Mencegah Stres Karena Gagal Terpilih dalam Pemilu
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Mencegah Stres Karena Gagal Terpilih dalam Pemilu

Duta Islam #02
Jumat, 10 Mei 2019
Loading...

Ilustrasi caleg stres. (Foto: istimewa)
Oleh Zakiya Fatihatur Rohma

DutaIslam.Com - Pemilu telah usai. Saatnya menunggu pengumuman hasil suara pada tanggal 22 mei sesuai dengan jadwal yang ditetapkan KPU. Bebarapa caleg dan capres tentunya berharap menjadi pemenang dalam pemilu dan pilkada serentak tahun ini. Namun, dalam sebuah perlombaan atau kontestasi politik harus ada yang kalah dan menang. Pihak yang menang tentu akan berbahagia dan pihak yang kalah sering kali dirundung duka. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pihak yang kalah akan mengalami stres.

Menjadi petarung politik harus mempunyai kesiapan mental dan materi yang matang. Kesiapan mental dapat memberikan sikap legowo untuk menerima kekalahan. Sedangkan kesiapan materi dapat mengatasi kerugian finansial selama masa kampanye. Tanpa kedua kesiapan tersebut sangat dimungkinkan terjadinya stres politik yang berujung menjadi pasien rumah sakit jiwa. 

Sudah banyak kasus caleg gagal yang stres dan mengalami gangguan jiwa. Bahkan, pasca pemilu 2014 terjadi kenaikan 20 persen orang yang mengalami gangguan jiwa. Mereka adalah para caleg yang tidak siap atau tidak mampu menerima kekalahan. Ketidakmampuan tersebut karena perasaan telah banyak kehilangan dalam masa-masa kampanye. Tidak hanya kehilangan secara materil tapi juga non-materil seperti tenaga, pikiran dan harga diri. Seseorang yang kehilangan harga diri atau martabat menjadikan jiwanya tertekan, gelisah dan menderita kecemasan. 

Nafsu Politik
Nafsu memang melenakan. Seseorang yang menghabiskan waktunya untuk mengumbar nafsu, mengejar harta, kekuasaan dan ketenaran maka dia termasuk orang yang ghafil. Orang ghafil adalah orang yang mengalami ghaflah, kelalaian dan keterlenaan. Demikian penjelasan Haidar Bagir dalam bukunya “Dari Allah menuju Allah”. Keterlenaan akan nafsu dapat membuat seseorang lupa akan jiwanya dan Tuhannya. Sehingga, hati dan jiwanya hanya dipenuhi nafsu dunia untuk mengejar kekuasaan. Jiwa nya menjadi sakit dan membutuhkan obat hati. 

Nafsu politik membuat seseorang menjadi ghafil. Jiwanya tidak lagi mengingat Tuhannya sebagai kekasihnya. Dia hanya mencari kepuasaan jasmani untuk mengejar ketenaran. Sehingga ketika yang dikejar tidak dapat dicapai hatinya menjadi kecewa dan tidak tenang. Dia melupakan sumber ketenangan hatinya yang sesungguhnya. Dia melupkana cara mendapatkan kenikmatan batin dan justru merusaknya dengan nafsu politik yang tidak terpenuhi. 

Seseorang yang tidak dapat menaklukkan nafsu politik sangat rawan mengalami stres. Dia tidak mampu menerima kekalahan karena telah lalai dan terlena dengan kekuasaan. Nafsu politik mendorongnya melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenang. Jiwanya diliputi keresahan, kehawatiran dan ketakutan akan kekalahan.  

Kampanye Sehat
Mencegah stres politik juga dapat dilakukan sejak masa kampanye. Para caleg atau capres cenderung mengalami tekanan berat pada masa kampanye karena banyak dana dan tenaga yang harus dikeluarkan. Mulai dari cetak baliho, membayar iklan televisi atau radio, dana serangan fajar dan membayar saksi dengan biaya tinggi. Tingginya biaya kampanye tersebut sebenarnya tidak hanya menimbulkan stres tapi juga dapat memicu korupsi. 

Mencari pola baru dalam kampanye sangat dibutuhkan untuk membangun kampanye yang lebih sehat. Kampanye sehat akan memperbaiki kualitas masyarakat. Kampanye sehat akan membuat mental caleg lebih sehat. Tidak menggunakan hoax untuk menyerang lawan politik serta tidak menyogok rakyat untuk membeli suara mereka merupakan salah satu ihtiar mewujudkan kampanye yang sehat. Hal tersebut juga dapat mengurangi beban anggaran kampanye sehingga menurunkan tingkat stres para caleg. 

Cara lain untuk meminimalisir anggaran adalah dengan menggunakan sosial media sebagai media kampanye. Menurut Rebecca A. Hayes sosial media dapat merepresentasikan diri seseorang kepada khalayak dan mencitrakan dirinya dengan baik. Membangun citra seorang caleg sangat dibutuhkan untuk membentuk kepercayaan masyarakat. Menggunakan sosial media sebagai alat menampilkan citra sangat efektif dilakukan. Biaya untuk mengakses sosial media sangatlah sedikit. 

Selain itu, sosial media dapat menjangkau kalangan milenial atau generasi muda untuk memperoleh dukungan suara. Selain berkampanye, sosial media juga dapat dijadikan sebagai media pendidikan politik dengan memberikan pengetahuan dan informasi yang memadai. Hal tersebut akan mendorong dan menggerakkan partisipasi kalangan muda untuk memahami perpolitikan secara global dan khususnya perpolitikan di Indonesia. [dutaislam.com/gg]

Zakiya Fatihatur Rohma, Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

close
Banner iklan disini