Islam Wastahiyah dari Qur'an, Begini Penjelasan Gus Nadir
Cari Berita

Advertisement

Islam Wastahiyah dari Qur'an, Begini Penjelasan Gus Nadir

Duta Islam #03
Senin, 27 Mei 2019

Rois Syuriah PCI NU Australia-New Zealand Nadirsyah Hosen. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Paham Islam Wasathiyah bisa menjadi pedoman di tengah kisruh politik yang mengatasnamakan Islam. Islam Wasathiyah adalah Islam yang moderat, tapi bukan berarti tidak memiliki prinsip dan meninggalkan ibadah.

Baca juga: Gus Nadir Ingatkan Pendukung 02 Masuk Jebakan HTI Pro Khilafah

Menurut Rois Syuriah PCI NU Australia Nadirsyah Hosen, istilah wasathiyah berasal dari Al-Qur’an yang berarti umat yang tengah-tengah. Gus Nadir, sapaan akrabnya, menuturkan, maksud umat tengah-tengah berarti umat yang bersikap adil.

“Tidak berada di (ekstrem) kiri atau kanan,” ujar Gus Nadir saat ceramah dengan tema "Islam Wastahiyah" di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahad (26/05/2019), dikutip dari Gatra.Com.

Gus Nadir menjelaskan, belakangan ini istilah Islam Wasathiyah mendunia berkat kampanye Pangeran Muhammad bin Salman dari Arab Saudi ke negara-negara Barat. Pangeran Muhammad ingin menunjukkan bahwa Arab Saudi mengarah lebih moderat. Kebijakan moderat ditunjukkan dengan pembangunan bioskop dan keleluasaan bagi perempuan di ruang publik.

Baca juga: Bagaimana Cara Menghadapi Maaher Thuwailibi? Ini Penjelasan Gus Nadir

Gus Nadir berpendapat, moderat dalam Islam bukan berarti tidak punya pendirian dan sikap, apalagi meninggalkan ibadah dan ajaran agama. Menurutnya, Islam Wasathiyah menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

"Rahmat Islam berlaku bagi seluruh umat manusia sekaligus binatang. Oleh karena itu, Islam Wasathiyah harus saling menyayangi dan berbagi," ujar Gus Nadir.

Selain itu, lanjut Gus Nadir, Islam Wasathiyah cenderung memilih pilihan yang mudah serta tidak berlebihan dalam segala hal. Cara beragama semacam itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang beribadah tanpa kehilangan sisi manusiawi.

“Kita harus adil dalam beribadah. Nabi tidak bersikap ekstrem dan tetap mengakui sisi kemanusiaan,” ujar dosen di FakultasHukum Monash University Australia ini.

Di samping itu, Gus Nadir menyatakan, paham Islam Wasathiyah tidak melakukan paksaan dalam beragama. Menurutnya, tugas umat Islam adalah menyampaikan pesan keislaman tanpa memaksakan kehendak. Sayangnya, terkadang kita justru terjebak menghakimi orang lain.

“Dalam beragama tidak boleh memaksa. Jangan seakan-seakan merasa rahmat Allah tidak akan turun kepada orang lain,” tegasnya.

Keseimbangan atau tawazun adalah ciri terakhir dari Islam Wasathiyah. Seimbang berarti adil dalam membagi porsi dalam beribadah. Gus Nadir mencontohkan, Nabi Daud membagi waktunya sepertiga sebagai nabi, raja, dan bermunajat.

"Setiap nabi punya risalah dengan syariat masing-masing. Untuk itu, Islam sebagai agama akhir zaman harus mampu menyesuaikan pada keadaan. Harus tengah-tengah, paham kapan harus tegas dan kapan dengan pendekatan cinta,” katanya.

Ciri-ciri Islam Wasathiyah menjadi penengah dari ajaran yang kaku di satu sisi dan penuh cinta kasih di sisi lain. “Umat Islam Wasathiyah adalah umat pilihan,” imbuhnya masih dikutip dari Gatra.Com. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini