Alhamdulillah Mereka Kalah
Cari Berita

Advertisement

Alhamdulillah Mereka Kalah

Duta Islam #02
Minggu, 26 Mei 2019

Ketika Prabowo klaim kemengan. (Foto: detik)
Oleh Al-Zastrouw

DutaIslam.Com - Meski masih diliputi rasa duka karena ulah para perusuh yang telah menodai kesucian bulan Ramadhan dengan tindakan brutal dan anarkhis dan berbagai aksi sektarian yang merobek keutuhan bangsa dan kedaulatan negara, namun kita masih patut bersyukur karena tindakan tersebut segara bisa diatasi oleh aparat. Meski masih ada riak-riak kecil tapi insya Allah semua akan segera berhenti dan berakhir.

Syukur yang kedua patut dihaturkan pada Allah atas kemenangan ummat Islam kultural dan kaum nasionalis dalam Pilpres kali ini. Dengan kemenangan kelompok ini keberagaman bangsa ini akan terjaga dan suasana sejuk tentram akan tetap terpelihara.

Ini dibuktikan dengan sikap mereka yang tenang dan arif dalam mensikapi kemenangan. Mereka tidak teriak di jalanan dengan kalimat takbir dan bendera sebesar layar bioskop. Mereka juga tidak pawai menutup jalan dengan panji-panji Islam yang bikin ciut nyali kaum minoritas.

Bukannya mereka tidak merayakan kemenangan. Mereka juga merayakan kemenangan sebagai wujud suka cita atas hasil perjuangan. Namun perayaan kemenangan itu dilakukan sekedarnya. Hanya diruang sederhana dengan acara ala kadarnya.

Selain untuk memuliakan bulan suci, perayaan seperti ini juga dimaksudkan untuk menjaga perasaan saudara-saudara yang kalah dalam kompetisi. Mereka tidak ingin melukai perasaan saudara sebangsa yang kecewa carena kekalahan. Mereka tak ingin pertajam perbedaan yang bisa memecah persaidaraan dan persatuan bangsa.

Begitulah cara mereka mensyukuri kemenangan yang tetap diletakkan pada bingkai perasudaraan dan kebangsaan. Inilah akhlak beragama dan berbangsa yang ditunjukkan oleh kaum Islam kultural dan kelompok nasionalis. Semoga sikap ini akan terus terjaga.

Baca: Biarkan Para Pengkhianat Gigit Jari

Saya membayangkan bagaimana jika kelompok Islam politik dan golongan jihadis yang menang. Hari ini di jalanan pasti sudah penuh baliho dan spanduk besar penuh dengan simbol agama mengucapkan selamat pada presiden dukungan mereka.

Mimbar mimbar masjid akan semakin penuh caci maki pada kelompok yang berbeda dengan mereka. Tudingan munafik, liberal, Syiah, sesat, kafir dan sejenisnya akan semakin riuh terdengar di masjid-masjid dan mimbar agama. Panji-panji Islam akan masuk di segala lini lehidupan mengabaikan perasaan sesama saudara dan keutuhan bangsa.

Bayangan saya ini berpijak pada dua kenyataan. Pertama, sebelum berkuasa saja mereka sudah melakukan tidakan mentang-mentang, sok kuasa pada sesama. Dengan seenaknya mereka melakukan sweping, razia, persekusi, caci maki dan menebar kebencian kepada kompok lain yang berbeda.

Mereka tidak peduli apakah yang mereka lakukan itu melukai hati sesama warga bangsa atau mengancam kedaulatan negara. Atas nama Islam mereka bebas melalukan apa saja.

Jika kelompok seperti ini berkuasa maka akan terjadi pengulangan sejarah kelam kehidupan manusia karena bertemunya otoritarianisme agama dan kekuasaan politik. Suatu konstruksi kekuasaan yang sulit dikritik dan dikritisi karena mengkritisi pemerintah akan dianggap melawan dan menista agama.

Fakta kedua, adalah sikap mereka menghadapi kekalahan. Hampir seluruh institusi dan perangkat demokrasi yang memiliki otoritas formal di negeri ini telah memutuskan mereka kalah.

Namun yang terjadi mereka tidak mau menerima kekalaham secara legowo, malah melakukan delegitimasi terhadap semua institusi negara dan beberapa lembaga ilmiah dengan cara memprovokasi rakyat dengan mengeksplotir narasi kecurangan, jihad, perang Badr dan sejenisnya. Rakyat dijanjikan surga dengan jargon yang menggiurkan; membela agama dan menegakkan keadilan, hingga mereka terprovokasi.

Baca: Pangling pada Agama Sendiri

Dalam posisi kalah saja, mereka jumawa dan sombong. Menganggap diri paling benar dan paling bersih kemudian menganggap orang lain salah dan kotor dengan mengeksploitasi narasi curang.
Bahkan secara arogan dan jumawa mereka mengidentifikasi diri sebagai kelompok Mabi Musa dan Nabi Muhammad, sedangkan kompok lain adalah fir'aun dan kafir Quraisy.

Padahal di kelompok yang mereka tuding Fir'aun dan kafir itu ada juga ulama yg alim, berakhlak mulia dan umat Islam juga. Dengan narasi agama mereka memaksakan kehendaknya dengan segala cara. Bahkan tega membenturkan aparat dengan rakyat.

Inilah karakteristik Islam politik; ngotot, ngeyel, ngamuk dan menggunakan segala cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Mereka tidak peduli negara hancur, rakyat sengsara dan jadi korban. Bahkan kalo ada korban, akan dieksploitasi untuk menghasut dan membakar emosi ummat agar terus melawan.

Mereka selalu berupaya membenturkan rakyat dengan pemerintah yang bukan dari golongannya.
Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia terutama di negara mayoritas muslim.

Karakter Islam politik yang ngeyel, ngotot dan ngamuk ini berbeda sama sekali dengan Islam kultural yang toleran, moderat dan menjunjung tinggi etika berbangsa.

Mereka memiliki kaidah yang menjadi pijakan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti kaidah "dar'u al mafaasid muqaddam 'ala jalb al mashaalih" (memcegah kerusakan harus lebih didahulukan daripada mencari kebaikan), "irtikaabu ala akhaffu dharuroini wajibun" ( wajib mengambil resiko terkecil dari dua persoalan yang sama-sama beresiko) dan sebagainya.

Beberapa kaidah ini menjadikan kaum Islam kultural selalu melihat persoalan dari berbagai perspektif dengan pertimbangan yang konprehensif. Dengan demikian penerapan ajaran Islam yang bersifat muamalah dan terkait dengan persoalan sosial atau ibadah ghoiru mahdlah (bukan akidah) menjadi lebih aplikatif, kontekstaual, ramah dan menyenangkan. Tidak ngotot, ngeyel dan ngamuk dengan mengorbankan segalanya demi agama.

Alhamdulillah.... dalam Pilpres kali ini kelompok Islam kultural bisa mengalahkan Islam Politik, sehingga keberagamaan Indonesia akan bisa terjaga. Namun ini bukan berarti pekerjaan selesai. Justru ini menjadi.langlah awal untuk konsolidasi bagi kaum Islam kultural dan kelompok nasionalis.

Karena ke depan gerakan Islam politik tidak akan pernah berhenti. Watak mereka yang ngotot, ngeyel dan ngamuk tidak akan bisa menerima kekalahan secara legowo. Mereka akan terus bermanuver dan melakukan intrik dengan segala cara unt melemahkan pemerintah. Menggangu dan menjegal agar pemerintah gagal dan lemah. Dengan cara ini mereka bisa merebut kekuasaan.

Menjaga berkembangnya Islam politik merupakan tugas kaum nasionalis, NU dan Muhammadiyah (sebagai representasi mayoritas Islam kultural) ke depan. Karena inilah cara mewujudkan ketentraman dan kesejahyeraan ummat, menjaga keberagaman dan mempertahankan NKRI yang berdasar Pancasila agar tidak terganggu oleh gerakan politik bertopeng agama yang terus gaduh dan berisik. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini