Geneologi Islam Radikal dan Penyebarannya di Indonesia

Geneologi Islam Radikal dan Penyebarannya di Indonesia

Selasa, 07 Mei 2019 | x dibaca
Penjelasan geneologi Islam radikal (sumber: istimewa)
Oleh: Iin Sholihin

DutaIslam.Com - Maraknya kelompok berideologi transnasional yang berkembang saat ini bisa menjadi ancaman bagi persatuan bangsa Indonesia. Kelompok ini selalu menggaungkan arabisasi Islam serta menilai pemerintah Indonesia tidak islami. Corak kelompok yang demikian sudah tampak sejak zaman Nabi Muhammad Saw.

Kiai Said dalam beberapa kesempatan pernah menjelaskan prihal geneologi Islam radikal dan penyebarannya di Indonesia. Menurut beliau, corak keislaman seperti itu muncul setelah penaklukan kota Thaif.

Pada saat itu, umat Islam mendapat banyak ghanimah (rampasan perang) seperti unta, kambing, dan harta lainnya. Namun pembagian ghanimah oleh Rasulullah sedikit aneh, karena para sahabat senior tidak diberi bagian apapun. Sebaliknya, ghanimah diberikan kepada sahabat yang baru masuk Islam seperti Abu Sufyan dan Al-Bakhtari, padahal mereka sudah kaya.

Melihat kejadian itu, tiba-tiba Dzul Khuwaishir melakukan protes kepada Rasulullah. Ia berkata, "Berbuat adillah wahai Muhammad, jangan membagi semaumu sendiri". Nabi pun menjawab, "Tidak ada yang lebih adil di muka bumi ini daripada saya, apa yang saya lakukan adalah perintah Allah".

Setelah itu, Khuwaishir pun pergi. Kemudian nabi menyampaikan kepada para sahabat bahwa di masa yang akan datang akan muncul orang semacam itu. Orang yang hafal Al-Quran tapi tidak melewati tenggorokannya, serta dangkal pemahamannya. Imam Nawawi mengambarkan sosok Dzul Khuwaishir itu kurus, berjenggot panjang, jidatnya hitam, kepalanya botak, dan gamisnya cingkrang.

Prediksi Nabi terbukti benar dengan terbunuhunya Ali bin Abi Thalib. Ali dihukumi kafir oleh satu kelompok karena dituduh tidak menggunakan hukum Allah. Sebelumnya Ali menilai ucapan mereka memang benar, tapi tendesius. Ucapan mereka hanya melegitimasi untuk mengafirkan orang lain. Kelompok tersebut adalah Khawarij, kelompok yang menggunakan Al-Quran untuk kepentingan yang tidak benar.

Sebelumnya, ketika Ali berperang melawan kelompok Khawarij di jembatan kota Harurah, mayoritas dari mereka telah terbunuh. Kecuali beberapa orang yang berhasil melarikan diri. Di antaranya, ke Bahrain, Afrika Utara dan Oman. Jaringan teroris yang selama ini berkembang di Timur Tengah merupakan keturunan dari mereka.

Secara lembaga, kelompok khawarij sudah hilang dari kehidupan masyarakat. Namun, ideologinya terus berkembang hingga kini dalam wujud berbagai organisasi. Pada tahun 1970-an muncul Jamaah Takfir wal Hijrah di Mesir, dipelopori oleh Umar Syukri Ahmad. Semua orang dianggap kafir kecuali mereka yang hijrah. Kelompok ini dapat membunuh orang secara terang-terangan, salah satu korbannya adalah Husain al-Dzahabi, pengarang Tafsir wal Mufassirun, Yusuf Siba’i, dan Presiden Anwar Sadad.

Di Irak muncul kelompok Al-Qaeda. Awalnya, kelompok ini merupakan bentukan Amerika Serikat untuk membantu peperangan melawan Soviet di Irak. Pemuda Islam dibina dan dilatih berperang merakit bom dan kemiliteran. Pasca perang, pemuda Saudi ditarik kembali oleh Raja Fahd kecuali Osama bin laden.

Dalam perjalanannya, Al-Qaeda berbalik memerangi Amerika Serikat dan NATO dengan target utama camp mereka. Pemuda Islam Indonesia yang ikut pelatihan itu di antaranya Amrozi dan Imam Samudra yang direkrut menjadi anggota Al-Qaeda lewat Abu Bakar Baasyir di Johor, Malaysia.

Setelah itu, muncul ISIS yang dimotori Mus’ab Zarkowi, pria bertato warga negara Yordania yang berdomisili di Israel . Pasca Mus'ab meninggal, kepemimpinan diambil alih Ibrahim bin ‘Awan bin Ibrahim Al-Badri (Abu Bakar Al Baghdadi).

Pada awalnya Amerika Serikat membiarkan kelompok ini karena dinilai menghalangi perjalanan tentara Iran yang hendak membantu Basyar Asad. Mereka lebih kejam dari kelompok Al-Qaeda. Mereka tidak hanya menghalalkan membunuh non muslim, orang Islam yang tidak sejalan dengan mereka pun halal dibunuh, termasuk anak kecil.

Jaringan Islam radikal yang berkembang di Indonesia sampai saat ini merupakan tangan panjang dari kelompok-kelompok radikal di Timur Tengah. Selepas kembali ke Indonesia, alumni kelompok separatis tersebut mulai melakukan gerakan dengan merekrut anggota baru serta melakukan aksi teror di berbagai daerah. Mereka tergabung dalam berbagai golongan, ada di kelompok Jamaah Takfir wal Hijrah, Jamaah Islamiah, hingga Anshorut Tauhid wad Daulah atau ISIS.

Meskipun baru, penyebaran ISIS di Indonesia hampir merata di setiap kota: Bekasi, Medan, Samarinda, Majalengka, Banten, Aceh, Cianjur dan kota-kota lainnya. Kini, sekitar 1.200 penduduk Indonesia telah bergabung dengan  ISIS. Adapun yang merekrut anggota ISIS di Indonesia adalah Salim At-Tamimi seorang warga Malang, lebih dikenal dengan sebutan Abu Jandal.

Di era informasi, penyebaran paham radikal merambah di dunia maya. Saat ini telah menjamur situs-situs radikal yang sering mengobarkan semangat jihadis. Tentunya, ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangbangsa dan bernegara. Maka, sudah selazimnya pemerintah memblokir situs-situs yang menyebarkan konten paham radikal. Bukankah demikian? [dutaislam.com/in]

TerPopuler

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah