Belajar dari Metode Profetik Guru Sekumpul
Cari Berita

Advertisement

Belajar dari Metode Profetik Guru Sekumpul

Duta Islam #03
Rabu, 19 Juni 2019

Pelaksanaan Haul ke-14 KH Zaini Abdul Ghani atau dikena Abah Guru Sekumpul di Mushala Ar-Raudah Sekumpul Martapura yang puncaknya pada Minggu (10/3) sehabis Salat Maghrib berjalan lancar. Foto: TribunBanjarmasin.com.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas

DutaIslam.Com - Ketika mengajukan proposal penelitian disertasi pada 2011, seseorang bertanya: Kenapa Pak Ersis tertarik meneliti tentang Guru Sekumpul? Pertanyaan tersebut saya jawab ”memutar”:

Pada kisaran 1990, saya ikut mertua (Mardani dan Salmah) berjualan aneka kuliner Banjar di kompleks Sekumpul pada pengajian Sabtu dan Minggu. Puluhan ribu orang fokus menerima hikmah-hikmah Guru Sekumpul.

Bertahun-tahun hal tersebut berlanjut sampai Guru Sekumpul didera sakit. Penulis terenyuh dengan keistiqamahan Guru Sekumpul. Sakit bukan penghalang berbagi. Pengajian tetap berlangsung.

Ketika Guru Sekumpul akan berobat ke RSUD Ulin atau ke Surabaya, jemaah tercenung. Sedih. Air mata mengalir. Bandingkan dengan di kelas atau ruang kuliah. Bila guru atau dosen berkata: ”Pukul 10.00 kelas dibubarkan sebab ada rapat guru dengan Komite Sekolah atau seorang dosen memberi tahu, minggu depan kuliah libur karena Bapak akan mengikuti pelatihan ke Jepang”, apa reaksi murid atau mahasiswa? Horeeeee. Ada yang mendekap dada: Alhamdulillah. Senang alang kepalang. Lega. Bahagia.

Kegembiraan murid atau mahasiswa manakala kata libur diucapkan guru atau dosen berkebalikan dengan jemaah pengajian Guru Sekumpul yang berwajah sedih dan sendu. Ketika membimbing Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mahasiswa calon guru saya goda: ”Apa perbedaan suasana pengajian Sekumpul dengan suasana kuliah?” Biasanya mahasiswa diam.

Kelas atau ruang kuliah adakalanya menjelma menjadi ruang tidak menyenangkan, bahkan bisa menakutkan. Agar tidak dilanda ketegangan saya goda mahasiswa: “Kecuali kelas saya he he he”. Setelah terlihat wajah gembira mahasiwa, godaan ditingkatkan: ”Guru Sekumpul menjadikan medan pembelajaran bak suasana surga, dan karena itu, bila kalian kelak menjadi guru, jangan pernah menjadikan ruang kelas bak neraka”.

Pendidikan Karakter
Pendidikan merupakan proses belajar yang berfungsi sebagai pembentukan karakter. Pembentukan karakter dimaksudkan agar peserta didik melakukan perubahan ke arah lebih baik dengan pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Apapun itu, pendidikan, begitu teorinya, sepanjang masa memerlukan pembaharuan, baik konsep maupun praktiknya.

Karena itu, sangat tepat manakala pendidikan formal, mengadopsi atau setidaknya mengambil ”pelajaran” dari apa yang dipraktikkan Guru Sekumpul. Guru Sekumpul menyajikan pembelajaran (pengajian) bermakna, terintegrasi, berbasis nilai, menantang, dan menjadikan jemaah aktif belajar. Pendidikan berbasis dakwah, ‘amar ma’ruf nahi mungkar’.

Guru Sekumpul mengajarkan hikmah untuk memperbaiki diri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat berbasis pendidikan akhlak guna membangun akhlakul karimah. Pengajian (dakwah) bertujuan agar para peserta pengajian (jemaah) memperkokoh iman kepada Allah SWT, meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, dan meneladani Rasulullah SAW.

Pendidikan profetik keselarasan antara ceramah hebat dengan contoh kontekstual, bermakna, menimbulkan penyadaran, menyenangkan dengan kesesuaian antara pengetahuan, apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan, berprinsip kaji dan gawi diperkuat karya tulis. Harap dicatat, Guru Sekumpul dididik dengan mengutamakan ketaatan beribadah dan akhlak dengan meneladani Rasulullah SAW sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah untuk diinternalisasikan yang menjadikan sikap patuh, hormat, disiplin, sabar dan ikhlas menjadi dasar membangun kepribadian dengan memahami diri; “datang dari mana, sedang dimana dan melakukan apa, dan hendak kemana”.

Hal tersebut menimbulkan ghirah, himmah dan mujahadah; bersemangat belajar; disiplin, amanah dan sabar, dan pantang menyerah. Guru Sekumpul mengembangkan potensi diri dengan mengikuti halaqah, melakukan rihlah dan siyahah dan menginternalisasikannya dengan khalwat dan suluk, bermunajat kepada Allah SWT, mengerahkan potensi membelajarkan diri. Belajar tentang Ilmu Allah melalui ciptaan-Nya memposisikan diri sebagai pembelajar seumur hidup (long live education) dan kesucian jiwa yang melahirkan keikhlasan berdakwah, istiqamah berdakwah.

Teladan
Guru Sekumpul menjadi teladan orang berilmu (alim), sesuai antara pengetahuan, perkataan, perbuatan dan istiqamah berdakwah. Nilai-nilai membelajarkan diri tiada henti dan menjadi pengajar berdasar keikhlasan membangun kepribadian dan melakukan dakwah powerful. Mempelajari ilmu melalui dua jalan, yaitu ilmu awraq yang tertulis dalam kitab atau catatan-catatan dengan mempelajarinya atau belajar kepada ulama dan ilmu azwaq buah ketakwaan dengan mengamalkan ilmu-ilmu syariat, yaitu ilmu laduni yang langsung diturunkan Allah SWT.

Pendidikan adalah perjuangan, calling sebagai fardu ‘ain. Dengan menyalin sifat-sifat Rasulullah; sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah dengan perilaku tawadhu’ (rendah hati), zuhud (hanya mengharapkan ridha Allah SWT), dan wara’ (memelihara diri dari perbuatan syubhat). Karena itu logis berwibawa dan dipercaya sebagai wali (waliyullah) ber-karamah.

Guru Sekumpul istiqamah berdakwah, dan dalam kondisi sakit, memberikan pengajian dari tempat tidur, dan mendoakan sambil menangis kepada Allah SWT, agar murid dan jemaah pengajian Sekumpul diselamatkan di dunia dan di akhirat, mengingatkan kepada kata-kata Rasulullah menjelang wafat, ummati, ummati, ummati. Tidak syak lagi, Guru Sekumpul secara kaffah meneladani Rasulullah.

Guru Sekumpul menanamkan optimistis. Wajib bagi setiap manusia mengenal dirinya dalam memperkokoh iman, meningkatkan ketakwaan dengan meneladani Rasulullah sebagai jalan lurus yang diridhai Allah SWT. Tidak syak lagi, Guru Sekumpul mempunyai pengetahuan sangat bagus tentang Alquran, Hadis Rasulullah, dan syariat Islam yang dikemas untuk aktivitas dakwah yaitu: dakwah bil-lisan, dakwah bil-hal, dan dakwah bit-tadwin. Formulasi ketiga pilahan tersebut penulis tasbihkan sebagai Metode Guru Sekumpul.

Kata kunci dalam pendidikan karakter memahami karakter Rasulullah untuk dijadikan teladan dan dipraktikkan dalam kehidupan. Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan berdasar Alquran yang aplikasinya dalam perilaku kehidupan Rasulullah.

Kehidupan Guru Sekumpul adalah kehidupan profetik berbasis sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah yang membentuk pendidikan profetik dengan jalan dakwah bil-lisan, dakwah bil-hal dan dakwah bit-tadwin. Formula dan implementasi pengajian Guru Sekumpul penulis narasikan sebagai Metode Guru Sekumpul. [dutaislam.com/pin]

Ersis Warmansyah Abbas, Kepala Pusat Kajian Pengembangan dan Pelayanan Pendidikan ULM. Artikel ini disadur dari TribunBanjamasin.com dengan judul asli 'Metode Profetik Guru Sekumpul'.





close
Banner iklan disini