Wali Mastur yang KH Hasyim Asy'ari Ingin Mendengar Suaranya
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Wali Mastur yang KH Hasyim Asy'ari Ingin Mendengar Suaranya

Duta Islam #02
Sabtu, 27 April 2019
Loading...

Makam Mbah Karim di makam Mbah Irom desa Plandaan Tulungagung. Ciri khas makamnya, kijingnya miring ke barat. (Foto: Facebook Ainur Rofiq Al Amin)
Oleh Ainur Rofiq Al Amin

DutaIslam.Com - Mbah Karim (70 an tahun) Tulungagung didawuhi Kiai Mustaqim (abahnya Kiai Abdul Djalil, pondok Peta Tulungagung) bahwa Mbah Irom itu wali. Di lain waktu, Mbah Karim datang ke Mbah Irom, lalu Mbah Irom bilang bahwa Kiai Mustaqim adalah orang sholeh. Siapa Mbah Irom?

Mbah Irom (Mukarrom) lahir di Tulungagung sekitar tahun 1901 dan wafat tahun 1976. Beliau santri sepuh (lama mondoknya) di Mojosari Nganjuk. Saat mau mondok ke Mojosari, beliau dipesani oleh ibunya agar jangan menjadi tukang ngliwet dan harus ngirit karena abahnya sudah meninggal. Selanjutnya Mbah Irom berangkat mondok dengan berjalan kaki dari Tulungagung ke Mojosari. Sampai di sungai untuk menyeberang, uang sedikit untuk sangunya jatuh di dasar sungai, dan hilang.

Setiba di Mojosari dengan tanpa bekal, karena uangnya hilang, Mbah Irom akhirnya riyadloh yang dalam keseharaiannya selama tiga bulan pertama hanya makan kacang dari hasil ngasak atau mengais sisa panen di sawah dari para petani yang baru memetik kacangnya. Tiga bulan kedua ngasak kedele di sawah, dan itu yang dimakan. Tiga bulan ketiga makan ares (hatinya batang pisang). Kalau ares pisang tentu di desa banyak. Tiga bulan keempat hanya meminum air putih.

Setelah itu, badan Mbah Irom lemah sekali karena hanya air putih yang masuk ke tubuhnya. Saat membuka kitab, tanpa disengaja terdapat uang yang pas untuk membeli satu porsi makanan. Demikian tiap hari kalau lapar, dan membuka kitab, akan mendapatkan uang yang hanya pas untuk membeli nasi satu porsi (teringat cerita guru saya yang mirip. Yakni beras di kuali kecil dan gula di toples kecil tidak habis dan uang di lemari tiap awal bulan ada, tapi hanya pas kebutuhan minim rumah tangga, tidak lebih sedikitpun).

Kata Mbah Karim, setelah itu Mbah Irom mbruwah (memanen atas hasil tirakatnya). Di antara mbruwahnya muncul "keanehan", Mbah Irom sering diajak makan orang-orang, sehari bisa lebih tiga kali dan mampu saja menghabiskan makanan, tapi beliau juga mampu tidak makan tujuh hari.

Mbah Irom pesan kepada Mbah Karim, "Kalau punya 'ilmu', harus kamu pendam di bumi sap (tingkat) tujuh yang bawah sendiri. Kalau di langit, letakkan di langit sap (tingkat) tujuh, yang atas sendiri."

Model khumul yang demikian ketat dan rapat tentu banyak orang akan terkecoh dengan tampilan luarnya yang bisa jadi kayak orang gembel, bodoh, cuek, apalagi tampilan dan gayanya tidak kayak di tivi yang penuh "ornamen" sehingga dapat "memukau-menipu" pemirsa.

Maka bisa dipahami saat Mbah Irom tidak berkenan membaca ayat di hadapan khalayak ramai saat ada tamu Mbah Kiai Hasyim Asy'ari yang menyebut sebagai santri kung. Dalam dunia perkutut, ada katuranggan dari perkutut yang memiliki suara bagus (kung). Perkutut yang kung menurut mereka terkadang tidak hanya menunjukkan bagusnya suara, tapi ada dimensi supra yang mereka percaya. Dalam konteks santri kung, tentu bukan hanya suara saja, tapi berdimensi lebih dari itu. Artinya Mbah Irom santri unggulan yang mempunyai daya linuwih spiritual, sehingga Kiai Hasyim yang waskita ingin menjumpai dan mendengarnya.

Wajar juga saat para santri Mojosari ingin mengaji kepada Mbah Irom, selalu ditolak. Tapi pernah suatu kali ada santri yang ngringik (maksa halus secara terus menerus), maka terpaksa Mbah Irom membacakan kitab sekali duduk dikhatamkan. Tentu santri tidak kuat, akhirnya setelah itu tidak ada yang berani lagi minta mengaji.

Kiai Ghufron pernah bercerita, saat Kiai Zainuddin menjelang wafat, beliau jatuh sakit. Untuk itu, Kiai Zainuddin menugaskan kepada Mbah Irom menjadi imam sholat, temasuk imam sholat Jum'at.

Sekitar seminggu sebelum wafat pas hari Jumat, Mbah Irom menjadi imam dengan membaca surat pendek. Sekalipun Kiai Zainuddin sakit, beliau ikut sholat Jum'at. Selesai sholat Jum'at, Kiai Zainuddin berteriak, "Siapa tadi pak tua ngimami kok lama sekali. Dia harus didenda seratus rupiah."

Tidak berhenti sampai di situ, beliau memanggil lurah santri supaya memanggil Mbah Irom. Sesampai Mbah Irom di hadapan Kiai Zainuddin, Kiai Zainuddin mengulangi ucapan di atas. Lalu Mbah Irom menjawab, "Saya tidak punya uang, dendanya diganti membaca qulhu saja."

Kiai Ghufron memungkasi, ternyata betul, sekitar satu mingguan, Kiai Zainuddin wafat dan dibacakan qulhu (fida'an) oleh Mbah Irom.

Anda yang belum paham karakter kiai dan santri pondok Mojosari tempo dulu akan masygul dengan cerita-cerita nyleneh seperti. Kiai Abdul Mun'im DZ, sejarawan NU bercerita bahwa di antara sekian banyak pesantren, maka pesantren Mojosari ini, terutama KH Zainuddin, yang paling mempengaruhi dalam pembetukan kepribadian KH. Wahab Chasbullah. Pikiran, bicara sikap dan tindakan Kiai Wahab, sudah melampaui logika, beyond gramatika (nahwu shorof), beyond fikih. Kelihatan "anarkis" tapi sangat kreatif. Ini persis sikap Kiai Zainuddin dan Kiai alumni Mojosari lainnya.
Walupun mereka "anarkis" dan jadzab, tetapi sangat disiplin.

Mbah Irom jelang wafat, saat naza' yang menunggu dan membacakan Yasin adalah Gus Tom Mojosari dan Mbah Karim. [dutaislam.com/gg]

Sumber kisah:
1. Mbah Karim pada 26 April 2019 di Pondok Peta. Mbah Karim dapat cerita dari abahnya sendiri dan juga dari Mbah Irom. Mbah Karim masih famili dengan Mbah Irom (cucu ponakan).

2. Kiai Ghufron pada 10 Pebruari 2019.

Source: Ainur Rofiq Al Amin

close
Banner iklan disini