KH. Zuhri Zaini, Kiai MasyaAllah Laborat Tasawuf Pesantren Nurul Jadid Probolinggo
Cari Berita

Advertisement

KH. Zuhri Zaini, Kiai MasyaAllah Laborat Tasawuf Pesantren Nurul Jadid Probolinggo

Duta Islam #05
Sabtu, 04 Mei 2019

KH. Zuhri Zaini Paiton Probolinggo.
Oleh Ahmad Husain Fahasbu

Dutaislam.com - Dua hari ini, timeline Facebook saya ramai dengan apa yang disebut dengan "ijtima ulama". Bagi saya dan ͟͟mungkin juga teman-teman yang lain, istilah ini tidak perlu dipersoalkan. karena "ijtima" yang bermakna berkumpul, dan makna lengkapnya "berkumpulnya para ulama", adalah hal yang positif.

Lebih-lebih "perkumpulan ulama" itu membahas hal-hal yang krusial yang menyentuh langsung kehidupan manusia.

Misalnya bagaimana pandangan Islam terhadap kaum disabilitas, bagaimana Islam memandang revolusi industri 0.4, bagaimana pandangan Islam terhadap para korban konflik agraria yang lahan produktifnya dirampas, bagaimana Islam memandang maraknya pelecehan dan eksploitasi terhadap tubuh perempuan dan lain sebagainya. Kalau pembahasannya begini, saya acungi jempol. Dahsyat!

Sebelum melangkah lebih jauh, penting dijelaskan siapa itu ulama’? Dan apa syarat-syarat seorang disebut ulama?  Terma "ulama" adalah bentuk jamak/plural dari akar kata "alim" yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan, "orang yang ahli/paham/mengetahui".

Baca: Soal Perjuangan di Jalan Allah, KH Zuhri Zaini: Tuhan Tidak Perlu Dibela

Dari keterangan ini, ibu Sri Mulyani yang beliau adalah Menteri Keuangan itu adalah ulama, karena ia adalah orang yang tahu/ahli terhadap masalah ekonomi dan keuangan. Steven Hawking, Albert Einstein, dan para saintis barat adalah ulama, karena mereka adalah orang yang ahli, mengetahui, pakar, sesuai masing-masing bidang.

Hanya saja, menurut Imam An-Nawawi, seorang faqih (ahli fiqih) Mazhab Syafi'iyah, dalam mognum opus-nya Minhaj al-Thalibin menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah mereka yang memiliki kualifikasi terhadap ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadist, fiqih. Itu saja.

Sementara orang yang ahli qiraah, ahli sastra arab, dokter, ahli ilmu kalam bukan termasuk ulama. (Al-ulama ashab ulum al-syar'i min tafsir wa hadis wa fiqh la muqri' wa adib). Selengkapnya, lihat Al-Minhaj karya An-Nawawi Bab Washaya.

Guru saya KH. Afifuddin Muhajir sering menjelaskan bahwa ulama itu adalah orang yang padanya terdapat ketaqwaan dan keilmuan yang mendalam (man jama'a bayna al-Khasyah wa al-Fiqh). Kesimpulan ini sebenarnya diilhami dari penggalan surat Al-Qur’an surat Fathir ayat 28.

انما يخشى الله من عباده العلماء

Artinya:
"Hanya saja hamba-hamba yang takut kepada Allah Swt. adalah mereka yang ulama".

Perpaduan keilmuan dan ketaqwaan adalah sebuah keharusan seseorang mendapat gelar ulama. Karena orang berilmu tanpa ketaqwaan akat menjadi jahat, sementara bertakwa tanpa ilmu adalah sesat.

Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menyebutkan, barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah ketaqwaannya, maka ia semakin jauh dari Tuhan-nya.

