Kiai Syamlan: Santri Harus Meneladani Laku Kiai
Cari Berita

Advertisement

Kiai Syamlan: Santri Harus Meneladani Laku Kiai

Duta Islam #03
Jumat, 07 Juni 2019

Temu Alumni dan Hahal Bihalal IKAM Mashlahatul Hidayah, Sumenep Madura, Jumat (07/06/2049). Foto: pin.
DutaIslam.Com - Di pesantren, sosok kiai selalu menjadi panutan. Hal ini perlu terus dilakukan oleh santri meskipun sudah tidak lagi tinggal di pesantren.

Demikian pesan dewan pengasuh Pesantren Mashlahatul Hidayah, Errabu, Bluto Sumenep Madura Kiai Syamlan Al-Farisi dalam acara Temu Alumni dan Halal Bihahal Ikatan Alumni Muda Mashlahatul Hidayah (IKA-MM) yang berlangsung di halaman Pesantren, Jumat (07/06/2019).

Menurut Kiai Syamlan, keteladan kepada kiai ini telah banyak dicontohkan para sesepuh. Misalnya, para masyayikh di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk yang ketika membaca Al-Qur'an mengikuti cara yang dilakukan Kiai Ilyas selaku sesepuh.

"Bahkan sampai ke waqaf-waqafnya, semua ikut dengan yang diajarkan Kiai Ilyas," ujar kiai yang pernah nyantri di Annuqayah ini.

Di Mashlahatul Hidayah sendiri, lanjut Kiai Syamlan, sosok Kiai Mustandji adalah panutan. Begitupun Kiai Amiruddin Nawawi yang selalu memberikan teladan seperti menyapu sendiri.

"Kita tahu sendiri, al marhum (Kiai Mustandji, Red) kalau ngaji ke beliau, hanya untuk menyelesaikan satu ayat butuh waktu lama karena betul-betul diperhatikan cara bacanya sampai benar," katanya.

"Sesepuh kita juga telah memberikan contoh dengan memperhatikan kebersihan, menyapu sendiri," imbuhnya, menyontohkan Kiai Amiruddin Nawawi.

Kiai Syamlan menegaskan, sudah semestinya santri mencontoh para kiai, dalam hal apapun, khususnya perilaku yang baik. Di sisi lain, Kiai Syamlan menambahkan, santri harus mengedepankan adab karena adab lebih utama daripada ilmu.

"Saya lebih menghargai orang beradab dari pada yang berilmu," ujar Kiai Syamlan mengutip perkataan Syeikh Abdul Qadir Jailani.

Sementara itu, Kiai Amiruddin Nawawi menyampaikan, salah satu keuntungan orang yang pernah belajar di dunia pendidikan adalah ilmu. Dari semula seseorang tidak tahu, di pesantren santri dididik hingga menjadi tahu.

Santri kemudian keluar dari pesantren dan tinggal dengan masyarakat di banyak tempat. Satu-satunya harapan, kata Kiai Amin, apa yang telah diajarkan di pesantren dapat diamalkan di tengah-tengah masyarakat.

"Saya hanya numpang manfaat. Semoga menjadi barokah meskipun hanya sedikit," tuturnya.

Kiai Amiruddin kemudian berpesan, khususnya kepada santri yang sudah menjadi alumni, agar saling mengingatkan satu sama lain dan tidak lupa kepada pesantren.

"Saya hanya ingin menitipkan, jangan tinggalkan pesantren, jangan buang, jangan mengentebgkan, ramaikanlah, bikinlah nyaman, perbaiki apa yang bisa diperbaiki," ujar Kiai Amiruddin. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini