Generasi Emas Para Kiai Keturunan Mbah Ahmad Mutamakkin - Dulu dan Sekarang
Cari Berita

Advertisement

Generasi Emas Para Kiai Keturunan Mbah Ahmad Mutamakkin - Dulu dan Sekarang

Duta Islam #01
Selasa, 18 Juni 2019

nama para kiai di kajen margoyoso pati
KH. Abdullah Salam Kajen (berpeci putih) dan Gus Dur. Keduanya adalah dzurriyah Syaikh Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. (Foto: NU Online)

Oleh Ubaidillah Achmad

Dutaislam.com - Beberapa Tokoh Penting, Ulama Nusantara pernah belajar ilmu keislaman dan menandai keemasan kisah belajar dari pesantren Kajen Margoyoso Pati, dimulai sejak abad 18 M hingga sekarang ini.

Jejak para Ulama lulusan pesantren Kajen, masih berpengaruh kuat pada masa generasi melenial sekarang ini. Mereka ini menjadi Ulama dan mengembangkan institusi keilmuan pesantren di seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Ulama Kajen dari generasi emas Syekh Ahmad Al Mutamakkin pada abad 19, telah menjadi peletak Khazanah Islam Nusantara, yang mencetak khatib, musnid, mu’allif,  jurnalis, diplomat, penyair, dan lain sebagainya.

Sepanjang masa itu pula, para ulama Nusantara, telah memberikan warna dan peran besar bagi sejarah perkembangan tradisi keilmuan dunia Islam, melalui generasi Emas Syekh Ahmad Al Mutamakkin, sebagai waliyullah yang fenomenal pada zamannya.

Baca: Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi' Abdillah Ini Perlu Disebarkan

Sebut saja di antara Ulama Nusantara ini, misalnya Syaikh Mahfudz At-Tirmisy, Syekh Shaleh Darat, Syekh Khalil Bangkalan, Syekh Hasyim Asy'ari, KH. Bisyri Syamsuri, Dan Ulama dari geneologis (Bani) Syekh Ahmad Al-Mutamakkin sendiri.

Beberapa nama di atas adalah sekian dari banyaknya ulama Nusantara yang mengajar dan berkarir menyebarkan Islam Nusantara dan menjadi akar nilai budaya pesantren yang menguatkan organisasi Nahdlatul Ulama.

NU lahir jauh setelah wafat Syekh Ahmad Al Mutamakkin, namun nilai budaya Islam Nusantara yang dikokohkan dalam muktamar NU ke 33 di Jombang, tidak terlepas dari nilai transformasi budaya Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

Warisan geneologi gerakan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin sekarang ini, masih terbaca pada kiprah para dzuriyah, yang di antaranya seperti KH. Abdullah Salam, KH. Sahal Mahfudz, KH. A. Fayumi Munji, KH. A. Tamamuddin Munji, KH. Said Aqiel Siraj, KH. Ulil Abshar Abdallah, Ny. Hj. Badriyah Fayumi.

Pesantren "Tengah" Raudlatul Ulum Kajen
Salah satu di antara saksi yang merekam kenangan masa keemasan generasi emas Syekh Ahmad Al Mutamakkin, adalah Pesantren "Tengah" Raudlatul Ulum, yang terletak di selatan Masjid Kajen. Pesantren ini didirikan pada abad 19 M oleh Syekh Ismail Muhammad Al-Jawi.

Kurang dari 10 tahun, pesantren ini segera mendapatkan sambutan yang luar biasa. Paradigma keilmuan ini pun berkembang pesat dan berpengaruh di kalangan para Ulama Nusantara. Pesantren ini bukan hanya menjadi tempat belajar dan mengajar orang-orang Nusantara yang ingin mendalami ilmu keagamaan. Dari pesantren ini, telah mendorong pengembangan pengelolaan lembaga pendidikan lebih modern di desa Kajen Margoyoso Pati, yang kelak melahirkan ulama Nusantara.

Dalam buku Syekh Mutamakkin Perlawanan Kuktural Agama Rakyat, hasil penelitian Zainul Milal Bizawie, menjelaskan kelanjutan perjuangan Al Mutamakkin telah sampai pada masa buyutnya, Syekh Ismail Muhammad Al Jawi (pesantren "Tengah" PRU), mengambil bentuk pesantren pertama Kajen, sekitar akhir abad 19.

