Radikalisme Agama dalam Pesan Sabdo Palon

Radikalisme Agama dalam Pesan Sabdo Palon

Sabtu, 06 April 2019 | x dibaca
Ilustrasi Sabdo Palon. Foto: istimewa. 
Oleh Mukhammad Nur Rokhim

DutaIslam.Com - Menyebarkan Islam di pulau Jawa tidaklah mudah. Mengapa? Karena butuh perjuangan dan pengorbanan untuk membumikan ajaran agama Illahi. Perjuangan itu tidaklah gratis dengan cukup membalikkan tangan lalu menjadi Islam seluruhnya. Islam ada di Indonesia mungkin sudah lama. Banyak literatur yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara Arab dan Jawa melalui perdagangan. Hal itu dicatat oleh kronik Cina dimana ada raja sabrang bernama Tashih yang menjalin hubungan dagang dengan Ratu Shima.

Secara ekonomi, sudah bisa dikatakan mampu melakukan kerjasama. Akan tetapi, dalam prinsip keagamaan banyak kendala yang dihadapi. Semakin berkembangnya zaman, lahirlah sebuah organisasi dakwah bernama Walisongo. Saat itu, ada sembilan ulama' yang ahli dalam bidang pemerintahan, ekonomi, budaya, dan lainnya.

Tantangan dakwah mereka cukup besar, di antaranya harus menghadapi beberapa ancaman dari oknum yang menolak adanya dakwah Islam. Menurut buku Atlas Walisongo karya KH. Agus Sunyoto diterangkan bahwa para Walisongo harus berhadapan dengan para pengikut aliran Bhairawa Tantra, penganut ilmu hitam, dan aliran kebatinan yang menolak adanya Walisongo yang di beberapa tempat. Walaupun harus dilakukan adu kekuatan dan ketinggian ilmu, para wali tetap bersabar dalam berdakwah ahlussunah wal jama'ah kepada masyarakat Jawa.

Baca: Catat! 9 Tindakan Harus Diakukan Jika Melihat Tindak Penyebaran Ajaran Radikal di Lingkunganmu.

Masyarakat Jawa tentu paham dengan mitos Sabdo Palon dan Naya Genggong yang menjadi punakawan Raja Brawijaya. Dalam akhir masa Majapahit, mereka bernegosiasi dengan Kanjeng Sunan Kalijaga (dalam versi lain menyebutkan adalah Syekh Subakir/Syamsuddin al-Baqir) yang pada intinya menjelaskan bahwa Agama Rasul (Islam) boleh disebarkan oleh para wali dengan beberapa catatan.

Pertama, Islam harus disebarkan tanpa paksaan. Tidak boleh memaksakan diri untuk mengislamkan seseorang dengan jalan apapun, baik melalui kekerasan atau tidak. Kedua, Islam harus mampu bersinergi dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Ketiga, ketika ada pemimpin yang lahir dari Islam maka harus menghormati orang non-Islam. Apabila ketiga poin ini dilanggar, maka akan muncul huru-hara di Nusantara.

Kita lihat sejenak di sekeliling kita. Banyak sekali ormas Islam yang ujung-ujungnya berusaha menegakkan Islam tetapi dengan jalan yang tidak sesuai dengan kondisi keragaman Indonesia. Budaya yang tidak sesuai dengan Islam, mereka anggap bid'ah begitu saja. Mereka mencitrakan Islam dengan cara keras, menindas orang lain yang bukan seiman, dan merasa lebih tinggi.

Baca: Indonesia Itu "Mengingkari" Syariat Islam. 

Dari ulasan diatas, kita bisa tahu mengapa saat ini masih ada beberapa bencana yang terjadi di Indonesia. Terlepas dari mitos, sudah sepantasnya berintrospeksi diri bahwa Islam ada di Indonesia adalah jerih payahnya para wali yang mendakwahkan Islam dengan kelembutan. Bintang sembilan di lambang NU adalah cerminan dari kearifan para wali dalam berdakwah bil hikmah wal maudlotil hasanah. Itulah cerminan dakwah Islam Nusantara, bukan memukul tapi merangkul.

Tapi, bagi mereka yang enggan memahami sejarah mengapa setelah Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia, mereka justru lebih agresif? Hanya satu kata yang paling tepat untuk disampaikan, bahwa saat ini ada kacang yang lupa kulitnya. [dutaislam.com/ab]

TerPopuler