8 Ibadah Terlarang saat Keluar Darah Kewanitaan
Cari Berita

Advertisement

8 Ibadah Terlarang saat Keluar Darah Kewanitaan

Duta Islam #04
Rabu, 26 Juni 2019

Penjelasan ibadah yang diharamkan saat sedang haid dan nifas (sumber: istimewa)
Dalam kajian fikih, darah yang keluar dari kewanitaan perempuan terbagi menjadi tiga macam. Pertama, darah haid. Kedua, darah nifas dan ketiga darah istihadhah.

DutaIslam.Com - karakteristik ketiga macam darah tersebut berbeda-beda. Darah haid merupakan siklus rutinan yang keluar saat dalam kondisi sehat. Darah Nifas keluar saat melahirkan. Sedangkan darah istihadhah merupakan darah penyakit.

Seorang perempuan yang dalam keadaan haid dan nifas tidak diperbolehkan melakukan ibadah. Mereka diperkenankan melakukan ibadah ketika sudah suci dan melakukan mandi jinabat.

Baca: Permulaan Perempuan Haid

Dalam kitab at-Tahdzhib Fi Adillati Matnil Ghoyah Wa Taqrib dijelaskan, ada delapan hal yang diharamkan saat perempuan dalam keadaan haid dan nifas.

ويحرم بالحيض والنفاس ثمانية أشياء: الصلاة والصوم وقراءة القرآن ومس المصحف وحمله ودخول المسجد والطواف والوطء والاستمتاع بما بين السرة والركبة

"Haram sebab haid melakukan 8 hal: shalat, puasa, membaca al-Quran, memegang mushaf, membawa mushaf, masuk masjid, bersetubuh dan berfantasi dengan anggota tubuh antara pusar dan lutut".

Larangan pertama bagi perempuan yang sedang dalam masa haid dan nifas adalah shalat. Larang shalat bagi perempuan haid atau nifas berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim ( at-Tahdzhib Fi Adillati Matnil Ghoyah Wa Taqrib, hal 38).

Selama dalam keadaan haid atau nifas, wanita muslimah tidak diperkenankan melakukan shalat. Dan ketika telah kembali ke masa suci, maka ia tidak ada kewajiban mengqdha shalat yang ditingalkannya saat sedang dalam keadaan haid atau nifas.

Baca: 3 Jenis Darah Kewanitaan Menurut Ulama Fikih

Larangan kedua adalah berpuasa. Puasa merupakan ibadah yang diharamkan bagi perempuan yang sedang haid atau nifas. Jadi selama haid atau nifas, ia tidak menjalankan ibadah puasa sebagaimana umat Islam lainnya. Namun, setalah suci dari haid atau nifas ia berkewajiban mengganti puasa yang ditinggalkannya.

Selanjutnya larangan ketiga dan keempat adalah membaca al-Quran dan memegang mushaf. Perempuan yang haid dan nifas diharamkan untuk membaca al-Quran dan memegang mushaf.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis yang berkaitan dengan larangan membaca al-Quran bagi yang sedang haid atau dalam keadaan berhadas besar.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يَقْرَأ الجُنُبُ والحَائِضُ شيئاً مِنَ الْقُرْآن

" Orang yang dalam keadaan jinabat dan haid tidak diperkenankan membaca apapun ayat al-Quran (HR. Ibnu Majah)

Dalam beberapa penjelasan di kitab fikih, larangan membaca al-Quran bagi orang haid atau nifas jika diniatkan melafadzkan al-Quran. Berbeda jika diniatkan dzikir, sebagian ulama fikih memberpolehkannya.

Larangan keenam adalah berdiam di masjid. Perempuan yang sedang dalam keadaan haid atau nifas dilarang berdiam diri di dalam masjid. Hal itu dikhawatirkan akan mengotori masjid.

Kemudian yang ketujuh adalah thawaf. Larangan thawaf bagi perempuan yang sedang jinabat karena thawaf itu seperti shalat. Di mana syarat menjalaninya harus suci dari hadas kecil maupun besar.

Baca: Darah Haid yang Terputus Tak Teratur, Antara Haid dan Istihadlah

Rasulullah bersabda:

الطواف بالبيت صلاة، إلا أن الله أحل لكم فيه الكلام، فمن تكلم فلا يتكلم إلا بخير

“Thawaf di Baitullah itu (sebagaimana) shalat. Kecuali, Allah membolehkan dalam thawaf itu berbicara. Barangsiapa (ketika thawaf) berbicara, maka hendaknya ia mengucapkan hal-hal yang baik" (HR. Imam Hakim).

Selanjutnya larangan yang terakhir adalah bersetubuh atau hanya sebatas istimta' antara pusar dan lutut. Larangan tersebut berlandaskan Surat al-Baqarah ayat 222, yang menjelaskan haramnya bersetubuh sampai datangnya masa suci.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang mahîdh. Katakanlah, ‘Ia adalah gangguan.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah amat bersuci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kamu” (QS. al-Baqarah: 222).

Sedangkan ketika perempuan mengeluarkan darah istihadhah, maka ia tetap berkewajiban menjalankan ibadah. Namun sebelum melakukan ibadah, ia berkewajiban wudhu dan membersihkan darah yang ada di sekitar farjinya. Begitu juga menyumbat farjinya dengan kapas untuk mencegah kelaurnya darah saat shalat. [dutaislam.com/in]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah