlu berjuang untuk menyelesaikan tesis demi gelar magister, dan bercita-cita dapat meraih gelar doktor dan kalau bisa professor juga.

Santri haruslah seperti paku, yang dipukul terus namun sudah jelas manfaatnya. Ketika membuat sebuah rumah, yang bisa menyatukan antara usuk, reng dan papan lainnya, itu cuma paku. Walaupun rumah itu sudah jadi berdiri, tidak ada yang memuji paku tersebut karena pakunya tidak terlihat. kalaupun terlihat menonjol paku itu akan dipukul lagi sampai tidak terlihat. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini