Idul Fitri, Halal Bi Halal dan Pemersatu Bangsa
Cari Berita

Advertisement

Idul Fitri, Halal Bi Halal dan Pemersatu Bangsa

Duta Islam #04
Minggu, 26 Mei 2019

Penjelasan idul futri dan halal bi halal sebagai pemersatu bangsa (sumber: istimewa)
Umat Islam di Indonesia sangat menunggu momentum hari raya Idul Fitri. Pasalnya, mereka dapat bersua dan bersilaturahim dengan sanak famili, tetangga dan kerabat.

DutaIslam.Com - Setelah sekian tahun tak berjumpa, orang-orang berkeinginan untuk melepas rindu bersama dengan keluarga maupun kerabat. Tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia sebagai wadah silaturahim adalah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal hanya dijumpai masyarakat Indonesia. Di negara yang penduduknya muslim lainnya, tidak ditemukan tradisi halal bi halal. Halal bi halal di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang sejak zaman Presiden Soekarno.

Baca: Halal Bi Halal, Titik Temu Tradisi dan Ajaran Agama

Pada waktu itu, elit pejabat pemerintahan sedang bersitegang antar satu sama lain. Ketegangan itu membawa pada konflik internal antar elit pejabat pemerintahan. Sehingga, kondisi tersebut berdampat pada kondisi bangsa yang kurang kondusif.

Nampaknya, persaudaraan bangsa Indonesia hari ini mengalami krisis dan kemunduran. Perbedaan dan sekat antar kelompok tampak kentara di permukaan. Akibatnya, terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat tak terelakan.

Keadaan tersebut diperparah dengan adanya kepentingan politik yang ikut bermain di dalamnya. Dampak kontestansi pemilu 2019 semakian memperjelas garis-garis perbedaan antar kelompok.

Bagaimana tidak memperkeruh kesatuan bangsa? Narasi-narasi yang dibangun para demagog politik hari ini mengarah pada isu SARA. Tidak heran, saat kampanye berlansung narasi tentang dikotomi label agama bertebaran di sudut dunia maya.

Hal terkecil dari adanya narasi dikotomi label agama adalah statement Amin Rais. Beliau menyatakan partai peserta pemilu terdiri dari partai Allah dan partai syaithan. Pernyataan Amin Rais sebagai elit politik justru semakin mempertajam konflik antar golongan.

Baca: Sejarah dan Muasal Tradisi Halal bi Halal

Seyogyanya, elit politik tidak mepertegas garis-garis perbedaan yang ada. Sebab, perbedaan sudut pandang merupakan suatu keniscayaan dan menjadikannya sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan.


Perbedaan Suatu Keniscayaan

Penulis menyakini setiap kelompok mempunyai cara pandang yang berbeda satu sama lain. Standar tentang kebenaran satu kelompok dengan kelompok lain berbeda. Misalkan, kelompok agamawan punya standar kebenaran atau nilai yang berbeda kelompok non agamawan.

Perbedaan yang terjadi di antara entitas-entitas masyarakat tidak seharusnya dijadikan alasan untuk berpecah belah. Namun, terkadang satu kelompok ingin menonjolkan identitas kelompoknya sendiri, hingga yang terjadi adalah sikap saling mencela antar kelompok.

Sikap saling mencela dan merendahkan kelompok lain akan mempertajam konflik yang terjadi. Sikap demikian biasanya merupakan cara pandang yang eksklusif. Di samping itu, sikap tersebut sangat jauh dari kata kedewasaan.

Kelompok yang berpandangan eksklusif seringkali menyalahkan kelompok lain dan menganggap benar sendiri pendapatnya. Karakter kelompok ini sukar menerima perbedaan atau pandangan orang lain. Menurut Gus Dur, karakter seperti ini ditengarai sebagai benih-benih kelompok anarkisme, radikal dan terorisme.

Baca: Makna Halal bi Halal Adalah Mencari Halal Kesalahan

Mempererat Persatuan

Selama kontestasi pemilu berlangsung, ketegangan dan benturan antar kelompok sangat besar. Satu kelompok dengan kelompok lain mempertontonkan sikap yang menyulut konflik antar kelompok. Akibatnya, konflik semakin meruncing dan polarisasi semakin kentara.

Sudah waktunya konflik antar kelompok diredam agar tidak semakin luas dan besar. Terlebih lagi, jedah waktu pasca pemilu dengan Idul fitri tidak berjarak cukup jauh. Artinya, ketegangan dan konflik selama pemilu dapat teredam dengan datangnya Idul Fitri.

Idul Fitri dapat dijadikan momentum untuk rekonsiliasi dan menghapus benih-benih konflik. Perayaan Idul fitri bukan hanya sebagai kemenangan individula, akan tetapi kemenangan sosial. Kemenengan sosial tersebut akan tampak ketika dibarengi dengan sikap saling memaafkan antar kelompok yang bertikai.

Baca: Halal Bi Halal Dipolerkan Oleh Bung Karno

Maka, perayaan Idul Fitri perlu dipertegas sebagai momentuk untuk membangun kembali sendi-sendi persatuan yang semakin terkikis. Momentum Idul Fitri sebagai penyambung tali persaudaraan dan memperkuat persatuan kebangsaan.

Oleh karena itu, tradisi halal bi halal tumbuh berkembang di bulan Syawal. Lewat agenda halal bi halal, orang-orang dapat menghapuskan garis-garis perbedaan. Sehingga, mampu menciptakan suasan saling memaafkan dan sikap terbuka terhadap perbedaan. Alhasil, perbedaan bukanlah pemantik konflik, akan tetapi sebuah rahmat. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini