Pemberontak Zaman Sayyidina Ali Rajin Ibadah dan Hapal Al-Quran
Cari Berita

Advertisement

Pemberontak Zaman Sayyidina Ali Rajin Ibadah dan Hapal Al-Quran

Duta Islam #01
Kamis, 25 April 2019

Ken Setiawan, mantan Komandan NII. Foto: istimewa. 
Dutaislam.com - Mantan Komandan NII yang sekarang mendirikan NII Crisis Center Ken Setiawan bercerita tentang pengalaman dahulu selama bergabung dalam kelompok radikal, dirinya dulu sering menggunakan ayat ayat Al-Qur'an untuk meligitimasi kegiatannya agar seolah olah adalah jihad untuk Islam.

Bahkan dirinya dulu menghalalkan darah dan harta orang orang yang di luar kelompoknya, artinya boleh membunuh dan mengambil harta orang di luar kelompok sebab orang yang di luar kelompoknya dianggap kafir dan orang kafir itu halal darah dan hartanya.

Dalam kondisi perang Ken Setiawan menganggap ada istilah fa'i atau harta rampasan perang yang dalam doktrin kelompoknya rampasan perang itu boleh diambil dan digunakan untuk perjuangan.

Ken menceritakan bahwa kondisi hari ini mirip dengan kondisi zaman kepemimpin Sayyidina Ali yang juga dianggap oleh kelompok radikal/khawarij pada saat itu bahwa Sayyidina Ali telah keluar dari hukum Allah, maka layak diperangi. Padahal faktanya tidak demikian.

Hari ini Pancasila dihujat, dihina dan dicaci-maki, dianggap taghut dan berhala oleh sekelompok orang yang mengaku lebih beragama tapi faktanya hanya untuk meligitimasi kepentingan politiknya saja.

Lucunya adalah kita semua diam membisu tatkala Pancasila dihina dan dinistakan. Menurut saya itu hal yang sangat memprihatinkan. Begitu penjelasan Ken.

Zaman dulu, kata Ken, Sayyidina Ali kurang apa ketika menjadi khalifah/pemimpin. Sayyidina Ali sudah adil dan bijaksana. Tapi namanya manusia tetap tidaklah sempurna, ada pasti kekurangan, dan kekurangan ini yang dimanfaatkan oleh lawan politik bahkan diada-adakan supaya ada kesalahan.

Gelar khalifah/pemimpin/presiden menjadikan Sayyidina Ali bertanggungjawab untuk memimpin umat pada saat itu. Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah.

Namun memang menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah. Sayyidina Ali pun mendapat banyak kritikan dari para pengikutnya, termasuk kritik itu datang dari para tokoh agama yang ahli ibadah dan hafal Al-Qur'an.

Mereka yang anti terhadap Sayyidina Ali selalu membandingkan pada zaman dulu, di zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman yang menyebut kondisi negara stabil.

Di era Sayyidina Ali menjadi pemimpin, kondisinya tidak stabil, bahkan dianggap keluar dari jalur hukum Allah. Protes ini terus dilayangkan semasa era kepemimpinan Sayyidina Ali.

Uniknya adalah para pembenci Sayyidina Ali adalah para tokoh agama yang rajin ibadah bahkan hapal Al-Qur'an. Meski melaksanakan ibadah sesuai yang dianjurkan Islam, namun mereka tetap menebarkan kebencian dan sikap keras terhadap Sayyidina Ali dan pendukungnya.

Mereka kerap menyimpangkan dalil-dalil agama untuk gerakan-gerakan politiknya. Bahkan, sejumlah riwayat menyatakan pemberontak dimasa Sayyidija Ali menghalalkan darah seseorang yang berbeda pandangan dengannya.

Hingga akhirnya Sayyidina Ali menjadi korban atas kekeliruan pandangan keagamaan kaum radikal/ khawarij pada saat itu.

Baca juga: Ini Guyon ala Rasulullah dengan Sayyidina Ali dan Santri yang Menjaili Mbah Hasyim Asyari.

Sayyidina Ali dibunuh oleh seorang bernama Ibnu Muljam yang tidak mengakui kepemimpinan Sayyidina Ali karena  dianggap telah keluar dari hukum Allah.

Ibnu Muljam sang pembunuh mengklaim diri dan kelompoknya berdiri di atas hukum Allah sebagai orang yang taat dalam beribadah, shalat, puasa, bahkan hafal Al-Qur'an. Tapi bacaannya tidak masuk ke dalam hati dan hanya sampai batas kerongkongannya saja, sehingga mudah termakan oleh kabar palsu (hoak) yang telah disebarkan oleh kaum radikal pada masa itu.

Menurut Ken Setiawan, sejarah masa lalu tersebut menjadi pelajaran bahwa pada masa itu ada orang yang mengaku beragama tapi hanya di lisan, sementara hatinya penuh dengan kebencian.

Dan kita lihat hari ini, faktanya banyak sekali juga orang yang mengaku paling beragama tapi juga setiap saat selalu mengajarkan kebencian, menyalahkan pemimpin dan pemerintah atas nama agama karena menganggap pemerintah tidak melaksanakan hukum Allah sehingga dianggap taghut/kafir yang harus diperangi.

Masyarakat harus waspada terhadap propaganda mereka,  harus jeli terhadap berita yang kita terima.  Jangan sampai kita menjadi korban hoax atau barangkali malah menjadi pelaku hoax dengan menyebar berita yang tidak sesuai fakta.

Persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia sedang diuji,  antar suku antar agama, bahkan yang seagama seolah olah kita ribut terus.

Saatnya kita bersatu,  lawan hoax dan Intoleransi bersama sama agar keluarga dan lingkungan kita tetap damai dan kondusif. Baca juga: Ibnu Muljam, Khawarij Hafiz Qur'an yang Membunuh Sayyidina Ali.

Jangan sampai sejarah kelam masa lalu terulang kembali. Manusia baik seperti Sayyidina Ali harus gugur menjadi korban kelompok radikal yang mengaku beragama tapi tersesat karena salah dalam mamahami agama hanya untuk kepentinganya saja.

Diakui oleh Ken, dirinya dulu adalah orang yang sangat anti terhadap Pancasila karena memahami dengan cara yang salah. Kini Ken ada di barisan garda terdepan dalam mengampanyekan bahwa Pancasila adalah sebuah kesepakatan bersama yang juga dirumuskan oleh para ulama.

Pancasila sudah final seperti Piagam Madinah sebagai kesepakatan bersama yang mengatur hubungan antara Islam, Nasrani dan Yahudi pada saat itu. Jadi Piagam Madinah bukan untuk mengislamkan semua orang tapi sebagai kesepakatan bersama, seperti Pancasila yang mengatur hubungan bermasyarakat Indonesia dalam Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca: Agar Tidak Ketipu, Mari Belajar dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Menurut Ken, ini kritik untuk kita semua, bahwa jangan terlalu percaya sepenuhnya dengan simbol simbol agama, bahwa agama dan kitab suci Al-Qur'an tidak pernah salah, tapi tidak semua orang yang mengaku beragama dan membawa kitab suci Al-Qur'an itu benar. Ada orang orang yang menjual ayat dan agama dengan sangat murah.

Kita boleh waspada,  tapi jangan sampai kita pobia terhadap agama. Ken menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, beberapa kali Allah memperingatkan kaum Muslimin tentang larangan menjual ayat dengan harga murah:

 “… tasytaru biayati tsamanan qalila
(menjual/menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah).

Allah sangat murka dengan perilaku menjual ayat secara murah ini dan Allah mengancamnya dengan siksa yang keras di akhirat kelak.

Mengapa diancam siksa-Nya? Karena itu sama dengan merendahkan-Nya dan merendahkan Al-Qur’an yang Agung. Demikian kata Ken Setiawan. [dutaislam.com/ab]

Sumber atikel: Kensetiwan.com

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah