"Stuntman" HTI Setelah Dibubarkan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

"Stuntman" HTI Setelah Dibubarkan

Duta Islam #02
Senin, 11 Maret 2019
Loading...

Ilustrasi "Stuntman" HTI. (Foto: istimewa)
Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Di Wikipedia pemeran pengganti (Inggris: stuntman) adalah seseorang yang menggantikan aktor/aktris utama dalam suatu adegan berbahaya, seperti melompat dari satu gedung ke gedung yang lain, ditembakkan dari sebuah meriam dan hal-hal sejenisnya, dan saat ini sudah menjadi salah satu cabang bidang karier yang cukup diminati. Aksi-aksi ini terlihat berbahaya namun sebenarnya sudah diperhitungkan dengan baik sehingga kalaupun terjadi suatu kecelakaan maka yang terjadi adalah luka-luka minimal.

Awal Rajab ini kita diramaikan dengan manuver politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI membuat beberapa lembaga pengganti peran mereka di tengah masyarakat. Sebut saja “stuntman” HTI. Setelah pintu pemulihan badan hukum HTI melalui jalur hukum formal terkunci rapat, ternyata HTI tidak menyerah. Mereka bertekad melanjutkan perjuangan. HTI membuat badan-badan otonom sesuai segmentasi objek dakwah. Ada segmen untuk ulama, dosen, mahasiswa, pelajar, dan perempuan, dll. Dulu semua segmen ini digarap dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia.

Dua badan otonom yang tetap digunakan HTI: Gema Pembebasan dan BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus). Gema Pembebasan organ fungsional HTI yang menggarap mahasiswa bergerak ekstra kampus, sedangkan BKLDK bergerak di dalam kampus melalui LDK-LDK yang berafiliasi ke HTI. HTI juga mempertahankan nama Media Umat untuk tabloid yang mereka terbitkan dan Al-Wa’ie untuk majalahnya. Adapun buletin jum’at, HTI mengganti nama (rename) dari Al-Islam menjadi Kaffah.

Organ otonom HTI yang lain adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat. LBH ini yang pertama kali mereka bentuk setelah badan hukum HTI dicabut. Lembaga ini berbentuk yayasan. Di ruang sidang pengadilan waktu mereka melakukan gugatan, LBH Pelita Umat berperan sebagai pendamping karena HTI menunjukkan LBH milik Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukum mereka. LBH Pelita Umat sangat aktif di luar persidangan. Layaknya HTI, mereka membuat  opini-opini melalui media sosial untuk mendukung posisi HTI dipersidangan.

Kini LBH Pelita Umat menjadi “stuntman” HTI di berbagai daerah. Dengan nama LBH, HTI lebih mudah mengurus perizinan acara. Dan orang awam sedikit takut menganggunya. Namanya juga “stuntman”, kegiatan LBH Pelita Umat tetap saja di bawah kendali petinggi HTI. Pengurus-pengurusnya juga anggota HTI. Dari nama program, isu yang diangkat, tema acara, diksi, narasumber dan pola gerakan LBH Pelita Umat, “HTI pisan”. Dengan cover LBH Pelita Umat, HTI bisa melanjutkan dakwahnya di ruang publik (masjid, gedung pertemuan, dll). Acara yang rutin mereka selenggarakan adalah Islamic Lawyer  Club (ILC). Kita semua sudah paham acara ini meniru ILC TVOne. Hanya isi dan narasumbernya yang berbeda.

HTI baru saja merilis badan otonom yang bernama Komunitas Royatul Islam (Karim). Nama Komunitas Royatul Islam pernah digunakan HTI Jabar waktu mereka mengadakan aksi di depan Gedung Sate. Karim menjadi perbincangan di media sosial karena mereka mempublis foto pelajar SMA sedang mendengar pengarahan di suatu ruang kelas dan halaqah dengan latar belakang bendera HTI. Ada juga testimoni dari Hafidz Abdurrahman alias M. Maghfur Wachid anggota senior HTI. Dia ketua umum HTI 2004-2010. Karim telah punya jaringan berbagai daerah. Pasti orang HTI yang adan di daerah.

Agustus tahun lalu saya sudah sampaikan ke teman-teman di grup DutaIslam.com, bahwa HTI tidak akan mati kalau para muassisnya masih bergerak bebas. (Baca: HTI Tidak Akan Mati Kalau Muassisnya Masih Bebas Bergerak) HTI belum bubar. Mereka masih solid. Jalur informasi dan komunikasi mereka dengan Amir Hizbut Tahrir tetap lancar. Halaqah-halaqah, kontak-kontak personal dan pengajian-pengajian umum berjalan seperti biasa sambil menunggu situasi politik yang kondusif bagi mereka muncul kembali dengan nama Hizbut Tahrir.

Mereka hanya tidak memiliki badan hukum sehingga gerakan mereka menjadi terbatas. Mereka tidak bisa lagi menggunakan nama HTI untuk mengadakan acara. Keterbatasan ini mereka siasati dengan membuat beberapa “stuntman”. Selain itu anggota HTI yang sudah menjadi figur publik dan memiliki lembaga dan komunitas, melanjutkan dakwah mereka dengan lembaga dan komunitas yang mereka bina.

Apapun nama “stuntman” yang dibuat HTI, dengan cepat akan tercium oleh masyarakat. Karena masyarakat sudah sangat familiar dengan ideologi, permainan opini, lemparan isu, diksi yang digunakan, pola gerakan dan aktor-aktornya, baik aktor lapangan maupun aktor intelektual HTI. Sesungguhnya tidak ada gunanya HTI melanjutkan perjuangan karena perjuangan HTI terbukti salah. Salah menurut hukum syara’ dan konstitusi negara. Kesalahan ajaran HTI telah dibuktikan di pengadilan yang imparsial, bebas dan terbuka di semua jenjang. Kesalahan HTI sudah qath’i.

Toh masyarakat yang menjadi sasaran dakwah HTI sudah mengenal mereka dan mereka sudah menolak dakwah HTI. Dakwah HTI sudah jenuh dan beku. Masyarakat sudah menutup pintu untuk HTI. Alangkah baiknya jika HTI ruju’ ila NKRI. NKRI bukan negara Islam melainkan negara Islami. Mari bangun NKRI agar menjadi negara yang kuat dan disegani dunia internasional. [dutaislam.com/gg]

Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar, Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010.

close
Banner iklan disini