Demit dan Tuhan Dikelabuhi Pentholan PKS Demi Kue Kekuasaan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Demit dan Tuhan Dikelabuhi Pentholan PKS Demi Kue Kekuasaan

Duta Islam #01
Jumat, 12 April 2019
Loading...


Oleh Sumanto Al-Qurtuby

Dutaislam.com - Apakah Anda merasa kasihan dengan PKS? Kalau saya sebetulnya kasihan sekali dengan para elit politik PKS khususnya yang di tingkat pusat/nasional. Kalau yang di daerah-daerah saya lihat sangat beraneka ragam dan cukup dinamis dalam mengikuti "irama-gendang" sosial-politik lokal.

Kasihan karena, bagaimana tidak, sejak "pengsiun" dari kekuasaan/pemerintah, PKS jungkir-balik melakukan berbagai macam cara, termasuk cara-cara kotor dan penuh tipu-muslihat, hanya karena "ngences" ingin kembali menikmati "bakpao kekuasaan" yang mlenuk dan empuk itu.

Selama 10 tahun (2004-2014), sejak SBY menang Pilpres tahun 2004, PKS menikmati lezatnya "bakpao kekuasaan" itu. Beberapa pentolan dan pentilan kader PKS menduduki berbagai jabatan penting dan empuk di kementerian dan pemerintahan, baik sebagai menteri, dirjen, direktur, staf, maupun "pekatik" lain. PKS pun, kala itu, berpesta pora.

Baca: Gerakan Pemuda Ka'bah (GKP), Lowo Ijo PPP Garis Keras Radikal

Sementara SBY klemar-klemer dan ingah-ingih kayak tempe gembus bosok, tak mampu menindak bawahannya dari PKS yang tidak becus bekerja dan cuma pandai membaca mantra doa. Melihat SBY yang ingah-ingih, PKS semakin merajalela dan menggurita bak lalat-lalat yang mengerumuni si kerbau tua. Di masa SBY-lah, PKS "meng-Indonesia".

Tatkala SBY tak bisa lagi nyapres tahun 2014, PKS kembali mencoba keberuntungan dengan "ngupil" atau mendukung Prabowo. Tapi kali ini mereka ketiban sial. Prabowo keok. Jokowi yang menang. Meskipun dikeroyok berbagai parpol, Jokowi berjaya karena dukungan massa dan rakyat biasa.

Sejak Jokowi terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014, "bakpao kekuasaan" yang dulu PKS nikmati dengan pesta pora kini "hijrah" ke kader-kader parpol pendukung Jokowi. Karena dipangkas dari kekuasaan dan jabatan-jabatan strategis kementerian oleh Jokowi, PKS pun menangis meraung-raung laksana bayi yang tak bisa ngemut penthil ibunya.

Sejak itu, PKS membabi-buta menyerang Jokowi pakai ayat dan dalil yang sudah mereka pilah-pilih sesuai selera dan kepentingannya. Identitas keagamaan dan keislaman Jokowi pun ikut diserangnya. Padahal, dalam hal "kualitas keislaman", Jokowi tidak beda dengan SBY: sama-sama bukan "santri tulen" tapi dari kalangan "Islam Jawa".

Baca: Gagal Karim, Terbit Nahdholtul Umat (NU) for Khilafah.

Tapi kenapa mereka sibuk menyerang dan mempertanyakan keislaman Jokowi tapi "cangkeme mingkem" kalau dengan SBY? Ya Anda tahu sendiri jawabannya. Kenapa selama pemerintahan SBY, PKS tak pernah sepentilpun menyerang pemerintah dengan ayat dan dalil tetapi gencar sekali melakukan penyerangan di zaman Jokowi? Ya Anda juga tahu sendiri jawabannya. 

PKS semakin mangkel dengan Jokowi karena berkali-kali mereka ingin "dipinang" dan "ngupil" dengan Jokowi tapi dicuekin oleh "wong Solo" ini. Akhirnya, apa boleh buat, mereka pun kembali terpaksa mendukung si "capres gagal" yang dulu mereka pernah usung. Terpaksa karena si cawapres kini bukan dari kader yang mereka idam-idamkan.

Demi ingin kembali menikmati bakpao kekuasaan itu, PKS melakukan berbagai macam cara tipu daya, bukan hanya menipu manusia saja, demit dan Tuhan pun mereka kelabuhi, misalnya dengan "salat politik" yang amburadul itu.

Mari kita doakan bersama-sama, semoga kader-kader PKS segera tobat, mendapat hidayah, dan hijrah ke jalan yang benar. Amiiinnn (tanpa Rais, kalau Makruf boleh). [dutaislam.com/ab]
Loading...