Jejak "Dua Al-Habsyi" dan Radikalisme Keturunan Arab di Indonesia

Jejak "Dua Al-Habsyi" dan Radikalisme Keturunan Arab di Indonesia

Minggu, 12 Mei 2019 | x dibaca
fakta keturunan arab di indonesia
Pada 21 Januari 1985, ledakan bom merusak sembilan stupa dan dua patung Buddha di Candi Borobudur. Wajah radikal peranakan Arab Indonesia -yang sebetulnya minoritas- lebih sering mendapatkan tempat ketimbang sisi moderatnya.
Oleh Heyder Affan

Dutaislam.com - Sepertinya tidak ada aktivitas yang mencurigakan malam itu. Hanya terdengar lagu-lagu Natal dan doa-doa dari jemaat gereja di berbagai sudut kota Malang.

Sebagian warga kota kecil itu juga barangkali asyik di depan layar kaca –termasuk saya dan keluargaku. Lainnya mungkin sudah terlelap tidur. Hari itu, 24 Desember 1984.

Namun demikian, di sudut lain kota Malang, ada sejumlah pria berjalan mengendap-endap. Mereka barangkali berkeringat dingin, dan sedikit gemetar. Dan membawa bahan peledak.

“Bleng!” Bom itu meledakkan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang, Jawa Timur.

Bunyi ledakan itu terdengar hingga ruang tengah rumah keluarga saya –yang berjarak sekitar 500 meter dari gereja Katolik itu. “Mungkin cuma tabrakan,” begitu kata yang terlontar saat itu. Saya saat itu berumur 17 tahun.

Bom Borobudur 1985
Satu bulan kemudian, 21 Januari 1985, ledakan bom dalam skala lebih besar mengguncang dan merusakkan sembilan stupa dan dua patung Buddha di Candi Borobudur.

Siapa pelaku peledakan bom di Malang dan candi Borobudur? Semua masih menjadi misteri, sampai terjadi peristiwa lain, dua bulan kemudian. Jaringan pelaku peledakan bom itu baru terungkap setelah sebuah bom meledak di dalam bus Pemudi Express.

Bom itu meledak saat melintas di Desa Sumber Kencono, Banyuwangi pada 16 Maret 1985. Penyelidikan polisi menyimpulkan bom itu hendak diledakkan di Kuta Bali.

Al-Habsyi bersaudara
Empat pelaku tewas dalam ledakan di dalam bus itu, tetapi satu orang lainnya hanya terluka. Namanya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Polisi kemudian menyeret kakaknya, Husein Ali Al-Habsyi, sebagai pelaku lainnya.

Walaupun gagal menangkap otak pelaku bernama Mohammad Jawad alias “Ibrahim” alias “Kresna”, dua orang bersaudara itu belakangan dianggap sebagai pelaku peledakan bom Borobudur.

Baca: Habib Husein, Ayah Habib Rizieq yang Pernah Divonis Mati Belanda

Saya masih ingat, melalui cerita ayah atau ibuku, sebagian warga Indonesia keturunan Arab di Malang saat itu merasa “risau” setelah dua orang warga Indonesia keturunan Arab itu disebut sebagai pelakunya.

Selama persidangan kasus ini, jaksa menuduh pengeboman candi Borobudur terkait peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984. Keduanya semacam melakukan aksi balas dendam atas penembakan aparat terhap kelompok sipil dalam kasus Priok.

Abdul Kadir kemudian divonis 20 tahun penjara, sementara Husein divonis penjara seumur hidup. Setelah kekuasaan Presiden Suharto berakhir, pada 1999, keduanya masing-masing mendapat remisi dan grasi.

Video Abu Jandal
Lebih dari 30 tahun setelah teror Bom Borobudur, warga Indonesia peranakan Arab di kota Malang, kembali dikejutkan isi pidato seorang pria yang disebut sebagai Salim Mubarok Attatimi alias Abu Jandal.

Melalui video yang diunggah di Youtube, Salim Mubarok Attamimi, pada Desember 2014 lalu, telah mengeluarkan ancaman serangan terhadap institusi TNI, kepolisian dan organisasi NU.

Salim Attamimi diyakini telah berada di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan Negara Islam atau ISIS. Sebelumnya dia disebutkan mendirikan perkumpulan tertutup di Malang.

Attamimi diyakini telah berada di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan Negara Islam atau ISIS. Sebelumnya dia disebutkan mendirikan perkumpulan yang bersifat tertutup di Malang.

Baca: Hendropriyono yang Melempar Batu "Provokator" Kepada Keturunan Arab

“Pesan ini, saya tujukan (kepada ) Panglima TNI Muldoko, Polri dan Banser,” ujar pria yang mengenakan penutup kepala hitam dan berkajet warna gelap. Polisi meyakini pria itu adalah Salim Mubarok Attatimi, seorang keturunan Arab.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyad Mbai mengatakan, keberadaan Abu Jandal terkait dengan keberangkatan belasan WNI yang berangkat ke Suriah pada Maret 2015 lalu.

Abu Jandal dan satu orang semacam LO (liaison officer)-nya ISIS dengan militan kita di sini.

Fakta keturunan Arab di Indonesia

Awal November 2015 lalu, saya pulang ke rumah orang tua saya di Malang, usai meliput peringatan Sumpah Pemuda keturunan Arab 1934 yang digelar di Surabaya.

Pada 25 Maret 2015, Abdul Hakim Munabari, warga kelurahan Kasin, Malang, ditangkap Densus 88. Dia terlibat kelompok militan Negara Islam atau dulu disebut ISIS.

Di kota itu, saya bertemu seorang teman masa kanak-kanak ketika dulu aktif di klub sepak bola Al Badar. Perkumpulan sepak bola ini didirikan warga keturunan Arab di kota Malang, walaupun anggotanya tidak melulu etnis Arab.

"Sudah dengar teman kita di Al Badar, Abdul Hakim, yang diadili karena terkait ISIS?" Tanya temanku itu. Saya mencoba mengingat sosok Abdul Hakim, tetapi lupa sepenuhnya.

Pada 25 Maret 2015, Abdul Hakim Munabari, warga kelurahan Kasin, Malang, ditangkap pasukan elit kepolisian anti-teror Densus 88. Dia diduga terlibat kelompok militan Negara Islam atau dulu disebut ISIS.

Abdul Hakim Munabari diadili bersama lima terdakwa lainnya, diantaranya Ridwan Sungkar dan Helmi Alamudi, dua orang warga keturunan Arab asal Solo dan Tulungagung. Polisi menduga mereka terkait dengan jaringan yang dipimpin Abu Jandal alias Salim Attamimi.

Problem keturunan Arab
Seperti yang dirisaukan oleh warga peranakan Arab di Malang ketika “dua Al-Habsyi” diputus bersalah dalam kasus bom Borobudur (1985), warga keturunan Arab saat ini sepertinya juga dihadapkan persoalan yang sama.

Di Surabaya, saya bertemu pria keturunan Arab yang selama ini memberikan perhatian penuh terhadap dinamika keturunan Arab di Indonesia. Namanya Hasan Bahanan, yang dikenal pula sebagai staf pengajar di Fakultas Komunikasi, Universitas 17 Agustus, Surabaya.

Baca: Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

“Itu menjadi problem di kalangan anak-anak (keturunan Arab) itu sekarang, ketika mereka dikaitkan ideologi trans-nasional, dan kemudian konteks kearaban diangkat sebagai suatu citra yang berubah sekarang ini.”

Hasan tidak sendirian. Saya sebelumnya juga mengundang secara khusus dan mewawancarai seorang perempuan keturunan Arab asal Pekalongan, Jateng, yang dikenal sebagai komedian.

Post-reformasi
Sakdiyah Ma’ruf, 33 tahun, melalui panggung komedi, acap menyuarakan kegelisahannya terhadap sikap radikal yang ditunjukkan sebagian warga keturunan Arab di Indonesia. Menurut Sakdiyah,

"Di masa post-reformasi, kita menghadapi minoritas keturunan Arab yang suaranya keras, termasuk kelompok radikal dan fundamentalis".

Sakdiyah, yang meraih penghargaan Vaclav Havel International for Creative Dissent 2015 di Oslo, Norwegia, juga tidak memungkiri.

Sebagian anak muda keturunan Arab tertarik ideologi ISIS. Komunitas Arab seperti terhubung lebih mudah -ketimbang masyarakat lain- dengan orang-orang di Timur Tengah. Ini terjadi karena situasi geopolitik yang mencair.

Sebagian orang-orang Arab Indonesia ini kemudian mencari rujukan baru. Di sinilah isu trans-nasional menemukan tempatnya.

Namun demikian, Sakdiyah dan Hasan Bahanan meyakini jumlah anak muda keturunan Arab yang tertarik radikalisme Islam jumlahnya kecil.

“Itu hanya hitungan jari saja,” kata Hasan. “Dan dia kalau mau memimpin organisasi, ya, organisasinya bukan organisasi utama (keturunan Arab).”

Ba’asyir, Sungkar, Patek
Pertanyaannya kemudian, sejak kapan warga keturunan Arab mulai terlibat dalam gerakan radikal Islam di Indonesia? Menurut Ismail Fajrie Alatas, Mahasiswa Program Doktoral Antropologi dan Sejarah di Universitas Michigan, AS,

"Awal mula radikalisasi keturunan Arab di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan politik global.

Radikalisasi pada sosok Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar –pendiri pondok pesantren Al-Mukmin di Solo, Jateng, pada awal 1970-an, yang mencita-citakan penerapan Syariat Islam di Indonesia– disebutnya tidak terlepas pada masa akhir perang dingin antara AS dan Soviet.

Baca: Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI

Di awal 1983, Ba’asyir dan Sungkar dituduh menghasut menolak penerapan azas tunggal Pancasila dan divonis sembilan tahun penjara. Saat memasuki proses kasasi, mereka kemudian melarikan diri ke Malaysia.

Di Malaysia, mereka berperan mengirim warga Indonesia yang bersedia berperang ke Afghanistan, diantaranya ada yang keturunan Arab.

Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar berperan besar dalam proses radikalisasi orang-orang yang akhinya berangkat ke tempat-tempat seperti Afghanistan.

Tokoh-tokoh ini (di antaranya Umar Patek alias Hisyam Bawazir, tersangka kasus bom Bali 2002 dan Natal) yang pergi ke Afganistan dan mencoba menggunakan taktik kekerasan untuk digunakan di Indonesia".

Hasan Bahanan, Pengamat Keturunan Arab, berpendapat bahwa,

"Radikalisasi Islam di Indonesia -yang antara lain melibatkan keturunan Arab- tidak terlepas dari persoalan global, seperti di Afganistan, Palestina dan kini di Irak dan Suriah. Ketika terjadi perang Afganistan, semua yang anti Komunis berbondong-bondong ke sana. Ketika sudah selesai, muncul lagi radikalisme baru. Katakanlah Taliban. Dan ketika ini reda, muncul ISIS.”

Peran kelompok moderat
Walaupun aktivitas radikalisme Islam di Indonesia disebut hanya melibatkan segelintir orang-orang peranakan Arab, tetapi tetap saja gaungnya lebih terasa.

Purnawan Basundoro, staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Dikenal pernah meneliti dan rajin mengamati dinamika keturunan Arab Indonesia, mengatakan bahwa

"Sekarang ini era digital, di mana orang begitu cepat bisa merespon apa yang terjadi, maka sisi-sisi keradikalan mereka (keturunan Arab) itulah yang banyak diungkap

Mengapa? Karena tindakan radikal ini ‘kan di luar nilai-nilai kemanusiaan. Biasanya tindakan seperti itu jauh diingat orang daripada tindakan baik.

Karena itu, mari wajah radikal itu diminimalisir. Mari masyarakat keturunan Arab yang selama ini memilih jalan moderat, damai, mencegah orang-orang yang mau berbuat radikal".

Kehadiran ulama keturunan Arab
Ketika seorang warga kota Malang yang berlatar etnis Arab, Abdul Hakim Munabari, ditangkap pada akhir Maret 2015 lalu, Wali Kota Malang Muchamad Anton menyerukan agar “kaum ulama, kiai dan para habib ikut berperan menangkal radikalisme. Agar memberikan pemahaman yang benar soal Islam”.

Juru bicara BNPT, Irfan Idris juga meminta agar kaum ulama keturunan Arab memperkuat jaringan agar “kaum muda keturunan Arab tidak terbawa arus radikalisasi”. Usulan serupa juga disarankan Ismail Fajrie Alatas, menurut Fajrie

Baca: Cerita Kiai Irfan Kepada Habib Luthfi Sebelum NU Berdiri

“Kehadiran para ulama keturunan Arab -yang menolak aksi kekerasan dalam menjalankan dakwahnya- dapat menjalankan perannya dalam kasus ini.

Banyak ulama-ulama Arab Habaib ataupun non-Habaib, mereka berjubah, bersorban, dan berjenggot, tetapi tidak mendakwahkan kekerasan. Di sinilah pentingnya sosialisasi dan pendidikan di keturunan Arab sendiri.”

Mendengarkan ulama senior
Namun demikian, keterbatasan peran dan wewenang para ulama tersebut di dalam menjalankan tuntutan peran itu. Karena tidak ada struktur, tidak ada hirarki dalam kelompok keturunan Arab.

Setiap ulama dapat membentuk jamaah masing-masing, yang kadang-kadang di antara mereka clash memperebutkan jamaah.

Di sinilah, yang bisa dilakukan para Ulama turunan Arab, terus mengumandangkan wacana Islam keindonesiaan yang moderat.

Dua poster berukuran besar, bergambar Presiden Sukarno dan ulama asal Yaman, Umar bin Hafidz, dipajang untuk dijual di Kampung Arab, Surabaya.

Suara agak optimis diutarakan Abdullah Aljufri, yang berusia 37 tahun, pegiat di LSM Mutafannin yang bergerak di bidang penulisan tentang masalah sosial budaya peranakan Arab Indonesia. Abdullah memberikan contoh,

Baca: Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih dan Pencipta Lagu 'Hari Merdeka'

“Kaum peranakan Arab relatif berhasil membentengi kaum mudanya dari arus radikalisasi karena kekuatan bertumpu pada sosok ulama yang dihormati. Mereka itu seperti benteng kita. Kita bernaung pada mereka. Dan akhirnya kelompok-kelompok garis keras itu tersingkir. Saya melihat ini sudah dilakukan". [dutaislam.com/uf]

Heyder Affan, wartawan BBC Indonesia, dan keturunan Arab

Keterangan: 
artikel ini sepenuhnya diambil dari blog Kanal Indonesia Hari Ini

TerPopuler

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah