Monaslimin, Jangan Bikin NU Tertawa Soal Berjuta Umat saat Kampanye 02 di GBK

Monaslimin, Jangan Bikin NU Tertawa Soal Berjuta Umat saat Kampanye 02 di GBK

Selasa, 09 April 2019 | x dibaca
Kampanye Prabowo di GBK, Ahad (08/04/2019) lalu. Foto: Istimewa.
Oleh ‎Miftachul Firnanda‎

DutaIslam.Com - Saya dipameri terus foto kampanye akbar Prabowo di GBK yang katanya penuh dihadiri jutaan orang. Entah kenapa saya jadi sasaran. Kayaknya mereka gemas karena setiap kali narasi mereka yang selalu bicara "juta juta" terus dimentahkan.

Ya, GBK memang penuh. Warna putih dari setiap sudut GBK terlihat. Itu harus diakui memang. Masalahnya, apa hebatnya?

Bulan Januari 2019, muslimat NU mengadakan harlah ke 73 di GBK juga. GBK mendadak hijau dari sudut ke sudut. Miriplah dengan jumlah mereka yang hadir tadi siang.

Kira-kira berapa jumlah peserta yang diklaim oleh NU saat harlah ke 73 itu? 100 ribu doang. Tidak sampai berjuta juta seperti kata mereka. NU gak bisa bohong, dosa kata mereka.

Jelas orang-orang NU ngakak melihat kaum monaslimin bangga-banggaan karena merasa sudah memenuhi GBK. NU itu baru muslimatnya saja yang keluar, sudah penuh tuh GBK.

Gimana kalau seluruh NU yang keluar, pria dan wanita, seluruh santri yang diperkirakan ada puluhan juta, datang ke Senayan semua? Bukan hanya GBK, Jakarta pasti sempit dibuatnya.

Tapi NU tidak pernah jumawa. Tidak pernah juga mengklaim berjuta juta. Orang NU paham matematika. Bahwa kapasitas duduk di GBK hanya 76 ribu saja. Tambah 10 ribu yang hadir di tengah lapangan. Tambah lagi 10 ribu yang ada di luar stadion. Ya 100 ribuan lah semuanya.

Ngitung gitu aja, santri NU kelas dasar juga bisa. Gak perlu gelar Profesor, Dokter, apalagi ahli fisika. Gimana mereka gak ngakak berjamaah melihat klaim "juta" dari pihak jamaah monaslimin?

Lagian yang hadir juga itu itu aja. Di Monas dulu ya mereka mereka juga. Cuman geser tempat aja, terus kasih narasi seolah olah didukung seluruh umat Islam di Indonesia.

Saya juga mau ketawa sekeras kerasnya. Mumpung belum dilarang. Karena ketawa itu menyehatkan akal, apalagi melihat banyak pria yang shalat di belakang wanita, dan campur baur tak keruan, padahal mereka selalu bilang, "Haram bersentuhan dengan non muhrim" tapi kok tumben semua jadi halal?

"Itu darurat!" kata mereka kesal. Biji lu darurat. Memang situasi perang? Toh perang juga gak gitu gitu amat.

"Lebih bagus mereka shalat, daripada nggak!" Mereka tambah kesal. Ya shalat juga ada adabnya, ada tatacaranya, gak bisa seenaknya. Masak, misalnya, kalau tiba tiba ada shalat berjamaah yang diimami wanita, trus diprotes, langsung ngeles, "Lebih baik shalat, daripada tidak?" Ya tidak juga.

Tapi lumayanlah seharian ketawa membaca bagaimana mereka terus membenarkan apa yang salah. "Sak karep mu lah.." begtu kata orang Surabaya.

Kaum monaslimin memang kaum keras kepala. Mirip kaum khawarij jaman Imam Ali jadi khalifah. Yang sibuk berkata, "Tidak ada hukum selain hukum Allah.." tapi mereka selalu mengartikan dengan salah.

Pilpres 2019 ini memang unik. Shalat subuh dipake kampanye berjamaah. Untuk mendukung orang yang kata Rizieq Shihab, "Islamnya tidak jelas.." Tapi mereka percayai sebagai pimpinan hasil ijtimak ulama.

Negara berflower memang perlu waktu panjang untuk berfikir cerdas. Tapi lumayanlah untuk hiburan sepeninggal Srimulat. Minimal setiap kali mereka bergerak, secangkir kopi pasti tumpah. Melihat keanehan keanehan yang mereka bawa. [dutaislam.com/pin]

Source: Akun Facebook Miftachul Firnanda‎ 

TerPopuler