Khulafaur Rasyidun Bukan Sistem, Tapi Akhlak
Cari Berita

Advertisement

Khulafaur Rasyidun Bukan Sistem, Tapi Akhlak

Duta Islam #01
Kamis, 20 Juni 2019

sistem pemerintahan di zaman kekhalifahan umar dan abu bakar
Sistem pemilihan empat khalifah pasca Nabi Muhammad Saw. tidak baku karena yang baku dari mereka semua adalah akhlaknya yang penuh kasih dan sayang kepada rakyat. (Foto: istimewa)

Oleh Ahmad Halimi

Dutaislam.com - Ada sebuah hadits yang terkenal, “Berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidun (para penerus yang memberi petunjuk yang benar)”. Hadits ini memerintahkan kita untuk memegang sunnah Nabi dan sunnah para khulafa’ur rasyidun.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud sunnah? Apakah dia setara dengan kata sistem?

Sunnah secara bahasa bermakna jalan. Jalan yang dimaksud dalam sunnah biasanya terkait dengan akhlaq dan cara hidup serta pola interaksi seseorang, baik dengan Allah, sesama manusia maupun makhluk makhluk lain yang lazim kita sebut sebagai lingkungan.

Baca: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah

Dalam kerangka ini, sunnah lebih dekat dengan akhlaq daripada sebuah sistem yang kaku dan memiliki satu format yang tetap. Ada beberapa indikasi yang menunjukkan makna ini.

Para ulama’ sepakat bahwa yang dimaksud Khulafa’ur Rasyidun adalah empat orang khalifah pertama: Sadatuna Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Sebagian ulama’ seperti al Hafidh Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah memasukkan kekhalifahan Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib yang hanya berumur sekitar 6 bulan untuk menggenapi 30 tahun kekhalifahan sebagaimana diisyaratkan dalam hadits terkenal:

الخلفاء ثلاثون سنة

Artinya:
Khalifah itu 30 tahun

Sayyidina Abu Bakar mulai menjabat khalifah di bulan Rabi’ul Awwal Tahun 11 H, sedangkan Sayyidina Hasan menyerahkan kepemimpinan ummat pada Sayyidina Muawiyah ibn Abi Sufyan pada bulan Ra’biul Awwal 41 H. Jadi genap 30 tahun.

Dalam 30 tahun masa kekhalifahan yang disebut rasyidun ini tak ada sistem pemerintahan (dalam maknanya sekarang) yang tetap. Sistem pemilihan khalifah misalnya, berubah dari khalifah ke khalifah. Sayyidina Abu Bakar dipilih dalam rapat para sahabat di Saqifah Bani Sa’idah (kayak pemilu tapi agak sederhana).

Sayyidina Umar ditunjuk oleh Sayyidina Abu Bakar sebagai pengganti menjelang beliau wafat (kayak sistem kerajaan / monarki zaman sekarang). Sayyidina Utsman dipilih oleh tim formatur 6 sahabat besar (kayak pemilihan oleh MPR di masa Orde Baru), sedangkan Sayyidina Ali dipilih oleh masyarakat dalam kondisi kacau pasca pembunuhan Sayyidina Utsman (mirip Pemilu lagi).

Kemudian, Sayyidina Hasan menyerahkan kekuasaan pada Sayyidina Muawiyah untuk mencegah perselisihan ummat Islam dan menjaga persatuan (mirip dengan penyerahan kekuasaan oleh Bung Karno pada Pak Harto di awal Orde Baru).

Jadi sebagai sebuah sistem politik khulafa’ rasyidun tak memiliki cara tunggal dalam mekanisme suksesi. Padahal soal suksesi adalah salah satu hal paling pokok dalam sistem politik.

Baca: Hadits-Hadits yang Menyatakan Khilafah Telah Rampung

Dalam pola pemerintahan juga berbeda beda. Sayyidina Abu Bakar yang hanya memerintah dua tahun sibuk mengurusi pemberontakan kaum murtad dan orang orang yang menolak membayar zakat. Hal yang mirip terjadi di masa Sayyidina Ali yang memerintah sekitar empat tahun.

Sayyidina Umar yang memerintah 10 tahun sistemnya agak terpusat. Beliau melarang para sahabat besar (tokoh tokoh penting di masa itu) tinggal di daerah. Jadi agak sentralistik.

Sayyidina Utsman yang memerintah 12 tahun dalam usia sepuh (70 sampai beliau wafat dibunuh di usia 82 tahun) agak desentralistik, memberikan kewenangan banyak pada gubernur. Sayyidina Hasan tak sempat memerintah secara efektif karena waktu yang terlampau pendek.

Hal ini menunjukkan bahwa dari segi sistem pemerintahan khulafa’ur rasyidun juga beragam. Yang tak berbeda dari para khalifah ini adalah akhlaknya. Semuanya orang orang yang bertaqwa pada Allah dan menyayangi rakyatnya. Semuanya mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi.

Semuanya tak ada yang cinta dunia dan menumpuk kekayaan pribadi dan keluarga. Semua mengutamakan maslahah dan bermusyawarah dengan orang orang yang pantas. Semuanya rela berkorban dan berjuang. Akhlaq inilah yang menonjol dalam sejarah khulafa’ rasyidun, dan bukan sistem. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ab]

close
Banner iklan disini