Kenikmatan Khusus Orang Mukmin Melihat Allah di Akhirat
Cari Berita

Advertisement

Kenikmatan Khusus Orang Mukmin Melihat Allah di Akhirat

Duta Islam #07
Selasa, 25 Juni 2019

Orang mukmin akan melihat allah di akhirat
Penjelasan orang mukmin akan melihat allah di akhirat. Foto: istmewa
Melihat Allah SWT dengan mata kepala secara langsung adalah kenikmatan khusus untuk orang mukmin.

DutaIslam.Com - Kewajiban kita sebagai orang mukmin adalah mengimani bahwa kelak nanti di akhirat akan bertemu dan melihat Allah SWT, yang mana sudah termaktub di dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf. Ini menjadi sebuah prinsip atau pemahaman dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:

Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tidak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan, Dia tidak ada yang dapat menentang-Nya, Dia tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” (Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31).

Masih dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:

وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

Artinya:
Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat Al-Fiqh Al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali Al-Qari, h. 136-137).

Pernyataan Al-Imam Abu Hanifah ini sangat jelas dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung melihat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, namun Allah bukan berarti di dalam surga. Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.

Baca: Pertanyaan Tentang Mengenal Allah yang Sulit Dijawab oleh Orang Tua

Pada bagian lain dari Syarah Al-Fiqh Al-Akbar, yang juga dikutip dalam Al-Washiyyah, Al-Imam Abu Hanifah berkata:

ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

Artinya:
Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (Al-Fiqh Al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali Al-Qari’, h. 138).

Kemudian pada bagian lain dari Al-Washiyyah, beliau menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

Artinya:
Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat Al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid Al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali Al-Qari dalam Syarah Al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Dalam Al-Fiqh Al-Absath, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

Artinya:
Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat Al-Fiqh Al-Absath karya Al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid Al-Kautsari, h. 20).

Pada bagian lain dalam kitab Al-Fiqh Al-Absath, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

“Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

Orang Mukmin Akan Melihat Allah di Akhirat


Keberadaan mukminin di Surga melihat Allah SWT tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk, tanpa disifati penyerupaan dan tanpa arah. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Abu Hanifah yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak berada di suatu arah dan tidak di suatu tempat, tetapi mereka yang berada di surga. Mereka melihat Allah yang tidak bisa digambarkan dan tidak ada keraguan, apakah yang dilihatnya Allah atau bukan. Sebagaimana tidak ragu melihat bulan purnama tanpa awan."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan :

انكم سترون ربكم يوم القيامة كما ترون القمر ليلة البدر لا تضامون في رؤيته

Artinya:
"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat (dengan yakin bahwa yang dilihatnya adalah Allah) sebagaimana kalian (yakin) melihat bulan pada malam bulan purnama yang tidak akan berdesak-desakan dalam melihatnya." (HR. Muslim)

Melihat Allah bila kaif (tanpa diketahui bagaimana keadaannya), yaitu melihat Allah tanpa membutuhkan jarak dekat atau jauh, melihat Allah tanpa membutuhkan cahaya, melihat Allah tidak diam dan tidak bergerak, karna sifat makhluk adalah ciptaan Allah, dan Maha Suci Allah dari sifat makhluk itu sendiri.

Walaa Tasybiih, melihat Allah tanpa penyerupaan, Allah SWT tidak sama dengan manusia (beranggota tubuh, wajah, mata, kaki, mulut, tangan, dan lain-lain). Allah tidak sama dengan cahaya. Allah bukan benda yang bisa dipegang oleh tangan dan Allah bukan benda yang tidak bisa dipegang oleh tangan. Jadi melihat Allah tidak sama dengan melihat manusia, ataupun melihat cahaya.

Walaa jihat, melihat Allah tanpa arah, yaitu Allah tidak disurga, Allah tidak di arasy, Allah tidak di langit, Allah tidak di mana-mana, tidak di depan kita, tidak di belakang kita, tidak di atas kita, tidak di bawah kita, tidak di kanan kita, tidak di kiri kita, dan Allah tidak di dalam tubuh kita. Karna semua arah itu adalah makhluk, Maha Suci Allah dari sifat makhluk itu sendiri.

Imam Ahmad ar-Rifa'i menyatakan:

غاية المعرفة بالله الايقان بوجوده تعالعى بلا كيف ولا مكان

Artinya:
"Puncak(batas akhir) Mengenal Allah adalah meyakini Allah Ta'ala ada tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk dan (Allah SWT ada) tanpa tempat."

Setelah meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, tentunya orang yang beriman akan di goda oleh Setan dengan membisikkan di hatinya; "katanya Allah ada di arasy, katanya Allah ada di langit, katanya Allah seperti manusia yang beranggota tubuh yang mempunyai wajah, mata, tangan, dan kaki."
Kata-kata ini mungkin terlintas di hati siapa saja. Maka untuk menghilangkan lintasan ini , baiknya selalu mengingat:

Baca: Nasab Bukanlah Jaminan Nasib Seseorang

"Bahwa kaidah agama menyatakan Allah adalah Tuhan, selain Allah adalah makhluk (di ciptakan). Jadi, langit, arasy, surga dan yang lainnya adalah diciptakan, sedangkan Allah tidak butuh kepada ciptaan-Nya.

Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Tsauban bin Ibrahim Dzun Nun Al-Mishri berkata:

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذٰلك

Artinya:
"Apapun yang terlintas di hatimu tentang Allah, maka Allah berbeda dengan semua itu."

Nikmat yang paling besar bagi penduduk surga adalah melihat Allah. Para Wali dapat melihat Allah SWT setiap hari dua kali, sedangkan yang lain dapat melihat Allah seminggu sekali.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

اذا دخل اهل الجنة الجنة، يقول الله تبارك وتعالى : تريدون شيئا أزيدكم؟ فيقولون : ألم تبيض وجوهنا ؟ ألم تدخلنا الجنة وتنجنامن النار؟ فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب اليهم من النظر الى ربهم
(رواه مسلم)
Artinya:
"Dia berkata: Jika orang-orang surga masuk surga dia berkata: Allah berfirman (interpretasi maknanya): "Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih?" Mereka berkata, "Apakah kamu tidak memutihkan wajah kita?" Apakah kamu tidak masuk surga dan menghindari api? Ayat ini: (bagi mereka yang telah berbuat baik dan meningkat)." Diceritakan oleh Muslim.

Tetap shalawat, semoga berkah manfaat. Allaahumma Shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini