Klaim HTI "Berjuang" untuk Indonesia Semakin Ngawur
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Klaim HTI "Berjuang" untuk Indonesia Semakin Ngawur

Duta Islam #02
Senin, 06 Mei 2019
Loading...

Buku baru membela HTI. (Sumber foto: Facebook Ainur Rofiq Al Amin)
Oleh Ainur Rofiq Al Amin

DutaIslam.Com - Baru saja pagi ini, awal Ramadhan, saya dapat kiriman soft buku "baru" dari anggota Hizbut Tahrir yang bisa disebut dia memiliki campuran antara militan, rada ngawur dan rada pening karena dibubarkan. Kira-kira itu yang cocok.

Buku itu ingin menggambarkan bagaimana ide HT, bagaimana HT "berjuang", dan bagaimana pula HT di Indonesia. Males sih baca semuanya, karena rata-rata isinya mirip dengan pembelaan saat di sidang Pengadilan Tata Usaha Negara dulu, dan mirip juga dengan yang ada di situs HT saat masih aktif maupun di majalah dan buletin HT.

Bagi saya, ya lucu saja HT merasa "berjuang", sejatinya NKRI mau digulingkan dan diganti dengan khilafah. Padahal tokoh-tokoh bangsa, termasuk tokoh NU dulu yang membela NKRI, bukan HTI. Kisah yang saya kutip dari buku Abdul Mun'im DZ di bawah ini menarik.

NU menjadikan agama sebagai inspirasi mendirikan, mengukuhkan dan mempertahankan negara. Oleh sebab itu, NU menolak terlibat dalam Darul Islam (NII, DI/TII).

Ketika situasi genting di tahun 1954, NU memberikan status pada pemerintah Indonesia, yakni memberi gelar Bung Karno sebagai waliyul Amri Addauri bissyyaukah. Gelar ini untuk menandingi gelar yang disematkan Kartosuwiryo (pimpinan Darul Islam, DI/TII) bahwa dirinya adalah sebagai amirul mukminin.

Sikap seperti ini menjadikan kelompok garis keras Darul Islam marah sehingga beberapa pimpinan NU selalu menjadi ancaman teror dan pembunuhan. Bahkan sejak 1949, KH Idham Chalid sebagai salah satu pimpinan NU merasa sering mendapat teror. Menurut penuturan KH Idham Chalid beberapa kali beliau diserang. Suatu hari, saat menginap di Puncak, Kiai Idham diberondong pasukan Darul Islam (DI). Begitu pula ketika ke Yogya, keretanya diberondong pasukan Islam garis keras itu.

Oleh Darul Islam, NU telah dianggap pengkhianat karena keluar darl Masjumi. Lebih jauh, NU dianggap kafir karena menolak negara Islam DI.

Peristiwa paling dramatis adalah saat para pimpinan NU seperti KH Idham Chalid, KH Zainul Arifin bersama Bung Karno melakukan sembahyang ldul Adha di masjid Baiturrahim di Lingkungan Istana tahun 1962. Saat itu terjadi penembakan oleh para gerilyawan DI/Tll pada para pimpinan negara ini. Dalam insiden tersebut, peci KH Idham Chalid tersambar peluru dan Bung Karno selamat. Sementara tokoh NU, yakni KH Zainul Arifin, yang juga Wakil Perdana Menteri, terkena tembakan, sehingga mengakibatkan mantan panglima Hizbullah itu meninggal dunia. Di Jawa Barat. Selain itu, beberapa pimpinan NU banyak diserang teror, bahkan ada yang gugur dibantai oleh Pasukan DI.

Elit NU dianggap kafir karena mendukung pemerintah RI. Oleh DI, negeri ini disebut sebagai Republik Indonesia Kafir. lni tentu berbeda dengan pandangan KH Ahmad Shiddiq bahwa penerimaan NU terhadap Negara Republik lndonesia tidak bersifat politis dan taktis, melainkan bersifat ideologis, syar’i, merupakan kewajiban syariah. Sehingga tidak tepat kalau NU dituduh oportunis oIeh kaum modernis terutama para simpatisan Dl/TII. [dutaislam.com/gg]

Source: Ainur Rofiq Al Amin

close
Banner iklan disini