Setara Institute: Perusuh 22 Mei Ingin Tiru Suriah, Tapi Gagal
Cari Berita

Advertisement

Setara Institute: Perusuh 22 Mei Ingin Tiru Suriah, Tapi Gagal

Duta Islam #02
Kamis, 30 Mei 2019

Rusuh 22 Mei. (Foto: Antara)
DutaIslam.Com - Ketua Setara Institute Hendardi menilai pihak-pihak yang memiliki kepentingan lewat peristiwa kerusuhan 21-22 Mei berharap situasi keamanan yang sempat mencekam dapat memberi efek domino pada aspek politik di Tanah Air seperti di Suriah. Menurut Hendardi, harapan itu pupus.

"Mereka memaksakan tindakan rusuh dengan berharap ini akan melahirkan efek domino politik seperti di Suriah. Ada martir yang dikorbankan, harapannya memicu instabilitas politik skala besar dan diharapkan Presiden tidak bisa mengendalikan situasi," kata Hendardi di Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Hendardi menuturkan skenario besar di balik aksi rusuh adalah memaksakan kehendak untuk kemenangan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun, menurut dia, paslon tersebut hanya dimanfaatkan mungkin oleh kelompok pensiunan tentara dan kelompok radikal yang mencari kekuasaan.

"Skenario terbesar di balik aksi-aksi para perusuh tersebut adalah memaksakan kemenangan paslon 02 melalui dua saluran utama. Pertama, prosedur yuridis, dengan memaksakan kehendak kepada Bawaslu untuk mendiskualifikasi paslon 01. Itulah mengapa tekanan yang mereka berikan sebagian besar melalui Bawaslu. Kedua, politik jalanan dan inkonstitusional," ucap Hendardi.

"Aktor utamanya hanya ada dua kemungkinan, yaitu pensiunan tentara dan jaringan kelompok radikal, yang pada dasarnya simpatisan dan pendukung yang menunggangi paslon 02 untuk kepentingan politik mereka masing-masing. Kalau preman-preman bayaran, itu pion saja, hanya dipakai untuk kepentingan mereka," sambung Hendardi.

Hendardi mengatakan skenario kerusuhan dengan tujuan politik ini tak berjalan mulus karena sudah terendus, termasuk tujuan di balik skenario Gerakan Kedaulatan Rakyat.

"Banyak pihak sudah membedah rusuh 21 dan 22 Mei itu. Aksi dua hari itu gagal total, tidak rapi, dan terlalu telanjang. Kedaulatan rakyat itu hanya mainan label mereka saja. Di samping itu, aparat keamanan jauh lebih siap. Dua hari itu aparat menangani dengan baik, dan besok di MK pasti lebih baik lagi," ujar Hendardi.

Hendardi berpendapat Prabowo juga tak dapat mengendalikan massa yang meneriakkan dukungan kepadanya karena sebenarnya Prabowo bukan sosok solidarity maker di tengah-tengah kelompok yang mendorong kemenangannya pada Pilpres 2019. Hendardi melihat Prabowo malah sesungguhnya dimanfaatkan.

"Yang bisa menghentikan mereka tidak ada. Karena mereka pada dasarnya punya agenda masing-masing. Prabowo juga tidak. Di tengah-tengah kelompok itu, Prabowo bukan solidarity maker. Dia figur elite yang juga sesungguhnya 'dipionkan' sebagai simbol oleh mereka, bahwa ini seakan-akan kontestasi elektoral dalam kerangka demokrasi," Hendardi menilai.

Direktur Imparsial Al Araf sependapat dengan analisis Hendardi. Kelompok yang 'bermain' dalam kerusuhan, disebut Al Araf, sengaja ingin Indonesia kacau dan mungkin berharap Indonesia seperti Suriah.

"Nah, tujuan politiknya lebih besar, bukan hanya soal sengketa pemilu, tapi secara keseluruhan Indonesia chaos. Mungkin berharap Indonesia dalam konteks Suriah. Makanya penangkapan (perusuh) masif dilakukan (oleh polisi) di beberapa tempat," tutur Al Araf.

Al Araf juga sependapat dengan Hendardi yang mengatakan kubu paslon Prabowo-Sandi ditunggangi kepentingan kelompok radikal. Buktinya, kata Al Araf, polisi telah melakukan banyak penangkapan terhadap jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah yang hendak menyusup di tengah kegiatan unjuk rasa.

"Kita bisa lihat sebelum 22 Mei, penangkapan terhadap JAD dilakukan berulang-ulang, namun tidak ditangkap oleh logika publik. Kurang-lebih 20 teroris ditangkap karena ingin melakukan serangan pada aksi 22 Mei," jelas Al Araf. [dutaislam.com/gg]

Keterangan: Teks sepenuhnya dari Detikcom

close
Banner iklan disini