Comot Kitab Ihya' Tidak Utuh, Mahmud Ngomong Jihad Mati Syahid Lawan Pemerintah yang Dzolim
Cari Berita

Advertisement

Comot Kitab Ihya' Tidak Utuh, Mahmud Ngomong Jihad Mati Syahid Lawan Pemerintah yang Dzolim

Duta Islam #02
Jumat, 17 Mei 2019

Akun Mahmud Mahmud.
DutaIslam.Com - Akun Facebook bernama Mahmud Mahmud pada 14 Mei 2019 menulis di facebooknya tulisan yang berjudul: JIHAD & MATI SYAHID PALING AFDHOL ADALAH BERGERAK BERANI MELAWAN PEMERINTAHAN YANG JAHAT/ZHOLIM.

Dalam tulisannya itu, dia mengutip hadis:
.
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ , ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﺳﺌﻞ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﻴﻦ ﺭﻣﻰ اﻟﺠﻤﺮﺓ، ﻗﻴﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ , ﺃﻱ اﻟﺠﻬﺎﺩ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ؟ ﻗﺎﻝ: " §ﻛﻠﻤﺔ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﻝ ﻟﺇﻣﺎﻡ ﺟﺎﺋﺮ ". ﻗﺎﻝ اﻟﻤﻌﻠﻰ: " ﻭﻛﺎﻥ اﻟﺤﺴﻦ ﻳﻘﻮﻝ: " ﻹﻣﺎﻡ ﻇﺎﻟﻢ "

Dia mengartikan jawaban Nabi dalam hadis tersebut sebagai: jihad yang paling disukai Allah iyalah: MENEGUR PEMIMPIN/PRESIDIN YANG JAHAT DENGAN KALIMAT HAQ (berani menanggung resiko masuk bui,atau mati syahid jika di musuhi oleh pemerintah atau dibunuh pemerintah).

Kemudian dia mengutip kitab Ihya:

ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺤﺴﻦ اﻟﺒﺼﺮﻱ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﺷﻬﺪاء ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺟﻞ ﻗﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺇﻣﺎﻡ ﺟﺎﺋﺮ ﻓﺄﻣﺮﻩ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻧﻬﺎﻩ ﻋﻦ اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻓﻘﺘﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺬﻟﻚ اﻟﺸﻬﻴﺪ ﻣﻨﺰﻟﺘﻪ ﻓﻲ اﻟﺠﻨﺔ ﺑﻴﻦ ﺣﻤﺰﺓ ﻭﺟﻌﻔﺮ

Selengkapnya ..... (Link)


Entah bab apa halaman apa dia mengutip ihya tersebut.

Selang beberapa hari, Kamis (16/05/2019), Mahmud menulis lagi di facebooknya dengan judul: MARI KITA NGAJI KITAB IHYA ULUMIDDIN IMAM AL GAZALY jilid 2 halaman 343:
AGAR PEMAHAMAN KITA TIDAK DI SESATKAN OLEH ORMAS PENJILAT PEMERINTAH.

Tulisan tersebut masih membahas "mati syahid" yang seakan melanjutkan tulisan dia sebelumnya.

Di tulisan ini dia mengutip hadis:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻴﺮ اﻟﺸﻬﺪاء ﺣﻤﺰﺓ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ ﺛﻢ ﺭﺟﻞ ﻗﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺇﻣﺎﻡ ﻓﺄﻣﺮﻩ ﻭﻧﻬﺎﻩ ﻓﻲ ﺫاﺕ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻘﺘﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ

Mahmud kemudian mengartikan: rasulullah bersabda:
derajat orang-orang yang mati syahid yang paling terbaik adalah sayiduna hamzah bin abd muththolib,
kemudian derajat mati syahid berikutnya (dibawah hamzah) iyalah seorang lelaki dengan gagah berani bergerak menuju presidin, lalu dia menyuruh si presidin itu melakukan kebaikan,dan menegahnya dari kemungkaran dalam syari'at agama,dia melakukan ini murni lillahi ta'ala,kemudian si lelaki ini dibunuh oleh presidin gara-gara dia melakukan itu,maka dia mati syahid 
.
(perhatian: kasus dalam redaksi hadist ini adalah dia ini dibunuh oleh presidin atau anak buahnya,bukan bunuh diri,bukan menggunakan bom bunuh diri,tapi dia dibunuh presidin,bisa di tembak di tempat oleh anak buah presidin,dan pulang cuma tinggal nama)

Kemudian dia mengutip Imam Ghazali dan diterjemahkannya:

imam algazali berkomentar:
ﻭﻟﻤﺎ ﻋﻠﻢ اﻟﻤﺘﺼﻠﺒﻮﻥ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﺃﻓﻀﻞ اﻟﻜﻼﻡ ﻛﻠﻤﺔ ﺣﻖ ﻋﻨﺪ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﺟﺎﺋﺮ ﻭﺃﻥ ﺻﺎﺣﺐ ﺫﻟﻚ ﺇﺫا ﻗﺘﻞ ﻓﻬﻮ ﺷﻬﻴﺪ ﻛﻤﺎ ﻭﺭﺩﺕ ﺑﻪ اﻷﺧﺒﺎﺭ ﻗﺪﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻮﻃﻨﻴﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻋﻠﻰ اﻟﻬﻼﻙ ﻭﻣﺤﺘﻤﻠﻴﻦ ﺃﻧﻮاﻉ اﻟﻌﺬاﺏ ﻭﺻﺎﺑﺮﻳﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺫاﺕ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﺤﺘﺴﺒﻴﻦ ﻟﻤﺎ ﻳﺒﺬﻟﻮﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﻬﺠﻬﻢ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ
tatkala orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya telah mengetahui :
bahwa paling afdhol bertausiah adalah berkata yang sebenarnya di hadapan presidin yang bangsat,
dan bahwa orang yang menyuarakan kebenaran keadilan di hadapan presidin bangsat ini bila dia terbunuh,maka hadiahnya mati syahid,sebagaimana hadist yang sudah disebutkan sebelumnya,

Selengkapnya (Link)



Nah dari sini, redaksi Dutaislam.com bisa menelesuri sumber yang dia gunakan.

Sebagaimana yang Mahmud sebutkan pada Ihya jilid II halaman 343. Berikut ini screenshot teks kitab Ihya'nya:



Dari melihat kitab Ihya' secara utuh, kita bisa melihat bahwa yang dikutip oleh Mahmud serampangan sehingga bisa memancing pemahaman yang keliru.

Bahkan pernyataan-pernyataan Imam Ghazali yang menurut redaksi Dutaislam.com krusial, malah tidak disebutkan oleh si Mahmud itu.

Semisal penjelasan Imam Ghazali sebelum menyebutkan Hadis tentang As-Syahid Sahabat Hamzah bin Abdul Muthalib.

Al-Ghazali menjelaskan tentang derajat amar makruf yang ada 4 tahapan, yaitu; memberikan pengertian, memberikan mauidzoh, menakuti dengan ucapan, dan mencegah secara paksa dengan menanggung siksa/pukulan demi membawa kebenaran.

Al-Ghazali menegaskan, bahwa bagi salathin/pemimpin/raja/presiden yang diperbolehkan adalah 2 macam amar makruf di atas, yaitu at ta'rif wal wa'dzu (memberikan pengertian dan mauidzoh).

Adapun mencegah secara paksa, tidak diperkenankan kepada rakyat untuk pemimpinnya karena dapat menggerakkan fitnah dan merangsang keburukan. Dan hal itu dapat menyebabkan bahaya yang lebih besar.

Sedangkan menakuti dengan ucapan seperti "wahai orang dzolim, wahai orang yang tidak takut Allah", dan sejenisnya, hal ini dapat menggerakkan fitnah dan memperluas keburukan kepada orang lain. Nah apabila tidak ditakutkan menyebar untuk orang lain, artinya untuk diri sendiri saja maka hukumnya baru boleh, bahkan sunnah.

Selain itu, setelah kutipan Mahmud yang menyatakan Imam Ghazali berkata:

.....ﻭﻟﻤﺎ ﻋﻠﻢ اﻟﻤﺘﺼﻠﺒﻮﻥ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ

Sebetulnya Al-Ghazali juga memberikan keterangan tentang bagaimana cara memberikan mauidzoh kepada pemimpin, tapi lagi-lagi Mahmud tidak menyantumkan hal itu.

Al-Ghazali menjelaskan perinciannya pada bab lain yaitu: kitab halal dan haram. [dutaislam.com/gg]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah