Tiga Ekspresi Takbir, Ekspresi Ketiga Menakutkan
Cari Berita

Advertisement

Tiga Ekspresi Takbir, Ekspresi Ketiga Menakutkan

Duta Islam #03
Rabu, 13 Maret 2019

Bung Tomo mengobarkan semangat dengan Takbir bagi rakyat Surabaya. Ilustrasi: Istimewa.
DutaIslam.Com - Takbir adalah ungkapan kebesaran yang tiada banding. Orang bertakbir "Allahu Akbar" berarti sedang mengakui kebesaran Allah. Tidak ada yang paling besar, kuasa dan segala-galanya, dibanding kebesaran Allah.

Tapi aneh, takbir yang semestinya menyadarkan manusia akan kebesaran Allah dan kekecilan dirinya justru menjadi semacam hantu yang menakutkan. Ini semestinya tidak terjadi. Tetapi nyatanya, ini terjadi dan kita sering mendengarnya.

Semua karena ekspresi orang dalam mengucapkan kalimat membesarkan Allah. Takbir dapat menentramkan hati, tetapi takbir sering kali digunakan untuk menipu dan membuat kekacauan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD punya pembagian menarik tentang ekspresi takbir dan kemungkinan pengaruhnya bagi orang lain. Disampaikan melalui akun Twitternya, Rabu (13/03/2019), Mahfud MD membaginya menjadi tiga bagian.

Pertama, Takbir yang menyejukkan. Contohnya, seperti yang dilantunkan dengan syahdu di pesantren-pesantren.

Santri yang mendengarkan Tabbir yang berkumandang di mushalla atau masjid langsung bergegas ke kamar mandi. Berwudhu dan kemudian melaksanakan shalat sebagai bentuk ketaatan, berserah, dan memasrahkan diri kepada Allah.

Takbir di dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha, juga termasuk di sini. Umat Islam merasa bergembira saat dua hari raya itu datang. Mengenakan baju bagus, bersama-sama berkumpul di masjid untuk mengagungkan Tuhan.

Kedua, Takbir yang menimbulkan semangat juang. Mahfud MD mencontohkan, Takbir yang teriakkan Bung Tomo tahun 1945. Takbir menjadi semangat perlawanan terhadap Belanda yang telah semena-mena terhadap masyarakat Indonesia. Takbir menjadi semangat juang melawan ketidakadilan.

Ini takbir yang positif, karena Islam tidak menghendaki kesewenang-wenangan. Islam anti tindakan yang tidak manusiawi, sebagai Belanda melakukannya kepada Rakyat Indonesia saat itu.

Ketiga, Takbir yang menakutkan. Contohnya, seperti yang dilakukan sejumlah orang, sambil mengejar-ngejar orang karena beda pilihan hidup. Takbir yang didengungkan karena beda pilihan politik. Takbir yang dilantunkan untuk menjual agama demi syahwat dunia dan kekuasaan.

Kita juga sering mendengar, para jihadis bom bunuh diri, juga mengumandangkan takbir sebelum membuat kekacauan dan kerusakan. Takbir tidak digunakan untuk menebar kedamaian, tetapi untuk menebar teror dan ketakutan.

Jangan karena menyebut nama Allah, lantas kita musti membabibuta memberikan pujian dan membelanya mati-matian. Karena Nabi Muhammaad mengenakan sorban, begitu juga Abu Jahal. Sama pakaian beda kelakuan. Jangan lihat bungkus tapi lihat isi. Jangan lihat pakaian, tapi lihatlah tindakan. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini