Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 120, Hubungan Muslim dan Non Muslim

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 120, Hubungan Muslim dan Non Muslim

Minggu, 17 Maret 2019 | x dibaca
Kandungan surat al-Baqarah ayat 120 (sumber: istimewa)
Tafsir Surat al-Baqarah ayat 120 berkaitan dengan hubungan Nabi Muhammad berserta Orang Yahudi dan Nashrani. Dalam Surat al-Baqarah ayat 120 dijelaskan bahwa Orang Yahudi dan Nashrani tidak suka kepada Nabi Muhammad.

DutaIslam. Com - Kertidaksukaan orang Yahudi dan Nashrani kepada Rasulullah SAW sebagaimana digambarkan dalam surat al-Baqarah ayat 120 secara sekilas berdasarkan perbedaan keyakinan. Orang-orang Yahudi dan Nashrani akan berhenti membenci Nabi Muhammad jika beliau mengikuti kehendak mereka.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dengan kamu untuk pergi ke millah mereka. Katakanlah:" Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk (yang benar) ". Dan sesungguh-sungguh kamu dapat mencari kemauan mereka kemudian cari datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. " (QS. al-Baqarah: 120)

Surat al-Baqarah ayat 120 seringkali dijadikan rujukan dalam membangun hubungan umat Islam dan non muslim. Akan tetapi, orang-orang yang menjadikan kandungan Surat al-Baqarah ayat 120 sebagai standar pola hubungan antar umat Islam dan non muslim tidak mengkaji terlebih dahulu maksud ayat tersebut secara komprehensif. Sehingga, ide moral Surat al-Baqarah ayat 120 belum tersentuh sama sekali.

Memahami maksud dari Surat al-Baqarah ayat 120 harus dilihat dari bebrbagai sudut pandang. Lantas, seperti apa maksud yang terkandung dalam ayat tersebut? Kalau melihat redaksi dari Surat al-Baqarah ayat 120, ayat tersebut ditujukkan secara khusus untuk Rasulullah SAW. Hal itu ditandai dengan penggunaan dhamir mukhotob dalam redaksinya "ka" (kamu).

Para mufassir memahami kata millah dalam Surat al-Baqarah ayat 120 mempunyai makna yang beragam. Imam at-Thabari memaknai kata millah adalah agama. Dan ini yang digunakan dalam terjemahan versi depag. Sedangkan menurut Imam al-Baghawi, kata millah bermakna jalan. Artinya, orang-orang Yahudi dan Nashrani menginginkan Rasulullah SAW agar mengingukuti jalan mereka, bukan agama mereka. Namun jalan seperti apa yang dimaksudkan sesuai konteks historis ayat tersebut?

Prof. Nadirsyah Hosen mengutip pendapatnya Imam at-Thabari dalam tafsir Jami' al-Bayan, Surat al-Baqarah ayat 120 berbicara tentang tugas Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, yang kepentingannya adalah ridha Allah SWT, bukan untuk menyenangkan orang Yahudi dan Nashrani.

Hal itu yang menyebabkan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak ada kecocokan dengan Nabi Muhammad. Sehingga, segala hal yang merupakan bagian dakwah Nabi Muhammad SAW, orang-orang Yahudi dan Nashrani akan menentangnya karena sesama mereka sendiri tidak cocok.

Orang Yahudi tidak cocok dengan Nashrani, pun demikian sebaliknya. Dakwah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan jalan berbagi kasih sayang bersama di bawah naungan Islam. Namun, mereka tidak mau menerima jalan yang ditawarkan Nabi Muhammad SAW. Mereka akan rela jika Nabi mau menjadi bagian dari Yahudi atau Nashrani.

Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan latarbelakang turunnya Surat al-Baqarah ayat 120. Apa yang membuat orang Yahudi dan Nashrani tidak suka dengan jalan yang dibawa Nabi Muhammad.

قوله عز وجل: ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم قل إن هدى الله هو الهدى, وذلك أنهم [كانوا يسألون النبي صلى الله عليه وسلم الهدنة ويطمعونه أنه إن أمهلهم اتبعوه, فأنزل الله تعالى هذه الآية, معناه أنك وإن هادنتهم فلا يرضون بها , وإنما يطلبون ذلك تعللا ولا يرضون منك إلا باتباع ملتهم, وقال ابن عباس رضي الله عنهما: هذا في القبلة, وذلك أن يهود المدينة ونصارى نجران كانوا يرجون النبي صلى الله عليه وسلم حين كان يصلي إلى قبلتهم, فلما صرف الله القبلة إلى الكعبة أيسوا منه أن يوافقهم على دينهم, فأنزل الله تعالى:

Mereka (Yahudi dan Nasrani) menawarkan genjatan kepada Nabi Muhammad SAW dan mereka berkomitmen untuk bergabung dengan beliau. Kemudian turunnlah surat al-Baqarah ayat 120 sebagai respon atas permintaan orang Yahudi dan Nashrani tersebut. Ayat tersebut bermakna bahwa andai rasulullah mau mengiyakan permintaannya, mereka tetap tidak akan suka kepada Nabi Muhammad. Sebab, tawaran genjatan senjata hanya dijadikan alibi saja, bukan menandakan kerelaan mereka. Point pentingnya adalah keinginan mereka agar Nabi Muhammad SAW mengikuti jalan yang mereka tempuh. 

Menurut Imam Ibnu Abbas Surat al-Baqarah ayat 120 berkaitan dengan permasalahan kiblat. Pada waktu itu, orang Yahudi Madinah dan Nashrani Najran menginginkan Nabi Muhammad SAW agar ketika shalat menghadap pada kiblat yang sama. Mereka merasa putus asa ketika Allah memerintahkan kembali Nabi Muhammad untuk menghadap ke Ka'bah. Lantas, Allah SWT menurunkan ayat tersebut.

Prof. Nadirsah Husain dalam nu.or.id, menguti Imam Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa Surat al-Baqarah ayat 120 hanya berkaitan dengan Yahudi Madinah dan Nashrani Najran. Artinya, yang dimaksudkan ayat ini adalah tidak semua orang Yahudi dan Nashrani membenci Umat Islam dan berharap umat Islam memeluk agama mereka. Dalam pandangan beliau, ayat ini sebagai penegaan kepada Nabi Muhammad agar dalam berdakwah tujuannya adalah mencari ridha Allah SWT. [dutaislam.com/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikianlah penjelasan tentang Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 120, Hubungan Muslim dan Non Muslim. Adapun Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 265, Perumpamaan Orang Bersedekah, silahkan baca dalam artikel di bawah ini.

TerPopuler

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah