Demi Prabowo, Takbir Jihad Direndahkan Sebagai Pekikan Konyol
Cari Berita

Advertisement

Demi Prabowo, Takbir Jihad Direndahkan Sebagai Pekikan Konyol

Duta Islam #01
Jumat, 17 Mei 2019

Lieus Sungkarisma dalam beberapa acara bertajuk politik. Foto: Suara.com
Oleh Eko Kuntadhi

Dutaislam.com - Ada seruan jihad pada 22 Mei nanti. Jika dulu kaum muslimin berjihad membela kanjeng Nabi. Kini seruan jihad itu untuk membela Prabowo. Seorang Capres pecundang yang doyan ngambek.

Bahkan untuk menyambut seruan jihad membela Prabowo, seorang Lieus Sungkarisma mantan ketua Gema Buddhis (Organisasi pemuda penganut Buddha) kini fasih memimpin takbir dari atas panggung. Pekik takbirnya diikuti sorak-sorai orang-orang bersorban dan bergamis.

Bagi Lieus, kalimat takbir barangkali bukan ungkapan pengagungan pada kebesaran Ilahi. Baginya mungkin cuma sejenis pekik provokasi. Seperti yang dicontoh dari laskar-laskar galak berseragam putih-putih itu. Mungkin di kepalanya, ketika ia berteriak takbir, maksudnya adalah, "Hantam! Serang! Hancurkan!"

Wallahualam...

Tapi memang, salah satu keberhasilan tim kampanye Prabowo adalah membuat pengikutnya bisa berfikir terbalik. Bayangkan, seruan jihad yang mestinya jalan perjuangan agung itu harus diturunkan levelnya sedemikian rendah hanya untuk membela seorang pecundang.

Baca: Tiga Ekspresi Takbir, Ekspresi Ketiga Menakutkan

Prabowo pasti senang-senang saja dibela oleh mahluk yang proses evolusinya belum selesai. Ia merasa tersanjung. Itu juga yang membuatnya makin menjadi-jadi.

Para pembela Prabowo rela mengorbankan segalanya demi junjungannya. Mereka ikhlas agamanya dilecehkan. Mereka rela menurunkan nilai Islam jadi sekelas urusan Pemilu.

Apa hasilnya? Sejak lama sudah bermunculan pada jihadis pembela Prabowo.

Asma Dewi dan enam orang gembong MCA adalah jihadis pembela Prabowo angkatan awal. Mereka menyebarkan hoax dan kebencian bernuansa SARA di media sosial. Polisi berhasil menggulung komplotan ini dan secara otomatis menurunkan tingkat hoax di media sosial.

Setelah itu ada Ratna Sarumpaet. Aktor watak yang mukanya dipermak operasi plastik. Untuk mengangkat derajat Prabowo sebagai pahlawan pembela nenek-nenek peot, Ratna mengarang cerita bohong. Dari kisah itulah Prabowo tampil mirip jagoan dalam film silat Hongkong. Membela perempuan renta.

Nyatanya kisah Ratna adalah khayalan. Prabowo gagal jadi pahlawan pembela nenek-nenek renta yang didzolimi. Yang ternyata dihadapi hanyalah perempuan tua yang melawan takdir penuaan.

Akhirnya Ratna dipenjara sebagai bukti dia jihadis Prabowo sejati.

Setelah itu ada Bagus Putra Bawana. Ia adalah salah satu ketua tim relawan Prabosan. Jauh sebelum pencoblosan, ia sudah menyebar hoax soal 7 kontainer surat suara dari China. Kelihatan kan, sejak awal memang gerimbolan itu hendak mengacau Pemilu. Isu KPU curang jauh hari sudah dihembuskan. Bahkan dengan cara menyebr hoax.

Baca: Tompi Beberkan Betapa Fahri Hamzah 'Ngeyel' di Medsos Soal 'Drama Dusta Ratna Sarumpaet Dianiaya'

Kalau sekarang BPN masih teriak KPU curang, gak usah kaget. Isu itu sudah dibangun lama untuk membakar masyarakat.

Sebagai jihadis, Bagus juga kini mendekam di penjara.

Adalagi emak-emak Pepes. Relawan ini datang dari rumah ke rumah menyebar berita menyesatkan. Ia mengarang cerita soal adzan yang dilarang. Orang-orang ini juga saat ini sedang duduk terpekur di balik jeruji besi.

Lantas pencoblosan pun di mulai. Hitung KPU dijalankan. Prabowo tahu mana mungkin dia menang melawan Jokowi. Garis tangannya bengkok, terbiasa jadi pecundang. Tapi ia punya syahwat kekuasaan besar. Menang gak menang, ia memaksa dilantik.

Seperti Datuk Meringgih yang memaksa Siti Nurbaya menjadi istrinya padahal gak cinta.

Caranya gimana? Bikin onar. Lecehkan KPU dan Bawasku. Lecehkan MK. Lecehkan mekanisme Pemilu. Ajak rakyat ikut melecehkan hukum. Dengan begitu diharapkan terjadi pembangkangan besar-besaran. Inilah seruan jihad yang dikumandangkan sekarang.

Jihad membela Prabowo melawan Indonesia.

Seruan jihad itu disahuti Hermawan Susanto. Ia ingin memenggal kepala Jokowi. Ina Juliana warga Bekasi merekam video Hermawan sambil cekikikan. Bersama Anna, temannya.

Baca: Ternyata Pria Pengancam 'Penggal Kepala Jokowi' Ketua KPPS yang Jadi 'Pasukan' Demo Berjilid-Jilid

Bagi Hermawan, Ina dan Anna mengancam memenggal kepala Presiden Republik Indonesia adalah jihad membela Prabowo. Jika Jokowi celaka, otomatis Prabowo akan naik jadi Presiden. Enak aja!

Hermawan sang jihadis kini diancam pidana makar hukuman 20 tahun penjara. Ina dan Anna juga ditangkap, entah dengan pasal yang mana. Mereka kini duduk di lantai dalam ruang tahanan polisi.

Seorang motivator di Cirebon lain lagi cara berjihadnya. Ia merekam video berisi hoax untuk menghasut TNI dan Polri. Ia mencerca Kapolri dan Panglima TNI. Gayanya sok jago. Ia juga kini mendekam di penjara.

Ada banyak lagi kisah jihadis pembela Prabowo yang mendekam di balik jeruji besi. Mereka melawan Indonesia. Melawan pemerintah yang sah. Mereka berusaha mengacaukan Pemilu. Mereka berusaha membuat kegaduhan.

Setelah mereka masuk oenjara, adakah nama mereka diingat oleh Prabowo? Apakah keluarga mereka diperhatikan keperkuannya? Apakah Prabowo menyempatkan waktu menjengguknya? Atau dibiarkan begitu saja meringkuk di sel dingin sebagai tumbal.

Jika mati. Mereka mati konyol demi Prabowo.

Memang di bulan Ramadhan pernah ada sejarah perang Badar. Kaum muslim berjuang membela Nabinya. Membela membawa risalah kebenaran. Jika para pejuang itu wafat, Rasulullah langsung yang akan memberi syafaat. Memberi jalan menuju pengampunan Allah.

Baca: Bahaya! Ledakan Ajakan Perang "Badar" ke KPU 22 Mei 2019 Beredar di WAG

Kini suasana itu mau ditiru. Di Indonesia ada orang yang ingin mengotori Ramadhan dengan jihad membela Prabowo Subianto. Ada gerombolan yang tidak mau hormat pada hukum aturan Pemilu. Ada rombongan yang mau mengacau dan mau menang sendiri.

Di ujung yang lain ada sel-sel teroris yang sibuk bikin rencana memanaskan situasi. ISIS, Alqaedah, JAD, siap ikut memanen sesuatu. Polisi telah menangkap jaringannya. Mereka berencana meledakkan bom bunuh diri di tengah masa demo nantinya. Agar Indonesia semakin kacau.

Jika mereka mati dalam jihad membela Prabowo, di alam barzah nanti mungkin mereka akan berkumpul bersama junjungannya itu. Sebab kata kanjeng Nabi, di akhirat setiap orang akan dibangkitkan bersama sesuatu yang dicintainya. Orang yang rela mati, apalagi kalau bukan cinta?

"Lalu di tengah kumpulan mereka, tetiba nongol Lieus Sungkarisma berteriak takbir," sambar Abu Kumkum.

Emang di akhirat masih bisa demo, Kum? [dutaislam.com/ab]

Sumber: Eko Kuntadhi

close
Banner iklan disini