Ijtima Ulama III Dianggap Mencampur Aduk Agama dan Politik Makin Tak Karuan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Ijtima Ulama III Dianggap Mencampur Aduk Agama dan Politik Makin Tak Karuan

Duta Islam #03
Senin, 29 April 2019
Loading...

Ijtima Ulama Dinilai Mencampuradukkan Agama dan Politik Semakin Tidak Karuan. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Ijtima Ulama III yang akan digelar dalam rangka menyikapi Pilpres 2019 dianggap sebagai langkah mencampuradukkan agama dan politik menjadi semakin tidak karuan.

Hal ini diungkapkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Moeldoko menilai, Ijtima Ulama justru akan membingungkan masyarakat. "Itu apa urusannya. Urusan politik kok dicampur aduk enggak karu-karuan, sehingga membingungkan masyarakat," kata Moeldoko, Jumat (26/04/2019) dikutip dari Tempo.co.

Selain itu, menurut Moeldoko, Ijtimak Ulama III terindikasi menciptakan gerakan massa usai pemungutan suara Pemilu 2019. Indikasi ini dapat dilihat dari isu kecurangan Pemilu yang akan dibawa dalam Ijtimak Ulama tersebut.

"Iya bisa ke arah situ (menciptakan gerakan). Karena apa? Persoalan kecurangan itu selalu dihembuskan. TSM itu ya, terstruktur, sistematis, masih, ada satu lagi luar biasa. Ini menurut saya sebuah upaya yang harus kita hentikan," kata Moeldoko dikutip dari CNNIndonesoa.com.

Moeldoko meminta agar semua pihak tak langsung menjustifikasi persoalan yang belum tuntas. Dugaan kecurangan maupun kelalaian dalam pesta demokrasi lima tahunan bisa diselesaikan melalui jalur konstitusional. Bukan dengan Ijtimak.

Di sisi lain, menurut Moeldoko, isu kecurangan dalam pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif yang selalu dihembuskan perlu dihentikan. Sebab, proses penghitungan suara yang dilakukan KPU belum selesai. "Jika terjadi kesalahan sebaiknya jangan dijustifikasi sebagai kecurangan," katanya.

Moeldoko pun menilai ijtima ulama tidak perlu dilakukan. Masyarakat, kata dia, lebih membutuhkan suasana yang nyaman usai pemilu. "Jangan menciptakan suasana yang menakuti masyarakat," katanya.

Ketua Pusat Media PA 212 Novel Bamu'min mengatakan, Ijtima Ulama kali ini membawa nama 'Ijtima Ulama dan Tokoh III.' Hasil ijtima ulama akan dikirim kepada sejumlah ketua partai politik sehingga harus melibatkan tokoh politik.

"Kali ini banyak tokoh yang harus dilibatkan termasuk dari tokoh partai sebagai masukan info perkembangan partai karena mereka yang akan mengawal," kata Novel dikutip dari CNNIdonesia.

Ormas yang duduk di panitia pelaksana ijtima yaitu, FPI, GNPF Ulama, PA 212 dan berbagai ormas Islam lainnya. Ketuanya Yusuf Muhammad Martak yang diundang sebagai anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini