Hukum Menyuguhkan Makanan untuk Pelayat
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Hukum Menyuguhkan Makanan untuk Pelayat

Duta Islam #02
Senin, 27 Mei 2019
Loading...

Berkat Tahlilan. (Foto: istimewa)
Oleh Itmam M.

DutaIslam.Com - Salah satu tradisi di Indonesia khususnya di Jawa ialah setiap setelah kematian pada hari pertama sampai ketujuh, dilanjutkan hari ke-40, 100, 1000, dan seterusnya, umumnya  keluarga duka akan membuatkan suatu acara kenduri yang di isi dengan tahlilan dan bacaan do’a untuk mayit. Biasanya keluarga duka akan menyuguhkan sebuah makanan untuk pelayat. Tradisi ini sudah sering dijelaskan utamanya mengenai tahlilan, kemudian muncul pertanyaan lagi mengenai hukum dan esensi makanan tersebut.

Dalam buku Hujjah NU telah dijelaskan mengengai menyuguhkan makanan kepada orang yang bertakziah hukunya boleh bedasarkan hadits: 


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Islam manakah yang paling baik? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: menyguhkan makanan, mengucapkan salam, baik kepada orang yang kamu kenal atau  tidak . (HR. al-Bukhari [11]).

Juga bedasarkan hadist Nabi SAW:

عَنْ عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوا فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ ثُمَّ قَالَ أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدْ اشْتَرَى شَاةً أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا فَلَمْ يُوجَدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْعِمِيهِ الْأُسَارَى

Diriwayatkan oleh 'Ashim bin Kulaib, dari ayahnya dari seorang sahabat anshar, ia berkata; saya pernah melayat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,dan disaat itu saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menasehati penggali kubur seraya bersabda, "Luaskan bagian kaki dan kepalanya." Setelah Rasulllah shallallahu 'alaihi wasallam pulang, beliau diundang oleh seorang perempuan (istri yang meninggal) Rasulllah shallallahu 'alaihi wasallam memenuhi undangannya, dan saya ikut bersama beliau .Ketika beliau datang, lalu makanannya dihidangkan. Rasulllah shallallahu 'alaihi wasallam mulai makan lalu diikuti para undangan. Pada saat beliau akan mengunyah makanan tersebut, beliau bersabda, "Aku merasa daging ini diambil dengan tanpa seizin pemiliknya." Kemudian perempuan tersebut bergegas menemui Rasulllah shallallahu 'alaihi wasallam, sembari berkata; wahai Rasulullah, saya telah menyuruh orang pergi ke Baqi' (suatu tempat penjualan kambing) untuk membelikan kambing, namun tidak mendapatkannya. Kemudian saya menyuruh menemui tetangga saya yang telah membeli kambing agar kambing itu dijual kepada saya dengan harga yang umum, akan tetapi ia tidak ada. Maka saya menyuruh menemui isterinya a dan ia pun mengirim kambingnya pada saya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Berilah makanan ini pada para tawanan" (HR Abu Daud [2894] dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah, [Lihat: Misykat al-Mashabih [5942]).

Bedasarkan hadis inilah Syaikh Ibrahim al-Halabi berkata, “Hadis ini menunjukkan kebolehan keluarga mayit membuat makanan dan mengundang orang untuk makan. Jika makanan itu disuguhkan kepada para fakir miskin, hal itu baik. Kecuali jika salah satu ahli warisnya masih kecil, maka tidak boleh diambil dari harta waris mayit”. (Al-Bariqah al-Muhammadiyyah, juz III, hal. 215 dan liaht juga al-Masail al-Muntakhabah, hal.49).

Mengenai keputusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan makanan kepada para tawanan itu tidak dapat dijadikan aslasan mengharamkan menyuguhkan makanan kepada orang yang berta’ziah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh memberikan kepada para tawanan karena orang yang diminta ridhanya atas daging itu belum ditemukan sedangkan makanan itu takut basi. Maka sudah semestinya jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan makanan tersebut kepada para tawanan. Dan istri mayit pun telah mengganti harga kambing yang disuguhkan tersebut.

Begitupun banyak hadis mengenai perberian makanan yang menjelaskan kaitannya dengan sedekah untuk mayit ataupun tentang upaya untuk menghormati tamu. Namun ada juga golongan yang melarang pemberian makanan tersebut dengan menggunakan dalil:

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

Kami (para sahabat) memandang bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk niyahah (meratap) –yakni terlarang. (HR. Ahmad No. 6905. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: Shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 6905)

Pelarangan  hal tersebut karena dianngap sebagai niyahah (meratap), niyahah memang dilarang oleh sayriat karena dapat memperbarui kesedihan. Tetapi bagi mereka tidak masalah jika makanan justru didatangkan oleh tetangganya atau sanak familinya untuk membantu kesulitan keluarga si mayit, yang seperti ini justru dianjurkan sebagaimana yang dilakukan para sahabat nabi kepada keluarga Ja’far bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, ini masyhur dan sunah, serta tidak diperselisihkan hukumnya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya penghormatan kepada mayit memang dianjurkan oleh agama, tetapi tidak diharuskan adanya makanan atau suguhan kepada pentaziah, kalaupun ada itu sebagai bentuk sodaqah kepada si mayit dan memulyakan tamu, dan tidak diperbolehkan berlebih-lebihan dalam perberian jamuan karena memang kondisinya sedang berkabung dan dapat memberatkan keluarga duka. Dan seyogyanya kita sebagai sesama manusia hendaknya membantu keluarga yang sedang ditimpa bencana, apapun itu baik berbentuk material ataupun tenaga. [dutaislam.com/gg]

Loading...