Tujuan Jahat Propaganda Negatif KPU Curang

Tujuan Jahat Propaganda Negatif KPU Curang

Kamis, 25 April 2019 | x dibaca

Oleh Arya Hadi Dharmawan

Dutaislam.com - Isu tentang kecurangan massif yang dilabelkan kepada KPU terus dilancarkan via propaganda-negatif oleh segolongan pihak terhadap KPU di media sosial. Propaganda dan manufactured public opinion adalah frase lain dari kampanye.

Peyakinan adanya isu kecurangan oleh KPU itu dilakukan dengan cara manufactured public opinion (opini publik yang diproduksi secara sengaja). Tujuannya agar isu tersebut menjadi delusi massal (realitas semu) yang menjadi belief (keyakinan) publik.

Kebetulan, memang ada beberapa kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh KPU di lapangan (salah entry data, ada KPPS yang salah hitung angka dst). Sekalipun, KPU sudah berusaha memperbaikinya, kesalahan itu terus dilekatkan sebagai memori massa terhadap KPU pada ingatan publik.

Sangat iba, melihat KPU yang telah mati-matian bekerja (bahkan banyak yang wafat petugasnya di lapangan), terus dilabel negatif seperti itu. Belum pernah terjadi, personal KPU wafat begitu banyak di saat yang sama mereka dituduh terus negatif.

Baca: Heboh Sugi Nur Sumpahi 21 Turunannya Hancur Karena Anggap KPU Curang

Sekalipun membuat sebagian masyarakat iba, tetapi proses manufactured public opinion on negativity KPU tidak surut dan tak lekang. Tujuannya apa? Tujuannya: bila publik telah meyakini realitas-semu (bahwa KPU itu curang secara massif dan sistematis) sebagai kenyataan riil, maka ujungnya adalah mass distrust (ketidakpercayaan massal), mass-deprivation (rasa pilu karena dicurangi, yang melanda secara massal dan aneka kecemasan massal lain.

Kecemasan massal adalah prasyarat penting terbentuknya kegaduhan sosial (riots atau demo hancur-hancuran). Para sarjana sosiologi, sangat mudah memindai alur gerakan-nalar ini melalui bantuan teori-teori sosial yang selama ini ditekuninya.

Baca: Delusi Massal (Percaya Realitas Semu) Bisa Menular

Dalam sosiologi dikenal social-movement theories. Dalam teori itu, bila mass anxiety (kecemasan massal), mass distrust (ketidakpercayaan massal) dan mass deprivation telah tercapai, maka apalagi ujungnya jika bukan people movement (gerakan rakyat).

Gerakan rakyat sejatinya bisa dua bentuknya: soft-movement (gerakan sosial yang damai atau peaceful movement) atau violent-movement (gerakan physical force to hurt yang tidak damai secara massal atau mass-protest). Menurut anda, mana yang ingin diciptakan oleh mereka yang aktif melakukan labeling secara negatif terhadap KPU selama ini?

Bila gerakan violent yang terjadi, maka protes massal bisa dalam bentuk demo, kekacauan dan hal-hal destruktif lainnya. Semua berujung pada gerakan sosial yang chaotic (chaos). Jika chaos yang terjadi, maka kita mundur dalam berdemokrasi.

Siapa yang bersorak-sorai jika indeks demokrasi Indonesia turun? Pastinya mereka adalah orang-orang yang tak suka dengan sistem demokrasi Pancasila.

Baca: Sangkal Quick Count, Amien Rais Akan Diseret ke Bareskrim

Itu dugaan dan analisis saya sebagai orang yang menekuni sosiologi gerakan sosial. Akankah analisis saya menjadi kenyataan, atau tidak terjadi? Kini berpulang pada Anda.

Apakah Anda ingin menjadi bagian dari kekacauan massal? Atau Anda ingin mengoreksi dan memperbaiki KPU atas beberapa kekurangan atau error minor yang dilakukan, agar semua menjadi beres secara damai?

Opsinya dua saja: (1) Anda mau memperbaiki keadaan, atau (2) Anda mau ikut membuat (delusi) kekacauan? Pilihan ada pada Anda. [dutaislam.com/ab]

Arya Hadi Dharmawan,
pengajar di Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

TerPopuler

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah