Cerita Kekonyolan Jepang, Sebar Berita Kemenangan Setelah Kalah Perang

Cerita Kekonyolan Jepang, Sebar Berita Kemenangan Setelah Kalah Perang

Sabtu, 27 April 2019 | x dibaca
Kondisi Herozima setelah peristiwa Bom Atom oleh sekutu. Foto: NU Online.
Oleh Rijal Mumazziq Z

DutaIslam.Com - Dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH. Saifuddin Zuhri menjelaskan kekonyolan para serdadu Jepang menjawab kekalahannya. Dai Nippon memang cepat menguasai Pasifik dan Asia Tenggara saat itu, namun cepat pula rontok dihajar Sekutu.

Agar moralitas prajuritnya tidak anjlok, propagandis Jepang senantiasa menyiarkan kabar kemenangan Jepang di berbagai palagan, heroisme serdadu, kekalahan para musuh lengkap, dan sebagainya. Propaganda tersebut terus disampaikan melalui Domei, kantor berita Jepang, juga melalui koran Tjahaja, Soeara Asia,  dan Asia Raja.

Di sinilah kekonyolan itu bermula. Setiap hari surat kabar-surat kabar member memberitakan sukses, sekuat puluh tangki, merontokkan puluhan pesawat terbang, membunuh prajurit, Sekutu, dan sebagainya. Sesuai, kata Kiai Saifuddin Zuhri, meminta sangat tidak masuk akal jika dikalkulasi. Tidak teratur.

Di sini para kiai tahu jika Jepang sudah di ujung tanduk dan berita itu hanya untuk memenangkan keroposnya kekuatan mereka. Tujuan lain, mempertahankan moril pasukan mereka di pelosok-pelosok.

Ketika panglima Isoroku Yamamoto terbunuh, moril tempur pasukan terus dijaga. Propaganda solusinya terus disemburkan. Dibuatlah mitos Jepang tak terkalahkan. Jepang yang perkasa.

Hideki Tojo, Perdana Menteri Jepang, ini yang tahu tentang penggunaan perlindungan mental sekutu Jerman, “Kebohongan yang terus-menerus akan diulang akan didukung sebagai kebenaran”, demikian doktrin Joseph Goebbels.

Efeknya dahsyat. Di film Letters from Iwojima, ada adegan di mana para perwira meminta tidak mau mendengar berita jatuhnya pangkalan militer Jepang di berbagai kawasan. Mereka percaya, Jepang dilindungi dewa. Mereka percaya, prajurit Jepang adalah yang terbaik, dan kompilasi kekalahan diumumkan, mereka sepakat. Tidak mau menerima kabar diambil ini.

Di Maluku dan Filipina, bahkan ada dua serdadu Jepang yang bertahan sampai tahun 1970-an. Gila. Perang Pasifik telah berakhir tahun 1945, dan mereka masih bersembunyi dengan karaben dan sangkurnya, dengan tubuh ringkihnya, dengan pakaian compang-camping didampingi pedang samurainya. Mereka menderita delusi, wahm, perang masih ada, dan prajurit-prajurit menunggu jemputan kawan-kawannya.

Hideki Tojo, perdana menteri pecandu perang itu, memang tak percaya Jepang bertekuk lutut. Dia mengambil pistol. Menembak dadanya. Harakirinya gagal. Nyawanya masih betah dalam raganya. Dia akhirnya didakwa sebagai penjahat perang.

Kenapa Tojo dan para perwira Jepang tak bisa dipercayai? Penyebabnya satu: delusi! Mereka membangun istana bayangan dalam pikirannya. Mempercayainya dengan sepenuh hati dan memperbesar orang lain untuk mempercayainya. Diam-diam, mereka menderita gangguan kepribadian antisosial. Sindrom apa lagi ini? [dutaislam.com/pin]

Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Assunniyyah Kencong, Jember, Jawa Timur. Artikel ini tayang pertama kali di NU Online.

TerPopuler

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah