Ijtima Ulama, Organ Pemenangan yang Mencoreng Muka Islam
Cari Berita

Advertisement

Ijtima Ulama, Organ Pemenangan yang Mencoreng Muka Islam

Duta Islam #03
Kamis, 02 Mei 2019

Ijtima Ulama III merekomendasikan pasangan Jokowi-Amin Didiskualifikasi. Foto: Istimewa.
Oleh Luthfi Musthofa

DutaIslam.Com - Benar jika dikatakan Ijtima Ulama adalah salah satu organ pemenangan atau kelompok relawan. Faktanya jelas sekali Ijtima itu dikendalikan ulama-ulama partisan dan ulama karbitan yang berada dalam struktur BPN Prabowo-Sandi.

Jika diangkat 'Imam Besar', itu bukan Imam kita semua. Itu Imam mereka. Bagi kita itu 'Imam Mungil'. Imam komunitas kecil.

Ijtima Ulama itu komunitas kecil yang tak pernah merpresentasikan jutaan ulama di Indonesia. Tak pernah setara Majelis Ulama Indonesia (MUI), apalagi Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi wadah bagi jutaan Ulama Nahdliyyah. Tak sedikitpun ada kepantasan Ijtima Ulama mengklaim mewakili Umat Islam Indonesia. Ijtima Ulama hanya komunitas kecil yang mewakili minoritas umat.

Perhatikan. Ratusan ribu orang dikumpulkan Ijtima Ulama untuk berdo'a dan memenangkan Prabowo-Sandi dalam Reuni Akbar 212 di Monas hingga Kampanye Akbar Capres-Cawapres O2 di GBK. Dalam Kampanye Akbar itu umat Islam bahkan dikumpulkan untuk melakukan shalat tahajjud dan shalat subuh berjama'ah serta munajat bersama.

Apakah hasilnya? Tak tampak secercah kekuatan ilahiyah menyinari pemenangan  Capres-Cawapres 02. Yang muncul hanyalah kekuatan gelap kemarahan. Energi hayawaniah, sumpah serapah, makian, dan rencana tuduhan curang jika dikalahkan.

Jika Jokowi seorang pemimpin yang zhalim pasti beliau sudah harus terpuruk menghadapi do'a ratusan ulama dan ratusan ribu orang yang merasa dizhalimi. Atau cukup 40 orang mukmin yang tulus saja dengan do'anya, pastilah dikabulkan langit. Ternyata tidak. Jokowi justru adalah pemimpin yang diridhai.

Do'a Kiai Ma'ruf serta ulama-ulama yang tulus mendukung Jokowi lah yang dimenangkan Allah. Capres-Cawapres O1  memenangkan kontestasi Pilpres dengan izinNya. Menang dengan kejujuran tanpa harus mengklaim dan memalsukan hasil yang dihitung sendiri. Tanpa harus panik. Tanpa harus berulang-ulang deklarasi kemenangan dengan klaim suara  yang berubah-ubah.

Kini, demi menutupi rasa malu atas do'a yang tak terkabul itu Ijtima Ulama sepakat untuk menuduh curang dan jahat kompetitor  politiknya. Mereka turut membenarkan bukti-bukti palsu, bukti-bukti hasil rekayasa, dan membesar-besarkan kekeliruan mikro sebagai kecurangan dan kejahatan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Bahkan meminta Bawaslu dan KPU mendiskualifikasi Capres dan Cawapres 01.

Jadi biarlah Ijtima Ulama mengeluarkan fatwa, keputusan, atau apapun. Itu hanya sekadar usaha sebuah organ pemenangan atau kelompok relawan untuk membela Paslon yang didukungnya. Ijtima Ulama sampai kapanpun tak pernah ada kekuatannya selain malah melemahkan dan mencoreng muka umat Islam sendiri.

Jadi biarlah anjing menggonggong khalifah eh kafilah berlalu. [dutaislam.com/pin]


close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah