Senin, 04 Maret 2019

Status Non Muslim dalam Negara Bangsa

makna kafir menurut pandangan islam

DutaIslam.com - Berikut ini adalah status non muslim yang dijadikan sebagai pertanyaan dalam bahtsul masail maudlu'iyah Munas Nahdlatul Ulama 2019 di Banjar. 

Pertanyaan:

  1. Bagaimana pandangan Islam menyikapi bentuk negara bangsa? 
  2. Bagaimana dengan status non-Muslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara?
  3. Bagaimana pandangan Islam tentang produk perundangan atau kebijakan negara yang dihasilkan oleh proses politik modern?
  4. Bagaimana sikap kita terhadap konflik-konflik di berbagai belahan dunia yang melibatkan kalangan Islam, baik di antara sesam muslim maupun dengan non-muslim?


Jawaban:
1. Pembahasan mengenai konsep negara bangsa masuk dalam kategori fikih siyasah sedangkan bidang siyasah masuk bagian kajian fikih mu’amalah. Dan dalam hal muamalat ini berlaku kaidah al-ashlu fil mu’amalah al-ibahah. Dengan demikian selama tidak ada dalil yang melarang, maka dianggap sah. Karena al-‘ilmu bi ‘adamid dalil dalil

قال ابن عقيل السياسة ما كان فعلا يكون معه الناس أقرب إلى الصلاح وأبعد عن الفساد وإن لم يضعه الرسول صلى الله عليه و سلم ولا نزل به وحي (ابن قيم الجوزية، الطرق الحكمية)

2. Status non-Muslim dalam negara bangsa adalah warga negara (muwathin/non-muslim silmi) yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan warga negara yang lain. Mereka tidak masuk dalam kategori-kategori kafir yang ada dalam fikih klasik, yakni mu’ahad, musta`man, dzimmi, dan harbi.

أن الإسلام أسس علاقة المسلمين بغيرهم على المسالمة لا على الحرب والقتال (بخيط المطيعي، تكملة المجموع، ج، 24، ص. 159)

قال ابن الصلاح: إن الأصل هو إبقاء الكفار وتقريرهم لأن الله تعالى ما أراد إفناء الخلق ولا خلقهم ليقتلوا وإنما أبيح قتلهم لعارض ضرر وجد منهم لا أن ذلك جزاء على كفرهم فإن دار الدنيا ليست دار جزاء بل الجزاء فى الأخرة (انظر وهبة الزحيلي، أثار الحرب) 

3. Produk UU atau kebijakan negara yang lahir dari proses politik modern adalah bagian dari kesepakatan anak bangsa. Jika produk tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka bersifat mengikat (mulzim syar’i) dan wajib ditaati. Sebaliknya, jika bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka umat Islam perlu meluruskannya dengan cara-cara konstitusional. Dan tidak boleh dijadikan alasan untuk melawan pemerintah yang sah. 

4. Merujuk rekomendasi Muktamar NU ke-32 di Makassar, sikap NU adalah memperjuangkan perdamaian.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (المائدة: 8)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَاهُ رَجُلَانِ فِي فِتْنَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَا إِنَّ النَّاسَ صَنَعُوا وَأَنْتَ ابْنُ عُمَرَ وَصَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَخْرُجَ فَقَالَ يَمْنَعُنِي أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ دَمَ أَخِي فَقَالَا أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ{ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ } فَقَالَ قَاتَلْنَا حَتَّى لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ وَكَانَ الدِّينُ لِلَّهِ وَأَنْتُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِغَيْرِ اللَّهِ (رواه البخاري)

Demikian status non muslim dalam pandangan fikih kenegaraan yang dibahas dalam Munas NU di Kota Banjar, Jawa Barat. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini