Membumikan Narasi Damai di Bulan Ramadhan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Membumikan Narasi Damai di Bulan Ramadhan

Duta Islam #04
Kamis, 30 Mei 2019
Loading...

Narasi damai di bulan Ramadhan (photo: suarapilardemokrasi.com)
Oleh: Iin Sholihin

DutaIslam.Com - Ramadhan di mata umat Islam adalah bulan yang istimewa. Keistimewaan bulan Ramadhan karena berlimpahnya keberkahan serta dilipatgandakannya pahala amal kebaikan. Sehingga, umat Islam sangat menunggu kedatangan bulan Ramadhan.

Umat Islam selama bulan Ramadhan berpuasa agar menjadi pribadi muslim yang bertakwa. Ibadah puasa Ramadhan bukan hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, juga sebagai momentum untuk melatih diri dalam mengendalikan ego serta emosi.

Sepanjang menjalani ibadah puasa, umat Islam dituntut untuk mengedalikan ego di dalam dirinya. Pengendalian ego dapat diimplementasikan dengan sikap tidak memaksakan kehendak dan mampu bersikap terbuka.

Sedangkan pengendalian emosi dapat diejawantahkan dengan sikap kasih sayang, tidak membuat provokatif dan sikap peduli terhadap sesama.  Sikap demikian sejalan dengan pesan Rasulullah SAW kepada umat Islam agar senantiasa menjaga perkataan dan tindakan selama menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Bahkan, beliau mengingatkan kepada umat Islam agar puasanya tidak hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Beliau berharap umat Islam dapat meresapi makna puasa dan merasakan kenikmatan berpuasa.

Baca: Halal Bi Halal, Titik Temu Tradisi dan Ajaran Agama

Di era informasi, pengendalian emosi dan ego diiplementasikan dengan menjaga jari-jari untuk tidak menyebarkan konten-konten provokatif, propaganda dan fake news. Konten-konten seperti ini dapat menyulut konflik dan perpecahan.

Dampak yang ditimbulkan konten-konten yang bermuatan provokatif dan propaganda lebih berbahaya daripada senjata api. Peluru yang ditembakkan senjata api mungkin hanya dapat menembus kepala satu atau dua orang, akan tetapi konten propaganda dan provokatif bisa menembus isi kepala jutaan orang di media sosial.

Narasi damai pasca pilpres

Pasca Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan keunggulan pasangan Jokowi-KH. Ma'ruf Amin atas pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, gejolak politik di negeri ini semakin memanas. Narasi-narasi yang berujung konflik terus digulirkan ke publik.

Puncaknya, pada tanggal 22 Mei terjadi kerusuhan di beberapa titik di Jakarta. Kerusuhan tersebut berawal dari para demonstran yang menuntut kecurangan pemilu di beberapa titik di Jakarta. Karena sebelumnya narasi-narasi provokatif yang memicu konflik, akibatnya bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian tak terhindarkan.

Massa aksi menyerang aparat polisi dengan melempari batu, bahkan ada yang melempar bom molotof. Aparat polisi pun membalas dengan menembakkan gas air mata hingga melayangkan peluru karet untuk membubarkan massa yang semakian tidak kondusif dan brutal.

Baca: Idul Fitri, Halal Bi Halal dan Pemersatu Bangsa

Kerusuhan yang terjadi di Jakarta kemarin disiarkan langsung di beberapa stasiun televisi secara live. Masyarakat Indonesia menyaksikan kejadian pilu yang sedang terjadi di negeri ini. Video-video terkait kejadian tersebut bertebaran di media sosial.

Video tersebut akan memantik konflik berkelanjutan jika dibubuhi caption yang provokatif. Orang yang melihat video kerusuhan itu akan terpancing emosinya dan ikut bereaksi kalau disertai caption yang bernuansa provokasi. Dilansir dari majalah tempo, ada seorang warga Jakarta yang ikut menyerang pihak aparat polisi setelah melihat video kerusuhan yang dibubuhi caption yang provokatif di media sosial.

Reaksi spontan dari warga Jakarta akibat tidak jernih dalam menilai informasi yang tersebar di dunia maya. Tanpa adanya kroscek terlebih dahulu kronologi kejadian yang sebenarnya seperti apa. Ia akhirnya menjadi korban dari kejamnya narasi-narasi propaganda dan provokatif.

Kejadian ini menggambarkan begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan dari sebuah narasi. Kehancuran suatu negeri bisa berawal dari ujung jari. Oleh karena itu, momentum Ramadhan hendaknya mampu dijadikan sebagai labolatorium untuk memupuk semangat perdamain dan kemanusiaan.

Baca: Hikmah Puasa Ramadhan

Pada hakikatnya, puasa Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, akan tetapi sebagai upaya meningkatkan spririt kemanusian dan perdamaian.

Di bulan Ramadhan ini, kesadaran untuk memproduksi narasi damai harus terus digalakkan dan ditingkatkan. Narasi damai merupakan upaya conter narasi terhadap narasi-narasi provokatif. Dengan demikian, tidak adanya sikap saling membenci serta mencegah terjadinya konflik yang berkelanjutan. [dutaislam.com/in]
Loading...