Lantas, siapa di Indonesia yang memiliki dua kualifikasi ini, ketaqwaan dan keilmuaan. Saya berhusnuzzan, Kiai Zuhri Zaini memiliki kualifikasi ini. Siapa Kiai Zuhri Zaini? Beliau adalah pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pesantren Nurul Jadid adalah pesantren besar yang santrinya lebih dari "7 juta" orang. Bahkan mungkin jumlah ini sangat sedikit dibanding jumlah yang sebenarnya. Bukan hanya keren dalam angka, pesantren ini juga dikenal karena kualitasnya. Dari pesantren ini lahir banyak kiai, guru, dosen, politisi dan orang-orang yang bermanfaat untuk negeri.

Baca: Kisah Ta’dzim Abdullah Bin Abbas dan Syaikhona Kholil Bangkalan

Universitas Nurul Jadid adalah simbol kemajuan pendidikan di pesantren ini. Padahal secara usia, pesantren ini belum mencapai satu abad, tetapi oleh Kementrian Riset dan Teknologi, pesantren yang didirikan oleh KH. Zaini Mun’im ini diperkenankan mengelola sebuah universitas bergengsi.

Ketika di luar sana membuncah kebencian terhadap orang Cina menguat, pesantren ini setiap tahun mengirim santrinya ke sana untuk belajar dan mencari ilmu Allah Swt. Kemampuan Bahasa Mandarin para santri sama lancarnya ketika mereka berbahasa Indonesia juga.

Jadi, tak pernah terdengar dari pesantren ini istilah semacam ganyang Cina, bunuh Cina dan lain sebagainya. Mereka terus diajari untuk mencari ilmu walau sejauh mungkin, ke negeri Cina di sana.

Kembali ke soal pengasuhnya, Kiai Zuhri Zaini.

Secara keilmuan, beliau adalah orang yang tak perlu diragukan. Mahfudz MD dalam sebuah cuitan di Twitter menyebut bahwa di Jawa Timur ada dua kiai yang walaupun tidak kuliah ke Arab dan ke Barat tetapi mampu menulis makalah ilmiah dan buku dengan baik. Dua kiai itu adalah Kiai Afifuddin Muhajir Situbondo dan Kiai Zuhri Zaini Probolinggo.

Beliau tidak hanya membaca kitab tasawuf untuk para santrinya. Tetapi ia adalah "laboratorium tasawuf" yang bisa dirujuk oleh para santri. Kesederhanannya luar biasa. Beliau sederhana dalam ucapan, tindakan dan pakaian.

Coba simak ketika beliau berpidato atau memberi ceramah. Pembawaannya datar, tenang, sejuk, sederhana dan tidak teriak-teriak. Intonasi yang sederhana dan tubuhnya yang ringkih, mengecoh para pendengarnya bahwa ia adalah seorang kiai yang alim dan mengasuh pesantren besar.

Dari segi tindakan, beliau sederhananya juga masyaAllah. Kalau berjalan selalu merunduk. Baru ketika berpasasan dengan orang lain ia menaikkan pandangannya. Lalu lebih dahulu melempar senyum kepada orang lain tersebut. Ini bukan katanya-katanya (qila wa qala), tetapi dialami oleh saya sendiri.

Beliau juga mengajar di Ma'had Aly Situbondo, tempat saya belajar. Suatu waktu, saya sedang buru-buru ke kamar mandi, hanya menggunakan sarung, kaos dan handuk yang saya pegang.

Ketika baru turun dari tangga, beliau berjalan dari arah yang berlawanan. Tiba-tiba beliau memandang saya dengan tatapan sejuk dan melemparkan senyum. Saya seperti disambar petir. Ini kiai egaliternya sundul langit begini!

Salah seorang senior saya pernah bercerita. Ketika mau ngisi pengajian sebagaimana biasa ia menunggu, beliau keluar dari wisma dosen. Tujuannya adalah untuk membawakan kitabnya. Namun, ketika kitab itu diminta, beliau berujar, tikkhel tak usah, saya kuat (bahasa Madura, terjemahnya: sudah tak perlu, saya masih kuat).

Terus saja, senior saya tersebut berjalan di belakang kiai. Ketika mendekati pintu masuk, kiai tiba-tiba berhenti dan menoleh lalu mempersilakan senior saya itu masuk ruang kuliah terlebih dahulu. Senior saya itu kemudian salting, bingung sekaligus malu.

Baca: Muktamar dan Rois Aam Jatman dari Masa ke Masa

Sejauh dalam pandangan saya, Kiai Zuhri ini kalau pergi ke undangan atau sebuah acara, beliau tidak ditemani siapa-siapa, tidak dikawal khadam yang jumlahnya puluhan apalagi sampai pakai pawai. Bahkan sopirnya selalu disuruh menunggu dalam mobil.

Begitu juga ketika memiliki keperluan dan ingin membeli sesuatu, ia pergi sendiri ke tokoh Basmalah atau ke swalayan yang lain tanpa pengawalan.

Dari segi pakaian dan fashion, tak perlu ditanya lagi. Pakaian beliau sangat sederhana juga. Bahkan jika dibandingkan dengan pakaian saya saja, sarung dan baju kiai kalah. apalagi mau dibandingkan dengan ustadz-ustadz seleb itu. Jauh sekali.

Pakaian yang biasa dipakai Kiai Zuhri adalah sarung berwarna putih, baju koko warna putih, sesekali pakai coklat dan kopyah putih. Semuanya sangat sederhana dan harga sangat murah sekali.

Rumah yang beliau tempati begitu sederhana dan apa adanya. Tidak sejalan dan sebanding dengan gedung-gedung pesantren miliknya yang amat mentereng. Mungkin Kiai Zuhri paham bahwa dunia adalah tempat sementara dan akhirat adalah tujuan selamanya. Maka biarlah rumah sederhana, asal pesantren tempat mencetak generasi megah berdiri dan menjulang tinggi.

Padahal secara trah dan garis keturunan, beliau termasuk darah biru. Leluhurnya bersambung dengan Raja-Raja Sumenep melalui Bhindere Saod. Jaraknya sangat dekat, sehingga untuk menelusuri ketinggian nasab beliau sangat mudah. Tapi keluhuran nasab tersebut tidak membikin kiai Zuhri jumawa dan merendahkan orang selainnya.

Ciri-ciri keserderhanaan, baik pada ucapan, tindakan dan pakaian yang melekat pada diri Kiai Zuhri adalah sebagai tanda bahwa ia adalah ulama. Al-Ghazali berkata:

واعلم ان اللائق بالعالم المتدين ان يكون مطعمه وملبسه ومسكنه وجميع ما يتعلق بمعاشه في دنياه وسطا لا يميل الى الترفه والتنعم.

Artinya:
“Ketahuilah, bahwa yang patut disebut ulama adalah orang yang makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya dan seluruh kehidupan duniawi sederhana tidak bermewah-mewah dan tidak berlebihan dalam kenikmatan”.

Baca: Jam'iyyah Ruqyah Aswaja Bumikan Terapi Qur'ani di Probolinggo

Melihat Kiai Zuhri Zaini ini jujur ada energi positif yang dahsyat dan masuk ke jantung hati. Tamparan, sindiran dan pukulan telak kepada saya yang sering angkuh dan jumawa padahal tak memiliki apa-apa.

Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam Al-Hikam pernah berkata:

تسبق انوار الحكماء اقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير

Artinya:
"Cahaya bijak bestari mendahului kata-katanya. ketika batin tercerahkan, kata-kata mereka sampai ke (lubuk hati pendengarnya)."

Maka, siapapun Anda yang mungkin beberapa pekan ini kecewa karena kalah di Pilpres, gagal menjadi anggota legislatif atau masalah-masalah dunia lain yang remeh itu, coba sowan ke Kiai Zuhri Zaini di Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pandangilah bagaimana beliau menerima tamu, tata cara menghidangkan teh untuk para tamu, senyum tulusnya dan ketika tangannya hendak dicium ia segera melepas dan menariknya. Siapa tahu, dengan ketemu beliau, stres Anda jadi hilang. [dutaislam.com/uf]

Ahmad Husain Fahasbu, santri Situbondo

close
Banner iklan disini