Kemudian di susul pesantren Kulon Banon yang diprakarsai Kiai Nawawi Bin KH. Abdullah (1900), pesantren Wetan Banon yang diprakarsai Kiai Syiraj Bin KH. Ishaq. Baru sekitar delapan tahun (1910), KH. Abdussalam mendirikan pesantren Polgarut, yang kemudian bernama Polgarut Utara (PMH Putra) dan Polgarut Pusat (polgarut selatan).

Pesantren Waturaya, juga generasi emas Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, yang dikelola oleh buyutnya, bernama Syekh Muhammad Syahid, yang dikenal luas sebagai guru Syekh KH. Shaleh Daratl

Selain penelitian Milal, dari kisah sejarah lokal dijelaskan bahwa, dari Syekh Ismail Muhammad, pesantren "tengah" PRU dilanjutkan oleh KH. Munji, berputra: KH. A. Fayumi, dikenal sebagai  Ulama Falaq yang meneruskan pesantren "tengah" dan KH. A. Tamamuddin Munji yang menjadi Musyid Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah dan Pengasuh Pesantren Njumput, yang berpusat di belakang Masjid Al-Mubarak, Desa Sidorejo Kec. Pamotan Kab. Rembang.

Baca: Dikasi Sedekah (Amplop), Mbah Dullah Salam: Kamu Anggap Saya Faqir?

Mbah Siraj, pendiri pesantren Salafiyah salah satu di antara murid kesayangan Syekh Ismail Muhammad, telah berhasil mendirikan lembaga pendidikan pesantren dan formal Pesantren Salafiyah Kajen. Mbah Siraj, adalah ayahanda KH. Baidlawi yang menjadi guru KH. Ma'syum Lasem, ulama besar yang berpengaruh pada awal berdiri organisasi Nahdlatul Ulama.

Sejak Syekh Ismail Muhammad Al Jawi Wafat, pesantren diteruskan oleh seorang putra bernama, KH. Munji. Awal Kiai Munji berkiprah meneruskan pesantren ini, telah mengalami masa kiprah yang penuh tantangan, sebab Ketika Syekh Ismail Muhammad Wafat, Kiai Munji terbilang masih sangat muda, sehingga dari usia ini harus meneruskan pesantren Syekh Ismail yang sudah dikenal luas bagi para santri yang ingin belajar kepada dzuriyah Syekh Ismail Muhammad di Kajen. Kebesaran Syekh Ismail Muhammad ini membuat keluarga Syekh Ismail menjadi sasaran kekerasan penjajah Belanda.

Dari local histories, foto dan karya Syekh Ismail Muhammad banyak dimusnahkan oleh para Penjajah, sehingga hingga sekarang tidak ditemukan foto dan karya bidang ilmu keislaman Syekh Ismail Muhammad dan putra beliau, benama KH. Munji.

Meskipun demikian, jejak Syekh Ismail Muhammad Al Jawi dan putranya, bernama KH. Munji, masih mudah ditemukan bagi generasi berikutnya, berupa pesantren tengah yang sekarang menjadi pesantren Raudlatul Ulum Kajen.

Baca: Kisah Kedekatan KH Ahmad Shodiq dengan Gus Dur, Saling Berebut Cium Tangan

Syekh Ismail Muhammad meneruskan keilmuan Syekh Ahmad Al Mutamakkin, dalam bidang ilmu kalam, ilmu fiqih, ilmu mantiq dan 'arudl. Sedangkan, Syekh Murtadla (Ayah KH. Muhammad Syahid yang menjadi Guru KH. Shaleh Darat) meneruskan bidang ilmu tasawuf. Pada masa ini, Kajen telah melahirkan para santri yang belajar ilmu keislaman..

Alkisah, KH. Munji pernah suatu ketika ingin belajar kepada Syekh Khalil Bangkalan dan KH. Shaleh Darat, namun beliau berdua tidak menerimanya, karena hormat kepada Syekh Ismail Muhammad.

KH. Munji dianggap lebih baik meneruskan pengelolaan Pesantren Tengah warisan Syekh Ismail Muhammad Al Jawi, sehingga pengelolaan pesantren tengah tidak kosong dan masih tetap berlanjut mengisi keberlangsungan sejarah keemasan generasi Emas Syekh Ahmad Al Mutamakkin. [dutaislam.com/ab]

Ubaidillah Achmad, penulis Buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng,
khadim Pesantren Bait As-Syuffah An-Bahdliyah, Desa Njumput-Sidorejo, Pamotan, Rembang.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah